Jakarta|EGINDO.co Komisi XII DPR RI meminta pemerintah tidak bersikap reaktif dalam merespons tren penurunan harga minyak dunia. Penurunan harga saat ini dinilai tidak boleh ditafsirkan sebagai kondisi aman, melainkan harus dimanfaatkan sebagai peluang strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ratna Juwita Sari, menegaskan bahwa volatilitas geopolitik global masih menyimpan risiko besar terhadap stabilitas pasokan energi. Menurutnya, konflik kawasan dan ketegangan antarnegara produsen energi dapat dengan cepat membalikkan arah harga minyak global.
“Harga minyak yang sedang melemah bukan alasan untuk lengah. Justru ini momentum penting bagi negara untuk mengamankan pasokan dan meningkatkan cadangan energi, mengingat situasi geopolitik dunia masih jauh dari stabil,” ujar Ratna dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ia menilai kebijakan energi nasional seharusnya tidak hanya berfokus pada penyesuaian harga atau efisiensi fiskal jangka pendek. Pemerintah, kata Ratna, perlu menempatkan ketahanan energi sebagai prioritas utama guna mengantisipasi potensi lonjakan harga di masa mendatang.
Sejalan dengan itu, Ratna juga mengingatkan risiko ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak, terutama jika cadangan strategis nasional tidak diperkuat. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menekan stabilitas ekonomi apabila terjadi gejolak harga secara tiba-tiba.
“Pengelolaan cadangan energi harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. DPR perlu dilibatkan dalam pengawasan agar setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kepentingan nasional dan keberlanjutan ekonomi,” tegasnya.
Sebagai informasi, harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin (26/1/2026). Berdasarkan laporan Reuters, harga Brent turun 0,4 persen ke level US$65,59 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,7 persen menjadi US$60,63 per barel.
Sementara itu, Bloomberg mencatat pelemahan harga minyak turut dipengaruhi oleh kekhawatiran perlambatan permintaan global serta meningkatnya pasokan dari sejumlah negara produsen utama. Namun, analis menilai sentimen geopolitik tetap menjadi faktor dominan yang berpotensi memicu volatilitas harga dalam waktu dekat. (Sn)