Dialog Sastra Guru dan Sastrawan Fosad; Banyak Menulis Surat dengan Diksi yang Salah

Tiga pembicara, Dr. Shafwan Hadi Umry, Saripuddin Lubis, M.Pd dan Dra. Sri Kartini Handayani, dengan moderator, Khairuddin Ibrahim Harahap
Tiga pembicara, Dr. Shafwan Hadi Umry, Saripuddin Lubis, M.Pd dan Dra. Sri Kartini Handayani, dengan moderator, Khairuddin Ibrahim Harahap

Medan | EGINDO.com – Masih banyak yang menulis dalam bahasa Indonesia dengan diksi atau pemilihan kata yang salah. Baik ketika menulis surat, menulis pengumuman dan lainnya. Pemilihan diksi yang salah membuat makna menjadi salah.

Hal itu diungkapkan Dr. Shafwan Hadi Umry pada acara Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan yang diberi tajuk “Menyemai Kembali Pembelajaran Sastra di Sekolah” pada Sabtu (8/11/2025) di Aula Perpustakaan dan Arsip Daerah Sumut, jalan Brigjen Katamso, Medan Provinsi Sumatera Utara.

Dalam menulis surat banyak pemilihan diksi yang tidak tepat sehingga menimbulkan makna yang salah. Pemilihan diksi dalam menulis surat sangat penting agar apa yang ditulis tepat maknanya, begitu juga menulis pengumuman sehingga tepat maknanya. “Banyak yang menulis ‘rumah ini mau dijual’ adalah salah maka rumahnya tidak jadi terjual,” kata Shafwan Hadi Umry.

Dijelaskannya, rumah tidak memiliki perasaan jadi tidak tepat dipakai kata rumah ini mau dijual. Harusnya kata mau dijual diganti dengan kata akan dijual. Banyak kata-kata yang tidak tepat dalam penulisan Bahasa Indonesia dan itu perlu diperbaikan, diluruskan sehingga pemiihan diksi yang tepat.

Tentang penulisan surat, penulisan pengumuman dan juga dalam pemberitaan di media Dr. Safwan menyebut almarhum Drs. Sabaruddin Ahmad, sangat peduli tentang itu. Menurutnya Sabaruddin Ahmad dijuluki sebagai “preman” bahasa di kota Medan, Sumut kala itu.

“Beliau orang yang sering merepet jika mendapati pemakaian bahasa Indonesia yang tidak pas atau tidak tepat, terutama dalam pemakaian bahasa surat resmi dari sebuah instansi pemerintah,” kata Shafwan Hadi Umry.

Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan itu dalam rangka menyemarakkan bulan Bahasa sekaligus mengenang kiprah sejumlah tokoh pendidik yang berjasa dalam pembelajaran bahasa dan sastra di Sumatera Utara itu dilaksanakan Forum Sastrawan Deli Serdang (Fosad) bekerjasama dengan Perpustakaan dan Arsip Daerah Sumatera Utara (Sumut).

Saripuddin Lubis, M.Pd pemateri Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan berbagi pengalaman sebagai guru dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah

Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan dengan materi pembelajaran sastra di sekolah, berkait dengan tiga orang tokoh penting dalam sejarah pembelajaran Bahasa dan Sastra di Propinsi Sumatera Utara, yakni almarhum Drs. Sabaruddin Ahmad, Almarhum H. Ahmad Zaini Nasution dan almarhum Drs. Ahmad Samin Siregar.

Dialog menghadirkan tiga orang pembicara yakni Dr. Shafwan Hadi Umry, Saripuddin Lubis, M.Pd dan Dra. Sri Kartini Handayani, dengan moderator, Khairuddin Ibrahim Harahap.

Hadir pada acara Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan itu para dedengkot sastrawan Sumut yakni Sulaiman Sambas, Choking Susilo Sakeh, T. Zainuddin, M. Yunus Rangkuti, Sugeng Setya Dharma, Fadmin P Malau, Jaya Arjuna, Nevatuhella, Nasib TS, S. Ratman Suras, Mansyur Nasution, Wirja Taufan, Siamir Marulafau dan para guru Bahasa Indonesia, violinis Wan Syarifuddin Lubis serta para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi favorit di Sumut.@

Fd/timEGINDO.com

Scroll to Top