Dolar Tertekan, Rupiah Berpeluang Kembali Menguat

Seorang petugas memegang uang rupiah di antara lembaran uang dolar AS di sebuah gerai valas.
Seorang petugas memegang uang rupiah di antara lembaran uang dolar AS di sebuah gerai valas.

Jakarta|EGINDO.co Rupiah berpeluang kembali menguat hari ini, akibat nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tertekan. Rupiah melemah 0,41 persen ke posisi Rp16.286 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu pekan ini.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra menganalisis penyebab dolar kembali melemah. Menurutnya, pasar merespons negatif data terbaru mengenai kondisi tenaga kerja di AS.

“Kalau melihat pergerakan dolar AS, saat ini kembali tertekan. Data tenaga kerja  Non-Farm Payrolls versi Automatic Data Processing (ADP) penambahannya di bawah ekspektasi,” katanya, Kamis (6/6/2024).

​Data Ketenagakerjaan Non-Pertanian adalah data perubahan jumlah tenaga kerja di sektor yang bukan industri pertanian. Melemahnya data ini di bulan Mei 2024 membuka peluang bagi penguatan rupiah.

Baca Juga :  Perseverance NASA Ungkap Bukti Baru Molekul Organik Di Mars

Ariston menambahkan, data ADP memperlihatkan  sektor swasta di AS menambah 152 ribu pekerja di bulan Mei. Jumlah terendah dalam empat bulan terakhir dan di bawah ramalan pasar sebesar 175 ribu pekerja.

“Secara keseluruhan, rupiah masih mengalami tekanan terhadap dolar AS. Disebabkan keraguan pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan AS belakangan ini,” ucap Ariston.

Ia melanjutkan, komentar petinggi the Fed dan notulen rapat moneter AS terakhir, justru membuka peluang kenaikan suku bunga. Selain itu, ada ketidakpastian ekonomi karena konflik di Timur Tengah dan Ukraina juga membantu penguatan dolar AS.

Menurutnya, ketidakpastian suku bunga AS dan konflik geopolitik yang masih memanas membuat investor masih memilih dolar AS. Karena mata uang dolar AS masih dianggap sebagai salah satu aset aman, selain emas.

Baca Juga :  Korut Menembak Peluru Artileri, Perintah Evakuasi Di Korsel

“Potensi penguatan hari ini ke arah Rp16.230. Sedangkan potensi resisten di kisaran Rp16.300 per dolar AS,” ujar Ariston menutup analisisnya.

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :