Jakarta | EGINDO.com – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menggeser haluan bisnisnya dengan beralih dari ketergantungan pada sektor batu bara menuju ekosistem digital dan energi terbarukan. Langkah strategis ini mencakup penggabungan layanan internet (seperti merger MyRepublic dan MORA) serta percepatan pembangunan infrastruktur data center.
Sementara itu saham DSSA, emiten dari Group Sinarmas, menjadi saham yang paling banyak dijual oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir ini. Tercatat transaksi jual bersih (net sell) saham DSSA sebesar Rp 838,6 miliar dalam sepekan terakhir.
Kemudian Net sell asing pada saham DSSA merupakan yang terbesar, diikuti saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Net sell asing pada saham AMMN sebesar Rp 630,2 miliar dan BUMI senilai Rp 553,3 miliar.
Dari pantauan saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) terakhir ini berusaha bangkit selepas didepak dari indeks MSCI Global Standard sehingga kalangan broker memandang positif saham emiten Group Sinarmas. Selain itu, DSSA telah membentuk perusahaan patungan dengan First Gen untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik geotermal 460 megawatt (MW) dengan target operasi komersial pada 2020. Net present value proyek ini ditaksir US$ 895 juta dengan IRR 11%.
Lalu ekspansi ke bisnis telekomunikasi, teknologi, dan geotermal akan menaikkan nilai pasar yang bisa digarap DSSA menjadi US$ 76 miliar dari US$ 33 miliar dimana DSSA menata kembali portofolio bisnisnya dengan mengonsolidasikan ekosistem telekomunikasi dan teknologi milik induknya yakni Group Sinarmas. Konsolidasi ini menandai bergesernya haluan DSSA dari sebelumnya bergantung pada bisnis batu bara, kini secara bertahap mengarah ke bisnis yang lebih tahan banting.
Perubahan haluan bisnis tersebut tercermin dari manuver DSSA yang akan menjadi penerima manfaat akhir dari perusahaan kabel serat optik laut dan terestrial (darat), PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), setelah diakuisisi PT Inti Mas Bangun Sejahtera (IMBS) selaku afiliasi Grup Sinar Mas. Tender offer sukarela (voluntary tender offer/VTO) akuisisi 35% saham KETR ini dibanderol pada harga Rp523 per saham dan dijadwalkan berlangsung pada 28 Juli hingga 26 Agustus 2026.
Menjadi catatan penting, ekspansi DSSA ke sektor bisnis teknologi tersebut akan memperluas garapan pasar (Total Addressable Market/TAM) perseroan. Sucor mengestimasi, TAM perseroan dari pasar telekomunikasi dan teknologi akan mencapai US$33 miliar yang mayoritas dikontribusikan dari PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA). Tidak itu saja, jika dikonsolidasikan dengan TAM dari sektor bisnis batu bara sebesar US$33 miliar dan panas bumi (geothermal), TAM emiten bersandi saham DSSA tersebut akan melompat dua kali lipat menjadi US$76 miliar.@
Bs/timEGINDO.com