Medan | EGINDO.com – PT Panin Sekuritas (PANS) menilai bahwa imbas ketidakpastian mengenai seberapa lama dan besar dampak disrupsi Selat Hormuz membuat pasar tengah menghadapi volatilitas yang cukup tinggi. Di tengah kondisi tersebut, portofolio bulanan PANS kembali mampu mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dengan kinerja -10,7% secara bulanan (MoM) pada Maret 2026, dibandingkan IHSG yang turun -14,4% MoM, dengan geometric return sebesar -0,01% (IHSG: -18,5%).
“Ekspektasi pasar sempat memperkirakan tidak adanya pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Kendati demikian, pada FOMC Maret 2026, The Fed tetap menahan suku bunga di level 3,50—3,75%,” kata Business Development PANS Cabang Medan, Darmin, S.E., MBA, pada Jumat (3/4/2026) kepada EGINDO.com.
Proyeksi terbaru The Fed, lanjutnya, masih mempertahankan peluang satu kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2026. Hal ini juga sejalan dengan ekspektasi inflasi jangka panjang AS yang masih terjaga, terlihat dari tren breakeven 5y5y US inflation serta pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell.
Beralih ke rilis data, inflasi inti PCE AS per Februari 2026 tercatat naik menjadi +3,1% YoY dari sebelumnya +3,0% YoY (konsensus: +3,1% YoY). Sementara itu, PDB AS annualized kuartal IV 2025 direvisi turun signifikan menjadi +0,7% QoQ dari pre-revisi +1,4% QoQ dan sebelumnya +4,4% QoQ. Hal ini mencerminkan risiko stagflasi AS, meskipun belum benar-benar terjadi.
Sebulan terakhir, terjadi rotasi menuju aset safe haven yang cukup signifikan akibat meningkatnya tensi Iran dengan AS–Israel, yang ditandai dengan menguatnya US Dollar dan aliran modal ke US Treasuries (UST).
Di tengah global supply shock, khususnya pada minyak, Indonesia relatif rentan mengingat ketergantungannya yang masih tinggi terhadap impor energi. Berdasarkan data tahun 2025, konsumsi BBM sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara asumsi APBN 2026 menunjukkan produksi domestik sekitar 0,61 juta barel per hari. Artinya, sekitar 60–62% kebutuhan minyak Indonesia dipenuhi melalui impor.
Hal ini mencerminkan ketergantungan eksternal yang masih cukup signifikan terhadap pasokan energi global, meskipun ketergantungan terhadap minyak dari Selat Hormuz relatif lebih rendah dibandingkan beberapa negara peers di Asia.
Potensi tekanan inflasi yang masih berada di atas target Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5±1% YoY, serta volatilitas nilai tukar yang terjadi, membuat kondisi makro kurang akomodatif terhadap pasar keuangan saat ini.
Leading indicator seperti PMI Manufaktur mencatatkan perlambatan ekspansi yang signifikan, di mana PMI Maret 2026 turun menjadi 50,1 dari sebelumnya 53,8. Selain itu, BI kembali menahan suku bunga di level 4,75% pada Maret 2026, menegaskan prioritas terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.
Dari sisi fiskal, pemerintah juga cenderung lebih konservatif melalui penghematan belanja negara guna membatasi level utang pemerintah, dengan fokus pada penyesuaian belanja subsidi untuk mengontrol harga BBM domestik dan pangan. Pada Maret 2026, IHSG melemah signifikan sebesar -14,4% MoM, dipicu meningkatnya tensi geopolitik, kekhawatiran penurunan rating obligasi Indonesia seiring defisit fiskal yang melebar, serta sikap wait and see terhadap kebijakan regulator terkait penyesuaian MSCI.
Untuk periode April 2026, PANS merekomendasikan saham BBTN, ELSA, BRMS, JPFA, MEDC, BUMI, dan MDKA. “Kami masih berhati-hati terhadap saham konglomerasi yang telah naik signifikan sejak Oktober 2023, dengan valuasi yang mahal serta free float yang relatif rendah, sebagaimana dibahas dalam report ‘Party is Over’,” kata Darmin menjelaskan.
Selain itu, potensi koreksi pada saham dengan free float <15% juga dapat dilihat dalam laporan “Regulatory Reform”. Pemerintah juga baru mengumumkan regulasi free float, di mana untuk market cap ≥ Rp5 triliun wajib memiliki free float 12,5% pada Maret 2027 dan 15% pada Maret 2028. Sementara itu, untuk market cap <Rp5 triliun diberikan kelonggaran hingga Maret 2029.
Seluruh sektor terkoreksi cukup dalam. Indeks IDXCYC turun -19,8% MoM akibat koreksi pada saham VKTR. Selain itu, IDXBASIC juga turun -19,5% MoM seiring potensi resesi yang menyebabkan harga komoditas nikel, timah, dan tembaga terkoreksi, serta melemahnya harga emas akibat penguatan indeks dolar sebagai safe haven.
Untuk April 2026, sektor yang direkomendasikan adalah Pertama; Komoditas, khususnya emas, karena telah terkoreksi dalam dan mulai terlihat penurunan DXY. Kedua; Energy-related, karena harga energi seperti minyak dan batu bara masih berpotensi tinggi akibat belum adanya kesepakatan perang dan Ketiga; Poultry, karena harga broiler dan DOC relatif stabil, didorong oleh program MBG.
Sektor yang diperkirakan masih akan tertekan adalah Pertama; Konglomerasi, khususnya dengan free float <15% dan valuasi mahal dan Ketua; Properti, karena pertumbuhan relatif terbatas dan bunga kredit meningkat seiring risiko gagal bayar.
Volatilitas IHSG diperkirakan masih tinggi pada April 2026 dengan fokus pada perkembangan negosiasi perang. Investor akan mencermati tensi AS–Iran yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, meningkatkan inflasi, serta menahan bank sentral untuk melonggarkan likuiditas. Selain itu, perlu dicermati risiko private credit seiring meningkatnya risiko gagal bayar, di mana beberapa institusi besar seperti Morgan Stanley dan BlackRock juga telah membatasi penarikan dana.@
Rin/timEGINDO.com