Shanghai | EGINDO.co – Kendaraan ini senyap, cepat, dan terkadang melaju terlalu dekat hingga membuat orang merasa tidak nyaman.
Sepeda listrik yang dijalankan dengan tuas gas (throttle) dibatasi atau dilarang di banyak wilayah hukum, namun kendaraan ini merupakan pemandangan sehari-hari di Shanghai.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, kehadiran kendaraan yang nyaris tanpa suara ini mungkin memerlukan waktu untuk membiasakan diri. Namun, di berbagai kota di Tiongkok, kendaraan semacam itu telah menjadi bagian dari infrastruktur yang menunjang kelancaran aktivitas sehari-hari.
Kendaraan ini banyak digunakan untuk layanan pengiriman tahap akhir (*last-mile delivery*), mengangkut segala hal mulai dari kopi dan makanan hingga bahan makanan, obat-obatan, dan perlengkapan rumah tangga, dengan biaya murah dan waktu tempuh hanya dalam hitungan menit.
Kepraktisannya tidak hanya dirasakan oleh para kurir pengantar barang.
Transportasi Murah dan Praktis
Sven Weckmann, warga negara Jerman yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan *e-commerce* Tiongkok, mengendarai skuter listrik untuk berangkat kerja.
“Ini benar-benar cara yang bagus untuk bepergian, karena jauh lebih cepat daripada bersepeda biasa dan cuaca di sini sangat panas. Kendaraan ini juga lebih cepat daripada mobil karena saat jam sibuk sering terjadi kemacetan. Namun, jika menggunakan skuter, Anda bisa langsung melaju,” ujarnya.
Bagi Weckmann, ada keuntungan praktis lainnya: parkir gratis dan mudah ditemukan, sementara proses agar kendaraannya bisa digunakan di jalan raya juga relatif sederhana.
“Anda pergi ke toko, mengajukan permohonan, menunggu mungkin dua atau tiga hari, lalu membayar 200 yuan—sekitar 30 dolar AS. Dan *boom*, Anda sudah mendapatkan pelat nomor dan siap untuk berkendara.”
Kemudahan tersebut tercipta karena sepeda listrik terdaftar yang memenuhi standar nasional Tiongkok diperlakukan lebih layaknya sepeda biasa daripada sepeda motor.
Salah satu syarat utamanya adalah kecepatan rancangan maksimum 25 km/jam. Pengendara sepeda listrik yang memenuhi ketentuan ini juga tidak perlu mengikuti kursus mengemudi atau lulus ujian mengemudi.
Klasifikasi tersebut, serta kemudahan dalam penggunaannya, telah membantu menciptakan pasar domestik yang sangat besar bagi sepeda listrik.
Menurut perusahaan riset pasar GEP Research, sekitar 68 juta unit terjual di Tiongkok pada tahun 2025—mencakup hampir 57 persen dari total penjualan sepeda listrik secara global. Pihak regulator juga memperketat standar keselamatan nasional tahun lalu, dengan memperkuat persyaratan terkait baterai, ketahanan terhadap api, dan perlindungan terhadap modifikasi.
Persaingan sengit di dalam negeri juga menekan produsen untuk meningkatkan kualitas produk mereka.
Weckmann mengatakan bahwa kinerja baterai merupakan salah satu aspek di mana produsen Tiongkok telah menunjukkan hasil yang baik.
“Mereka sangat unggul dalam hal baterai… dan masalah utama pada skuter adalah kebutuhan akan baterai yang bagus. Jika harus mengisi daya setiap hari, itu tentu tidak praktis,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kendaraannya hanya perlu diisi daya sekitar sekali setiap empat hari, meskipun ia menempuh perjalanan sejauh 7 km untuk pergi-pulang setiap harinya.
Namun, pasar sepeda listrik di Tiongkok sudah tergolong matang, sehingga pembelian untuk penggantian unit lama menjadi semakin penting bagi angka penjualan. Lesunya konsumsi domestik juga mendorong produsen untuk mencari peluang pertumbuhan di luar negeri.
Beradaptasi dengan Berbagai Pasar
Berbeda dengan mobil listrik yang mendapat keuntungan dari kerangka kerja internasional yang sudah mapan untuk penyelarasan standar kendaraan, produsen sepeda listrik Tiongkok harus menghadapi lanskap regulasi yang lebih beragam dan terfragmentasi di luar negeri.
Di Singapura, misalnya, sepeda listrik yang dijalankan dengan tuas gas (*throttle*) tidak diperbolehkan. Sepeda dengan bantuan tenaga motor (*power-assisted bicycles*) hanya boleh memberikan bantuan motor saat pengendara sedang mengayuh pedal.
Jepang, Prancis, dan Jerman juga mengatur jenis sepeda listrik apa yang boleh digunakan di jalan raya, dengan persyaratan yang berbeda-beda di setiap pasar, sementara Hong Kong saat ini tidak mengizinkan penggunaan sepeda listrik di jalan raya.
Dalam sebuah pameran industri yang digelar pada awal Agustus di kota Yiwu, Tiongkok timur, berbagai perusahaan memamerkan model-model yang disesuaikan untuk pasar yang berbeda, mencerminkan perbedaan regulasi dan kondisi medan berkendara.
Oscar Zheng, manajer umum pusat perdagangan internasional di perusahaan kendaraan listrik Zhejiang LVJU Vehicle Industry, mengatakan bahwa produsen harus menyesuaikan produk mereka untuk masing-masing pasar.
“Di Uni Eropa, terdapat persyaratan yang relatif ketat bagi kendaraan roda dua listrik terkait kecepatan, motor penggerak, dan sertifikasi. Di Brasil, misalnya, ada aturan berbeda untuk aspek-aspek seperti jarak sumbu roda, setang, dan sistem kendali elektronik,” ujarnya.
“Jadi, kami mengonfigurasi produk untuk berbagai negara agar memenuhi persyaratan tersebut. Kami juga menyesuaikan produk dengan kondisi lingkungan yang berbeda, seperti medan berbukit dan iklim kering.”
Potensi pasar ekspor tergolong besar, khususnya di Asia, tempat sepeda motor berbahan bakar bensin masih mendominasi jalanan.
Upaya untuk mengurangi polusi dan emisi karbon, ditambah dengan kekhawatiran mengenai harga minyak di tengah ketegangan di Timur Tengah, turut mendorong permintaan akan alternatif kendaraan listrik.
Tiongkok telah mendominasi produksi global. Surat kabar *International Business Daily* di negara tersebut memperkirakan bahwa setidaknya dua dari setiap tiga sepeda listrik (*e-bike*) di seluruh dunia diproduksi di sana.
Meskipun sebagian besar produk tersebut masih dijual di dalam negeri, angka penjualan ke luar negeri terus meningkat.
Menurut data bea cukai Tiongkok, ekspor sepeda listrik melonjak 31,5 persen secara tahunan pada semester pertama tahun 2026—lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan ekspor negara tersebut secara keseluruhan.
Zheng menyatakan bahwa keunggulan manufaktur Tiongkok tidak hanya terletak pada skala produksi, tetapi juga mencakup rantai pasokannya yang luas.
“Keunggulan rantai pasok Tiongkok bukan sekadar skala industri yang mencapai 50 hingga 60 juta unit per tahun. Sistem layanan, dukungan suku cadang, dan pengendalian kualitasnya kini juga berada dalam kondisi yang sangat baik,” ujarnya.
Sumber : CNA/SL