DPR Jamin Independensi Himbara di Tengah Koreksi Saham dan Tekanan Makro global

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meyakinkan para pelaku pasar modal bahwa pergerakan negatif saham-saham perbankan pelat merah belakangan ini tidak berkaitan dengan intervensi kebijakan orkestrasi program prioritas pemerintah. Komisi XI DPR memastikan tata kelola industri perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tetap berjalan independen dan profesional.

Jaminan Independensi dan Tata Kelola Ketat

Saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Rabu (15/7/2026), Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa segala bentuk penyaluran kredit oleh Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menopang program strategis nasional—seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih—tidak mendapatkan keistimewaan. Menurutnya, seluruh pembiayaan wajib tunduk pada regulasi komersial murni.

“Apabila Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengajukan pinjaman dalam kapasitasnya sebagai yayasan, hal itu memungkinkan untuk dicairkan. Namun, prosesnya harus melewati mekanisme penyaringan dan regulasi yang biasa berlaku,” ujar Misbakhun.

Langkah ini diambil guna meredam kecemasan para investor di pasar saham yang khawatir stabilitas likuiditas Himbara akan terganggu demi mendanai agenda strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. DPR bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah memasang sistem pengawasan berlapis. Badan supervisi OJK diinstruksikan untuk terus memetakan proyeksi risiko finansial secara berkala demi menjaga komitmen prudent banking.

Di sisi lain, parlemen mengimbau pasar untuk melihat potensi dampak ekonomi jangka panjang (multiplier effect) dari stimulus program-program riil ini di berbagai daerah. Pengawasan ketat yang dijalankan OJK pun diharapkan mampu meminimalisasi risiko pembengkakan beban sisa kredit, sehingga operasional perbankan tetap sehat meski ikut mengawal program pembangunan nasional.

Rapor Saham Himbara & Realitas Sentimen Makro

Meski otoritas menjamin keamanan fundamental perbankan, tekanan jual pada saham-saham Himbara terpantau masih cukup masif. Berdasarkan data perdagangan bursa hingga Kamis (16/7/2026) pukul 10.55 WIB, mayoritas saham bank pelat merah mencatatkan kinerja minor sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD).

Sebagaimana dihimpun dari laporan CNBC Indonesia dan Bisnis Indonesia, koreksi tajam yang dialami oleh sektor perbankan raksasa tanah air sebenarnya lebih banyak dipicu oleh dinamika makroekonomi global dan aksi ambil untung (profit taking) investor asing pasca-reli panjang pada tahun sebelumnya. Selain itu, volatilitas suku bunga global yang tinggi turut menahan laju likuiditas domestik, sehingga menjadi tantangan utama bagi Himbara dalam menjaga kualitas aset dan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tetap stabil di tengah masa transisi ekonomi.

Berikut adalah rincian performa saham Himbara secara YtD di tengah tekanan sentimen tersebut:

  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI): Memimpin pelemahan dengan koreksi tajam sebesar 22,13% ke level Rp2.850.

  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI): Menyusul dengan penurunan sebesar 20,37% menjadi Rp3.470.

  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI): Terkoreksi 16,47% hingga menyentuh harga Rp4.260.

  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN): Tampil sebagai anomali dengan tetap membukukan pertumbuhan positif sebesar 2,55% ke level Rp1.205. (Sn)

Scroll to Top