Diskusi dan Doa, Memperingati 100 Hari Wafatnya Jaya Arjuna, Buku Kenangan Diluncurkan

Diskusi dan doa dalam memperingati 100 hari wafatnya Ir. Jaya Arjuna, M.Sc
Diskusi dan doa dalam memperingati 100 hari wafatnya Ir. Jaya Arjuna, M.Sc

Medan | EGINDO.com – Diskusi dan doa dalam memperingati 100 hari wafatnya Ir. Jaya Arjuna, M.Sc dan buku kenangan tentang Jaya Arjuna diluncurkan pada Sabtu 18 April 2026 di Aula utama Perpustakaan Daerah & Arsip Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang diselenggarakan oleh Forum Sastrawan Deliserdang (Fosad).

Acara Diskusi dan Doa untuk memperingati 100 hari wafatnya seorang sastrawan besar Sumatera Utara, Jaya Arjuna dihadiri puluhan para aktivis lingkungan, para dosen, mahasiswa dan pelajar, para seniman/sastrawan, budayawan, teaterawan dan para pekerja seni itu dimulai dengan pembacaan surat pendek dan doa untuk almarhum Jaya Arjuna yang dipimpin Sekretaris Forum Sastrawan Deliserdang S. Satya Dharma.

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari adik dari almarhum mewakili keluarga dan juga dari istri almarhum Masnun Zen yang menyambut baik adanya acara memperingati 100 hari wafatnya Jaya Arjuna. Memperingati 100 hari wafatnya Jaya Arjuna diisi dengan pembacaan puisi karya Jaya Arjuna oleh sastrawan Sumatera Utara S. Suratman Suras.

Sebelum dilaksanakan diskusi memperingati 100 hari wafatnya Jaya Arjuna dilakukan peluncuran buku “Mengenang Sastrawan Insinyur Jaya Arjuna: Sang Penjaga Peradaban” yang disusun oleh S. Satya Dharma, dimana penasehat Forum Sastrawan Deliserdang Sulaiman Sambas menyerahkan kepada Masnun Zen isteri dari almarhum Jaya Arjuna dilanjutkan kepada Dr. Shafwan Hadi Umry, Ir. Awaluddin Thayab, M.Sc dan Ir. Fadmin Malau.

Penasehat Fosad Sulaiman Sambas menyerahkan Buku kepada Masnun Zen isteri almarhum Jaya Arjuna, kepada Dr. Shafwan Hadi Umry, Ir. Awaluddin Thayab, M.Sc dan Ir. Fadmin Malau

Buku “Jaya Arjuna: Sang Penjaga Peradaban” berisi rangkuman karya almarhum dan testimoni oleh sejumlah rekan dan kolega almarhum, baik semasa mahasiswa, semasa jadi aktivis maupun semasa jadi sastrawan. Semua testimoni itu diharapkan bisa memberi gambaran Jaya Arjuna kelahiran Bukittinggi, pada 7 Oktober 1953 dan wafat pada 2 Januari 2026 dalam usia 73 tahun. Selama hidupnya Bang Jaya, begitu dia suka dipanggil, tak pernah henti meneriakkan seruan moral untuk kebaikan lingkungan hidup dan peradaban manusia, baik melalui aksi-aksinya sebagai aktivis lingkungan hidup, sebagai dosen maupun sebagai sastrawan lewat karya-karya sastra yang ditulisnya.

Aktivis pecinta lingkungan itu juga dikenal para kalangan seniman. Sejak masih mahasiswa jurusan mesin di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Jaya Arjuna sudah terlibat dalam banyak sekali aktivitas terkait pelestarian lingkungan hidup dan kesenian. Dia adalah seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan salah seorang pendiri Korps Mahasiswa Pecinta Alam (Kompas) USU. Melanjutkan kecintaannya terhadap lingkungan hidup yang dipupuknya sejak masih mahasiswa itu, Jaya Arjuna bahkan akhirnya terjun total sebagai aktivis lingkungan dan bahkan melanjutkan pendidikan S2-nya terkait lingkungan itu di University Putra Malaysia.

Diskusi, dialog dan testimoni dihadiri isteri, adik, anak dan cucu almarhum Jaya Arjuna, para sastawan, budayawan Sumatera Utara dan sejumlah tokoh

Kisah itu terangkum dalam buku “Jaya Arjuna: Sang Penjaga Peradaban” yang kini sudah terbit. Sebuah buku yang mengisahkan jejak dan kiprah almarhum Jaya Arjuna, baik sebagai Sastrawan, sebagai aktivis mahasiswa, maupun sebagai pecinta lingkungan hidup dan di luar kampus, Jaya Arjuna juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif dan terlibat aktif dalam banyak sekali kegiatan kesenian yang berlangsung di Medan. Sampai akhir hayatnya, Jaya Arjuna bahkan masih tercatat sebagai anggota Majelis Kesenian Medan.

Dengan diluncurkan buku “Mengenang Sastrawan Insinyur Jaya Arjuna: Sang Penjaga Peradaban” itu dan berbekal dari buku tersebut dilakukan diskusi dengan menampilkan Sastrawan Dr. Shafwan Hadi Umry dan mantan Ketua Umum HMI Cab. Medan, Ir. Awaluddin Thayab, M.Sc yang dipandu sastrawam/wartawan, Ir. Fadmin Malau.

Diskusi, dialog dan testimoni tentang almarhum Jaya Arjuna, sastrawan insyiur sang penjaga peradaban itu yang dihadiri isteri, adik, anak dan cucu almarhum Jaya Arjuna itu juga dihadiri para sastawan, budayawan yang ada di Sumatera Utara yang juga para sahabat almarhum serta sejumlah tokoh seperti Prof. Dr. Zainul Fuad, Dr. Rosliani, M.Hum dan lainnya.@

M.Yas/TimEGINDO.com

Scroll to Top