Data BPS Perlu Dijadikan Indikator Alokasi Solar Subsidi

ilustrasi SPBU
ilustrasi SPBU

Jakarta | EGINDO.com    – Pertumbuhan ekonomi Indonesia meroket dari triwulan I-2021 sebesar -0,71 persen menjadi 7,07 persen pada triwulan II-2021, dimana pertumbuhan ini ditopang oleh usaha transportasi dan pergudangan sebesar 25,10 persen dan ekspor barang dan jasa 31,78 persen.

Kalau melihat peta pertumbuhan ekonomi tersebut, bahwa Pulau Jawa berkontribusi sebesar 57,92 persen dengan pertumbuhan 7,88 persen serta Sumatra berkontribusi 21,73 persen dengan pertumbuhan 5,27 persen.

Maka sangat jelas bahwa mobilitas distribusi barang sangat tinggi kenaikan-nya dari triwulan sebelumnya.

Sayangnya data BPS tersebut diatas yang dirilis pada tanggal 5 Agustus 2021 tidak diimbangi dengan kesiapan BBM solar dijalur distribusi tersebut, baik di pulau Jawa maupun Sumatra.

Padahal mobilitas-nya tinggi dan menyebabkan terjadinya kelangkaan BBM solar.

“Apakah Pertamina tidak mencermati data BPS tersebut? sehingga terlambat mengantisipasi lonjakan kebutuhan BBM solar di beberapa daerah yang dilalui kendaraan truk pengangkut baik di Jawa maupun Sumatera,” kata politikus Partai Hanura Inas N Zubir dalam keterangannya, Senin (25/10/2021).

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI 2017-2019 ini menyebut, lonjakan kebutuhan BBM solar akibat meningkatnya mobilitas angkutan barang dijalur distribusi tersebut pada awal bulan September dan Oktober 2021.

Hal itu menyebabkan kelangkaaan BBM Solar di beberapa jalur distribusi di pulau Jawa dan Sumatra

Menurut Inas, pabila Pertamina belum menjadikan data BPS tersebut sebagai indikator alokasi BBM solar subsidi yang banyak digunakan oleh truk pengangkut barang kebutuhan masyarakat, maka tidak ada salahnya jika Pertamina mulai menjadikan data BPS ini sebagai salah satu indikator dalam menentukan alokasi BBM solar disetiap daerah dan memberikan perhatian khusus pada jalur distribusi barang di pulau Jawa dan Sumatra.

Baca Juga :  RI Surplus Ada Penguatan Fundamental Pemulihan Ekonomi

“Agar antrian kendaraan truk pengangkut barang tidak terjadi lagi,” tambahnya.

Sumber: Tribunnews/Sn

 

Bagikan :