Catatan: Ir. Fadmin Malau
Serayu Group akan menanam Padi Gogo dengan tanaman kayu Pohon Balsa seluas 48 hektar di Desa Cipasung, Kecamatan Lemah Sugih, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Hal itu dikatakan Direktur utama (Dirut) Serayu Group, Hasan Tjoa kepada EGINDO.com.
Dikatakannya, perihal tentang menanam Padi Gogo dengan tanaman kayu Pohon Balsa seluas 48 hektar itu sudah dilakukan survey lapangan buat kedua kalinya untuk mematangkan program rencana penanaman kayu Pohon Balsa dengan system tumpangsari dengan tanaman pangan yakni padi Gogo. Menurut direktur utama PT Serayu Group Hasan Tjoa yang saat melakukan survei kedua terhadap lahan yang akan ditanami Padi Gogo.
Hasan Tjoa didampingi putranya Darius dan juga tim ahli tanaman padi gogo yakni Toni Saritua Purba alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor serta turut para jajaran direksi, dan karyawan PT Serayu Grup yakni Direktur Operasional PT Serayu Group Cun Hok, General Manajer PT Serayu Group Benediktus Dwi Arianto, Manajer Engineering PT Serayu Group Imam Suri, Humas Serayu Group Ikhsan dan karyawati PT Serayu Group Ruminah dan Kelompok Tani Kang Ade.
Survei kedua terhadap lahan yang akan ditanami Padi Gogo itu dilakukan pada Selasa 28 Juli 2026 lalu dimana merupakan kunjungan kerja kedua kalinya ke lahan subur seluas 48 hektar milik PT Serayu Grup di Desa Cipasung, Kecamatan Lemah Sugih, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.

Adapun tujuan dalam kunjungan kerja direktur utama PT Serayu Grup bersama jajaran direksi dan tim ahli tanaman Padi Gogo tersebut adalah dalam rangka meninjau sekaligus memastikan sehamparan lahan subuh berbukit yang luasnya 48 hektar milik PT Serayu Grup yang letaknya berada di ketinggian 1000 mdpl di Bukit Desa Cipasung Kecamatan Lemah Sugi Kabupaten Majalengka tersebut rencananya segera dimanfaatkan untuk penanaman pohon kayu Balsa dengan metode tumpangsari tanaman pangan yakni padi gogo, jagung, kedelai, dan jenis palawija lainnya.
Adapun rangkaian kunjungan kedua menurut catatan EGINDO.com bahwa yang pertama telah melihat tanaman jagung yang sudah panen dimana pada kunjungan pertama dilakukan penanaman. “Kita rencana habis ini akan ada pengolahan lahan. Rencana kita ya awal musim hujan nanti pada bulan November mungkin atau Oktober kita lihat nanti cuaca. Kita akan nanam padi Gogo disini dengan total luas 48 hektar, nanti kita uji dulu untuk 10 hektar,” kata Toni Saritua Purba.
Dijelaskannya bahwa menurut para petani di Majalengka duhulu sudah ditanam padi Gogo yang merupakan padi Huma akan tetapi berbeda dengan yang akan dilakukan Serayu Group. “Bedanya kalau dulu para petani disini panennya lama yakni 6 bulan hingga 7 bulan. Sekarang dari IPB sudah ada varitas yang dalam 3 bulan bisa panen dan juga hasil panennya kalau dulu masyarakat disini paling 1 atau 2 ton. Sekarang kita bisa 4, 5, dan bahkan 6 ton. Jadi saya dengan Pak Hasan kesini survei yang kedua yakni persiapan pengolahan lahan. Kita harus olah lahan pada Agustus 2026,” kata Toni Saritua Purba.

Dijelaskannya untuk pengolahan lahan dengan traktor butuh waktu kurang lebih satu bulan, setelah itu baru mulai penanaman. “Kalau ngelihat cuaca dan informasi dari BMKG akan ada kemarau panjang maka paling lambat bulan November 2026 sudah nanam dan nanti juga ada penanaman tanaman pohon Balsa dan termasuk tanaman pangannya yakni padi Gogo dan Jagung,” kata Purba menambahkan. “Nah tujuan kita sebenarnya sederhana ya. Ini kan daerah pegunungan jadi bagaimanapun disini defisit beras. Kita ingin warga desa disini bisa menanam padi dan mereka tidak perlu lagi membeli beras dari daerah lain,” katanya menegaskan.
Sementara itu pada waktu yang bersamaan Mak Ruminah seorang petani padi Gogo mengapresiasi program yang akan dilakukan Serayu Group. Alasan diapresiasinya tanaman padi Gogo sebab di Desa Bangbang para petani kalau menanam padi Gogo harus menanti panen sebelas bulan 11 dan paling cepat 10 bulan.
Mak Ruminah juga mendukung penanaman pohon kayu Balsa sebagai tanaman pelindung, “Saya dukung seratus persern sebab tanaman pohon kayu Balsa dapat menyuburkan tanah dan menimbulkan mata air dan itu sangat terbantu. Saya dari tahun 2013 sampai sekarang ini telah menanam padi Gogo,” kata Mak Ruminah.
Dirut Serayu Groub Hasan Tjoa di Desa Bangbayar mengatakan akan melakukan menanam padi Gogo lebih kurang 48 hektar. “Saya bersama Pak Toni sudah survei kedua kali rencananya akan menanam padi Gogo lebih kurang 10 hektar kemudian akan tanam jagung dan pohon pelindungnya kita akan tanam kayu Balsa dan Apokat. Jadi sebagai percontohan nantinya bahwasanya kedepannya nanti di Kecamatan Lemah Sugi Lemah Sugi khususnya dan Kabupaten Majalengka sudah tidak perlu lagi beli beras dari kabupaten lain. Nah, ini percontohan ini kiranya bisa berjalan sesuai rencana,” kata Hasan Tjoa.

Diharapkannya nanti di desa-desa lain juga bisa menanam padi Gogo dengan tanam Pohon Balsa atau dengan system tumpangsari yang nantinya banyak jenis tanaman yang lainnya seperti jagung bisa dilakukan, manfaatnya banyak.
“Hal yang pasti dapat menjaga iklim. Kita ketahui bahwasanya panas kini sudah luar biasa. Di Eropa, Amerika dan India panasnya sampai 40 sampai 48 derajat. Siklus ini bisa mutar sampai ke Indonesia. Cuma di Indonesia ini kan panasnya lembab. Jadi kita harus segera melakukan penanaman pohon untuk melindungi iklim kita, bumi kita. sekaligus tumpang sarinya pangan untuk membantu pemerintah Indonesia ke depannya supaya bisa suasembada pangan di dunia,” kata Hasan Tjoa optimis.
Menurutnya harus optimis sebab pada intinya penanaman padi Gogo dengan tumpangsari tanaman Pohon Kayu Balsa dan juga tanaman padi Gogo. “Kita ketahui bahwa untuk semua presiden pernah panen padi sawah. Tapi untuk padi Gogo sampai detik ini masih belum. Karena mungkin benih teknik waktu yang lama dan tidak luas. Karena ini penemuan dari Pak Toni Purba ini 95 hari sudah bisa panen dengan metode sistem dari beliau,” kata Hasan Tjoa menjelaskan tentang belum pernah presiden Indonesia panen padi Gogo.
Hasan Tjoa optimis dan kedepannya tanaman Padi Gogo bisa sebagai percontohan untuk HPH dan PBPH dimana bisa dilakukan penanaman padi Gogo karena biayanya juga lebih murah karena tidak perlu membuat irigasi. “Kalau padi sawah perlu irigasi. Jadi ada perbedaan disana,” katanya.
Sementara itu menurut Toni Saritua Purba bahwa Padi Gogo memiliki kadar gulanya lebih rendah dibandingkan dengan padi sawah. Kemudian protein padi Gogo lebih tinggi maka khusus untuk para penderita penyakit diabet memakan Padi Gogo paling bagus.
“Untuk penanaman perdana kita tanamkan 10 hektar dan akan bertambah terus. Membuka yang pertaman ini padi Gogonya ada 10 hektar kemudian akan terus ditanam sampai habis di area kita semuanya. Mudah-mudahan ini percontohan kalau nanti pemerintah hadir dan melihat disini tentang adanya tanaman tumpangsari Padi Gogo dengan tanaman kayu Balsa supaya pemerintah bisa memberi instruksi kepada pemegang PBPH maupun HPH untuk tanam. Jadi kedepannya bisa menjadi swasembada beras untuk dunia karena area hutan kita cukup luas sekali dan ada yang tidak bermanfaat. Area-area nggak bermanfaat itu bisa dilakukan ini. Terima kasih. Desa Cipasung Kecamatan Lemasuki Kabupaten Majalengka mau menanam padi Gogo yang punya lahan luar biasa,” kata Hasan Tjoa menegaskan.@
***