Medan | EGINDO.com – PT Panin Sekuritas (PANS) menilai bahwa prospek normalisasi Selat Hormuz masih relatif terbatas. Namun demikian, optimisme pasar terhadap perpanjangan gencatan senjata AS-Iran serta keberlanjutan jalur diplomatik telah membantu meredakan premi risiko geopolitik dan mendorong harga minyak turun ke bawah USD100 per barel.
“Sekarang ini yang menjadi sorotan utama adalah nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat terus melemah,” ungkap Business Development PANS Cabang Medan, Darmin, S.E., MBA, pada Senin (8/6/2026) kepada EGINDO.com di Medan.
Performa PANS kalah dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seiring kebijakan sentralisasi ekspor, namun secara geometrik sejak awal tahun masih unggul. Untuk periode Juni 2026, kami merekomendasikan BBCA, BRIS, BMRI, AMMN, MEDC, BRPT dan ANTM,” ungkap Darmin.
Menurut Darmin pasar juga tengah mencermati gelombang pengetatan moneter global terbaru sejak 2023-2024 silam, didorong oleh kekhawatiran mengenai tingkat inflasi yang sudah mulai naik. Pada bulan Mei 2026 lalu, tercatat 6 bank sentral telah menaikkan suku bunga acuannya, terbanyak sejak 2024.
Hanya bank sentral Meksiko yang memangkas suku bunganya seiring apresiasi nilai tukar Peso yang memberikan ruang lebih, dan 42 bank sentral lainnya masih tercatat hold. Walau bank sentral utama seperti The Fed, ECB, dan BoJ masih mempertahankan suku bunga acuannya, pasar kini cenderung priced-in terhadap pengetatan kedepannya.
Dilansir dari CME Fedwatch, pasar bahkan mulai mencermati potensi kenaikan suku bunga The Fed 25bps di 2026 dengan peluang 39% (vs. 9,1% per 1 Mei 2026). Hal tersebut utamanya didorong oleh kenaikan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS per April 2026 yang telah menyentuh +3,8% dari tahun sebelumnya (YoY) tertinggi sejak Mei 2023.
Ketahanan stabilitas makro domestik tengah diuji oleh berbagai tekanan, menempatkan kredibilitas kebijakan pemerintah sebagai faktor kunci. Perkembangan domestik diwarnai oleh serangkaian perkembangan penting yang membentuk persepsi pasar secara signifikan. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada Kuartal Pertama 2026 tercatat lebih kuat dari ekspektasi sebesar +5,61% YoY dengan prev: +5,39% YoY; cons: +5,4% YoY, namun akselerasi tersebut masih ditopang oleh ekspansi belanja pemerintah yang agresif sehingga belum sepenuhnya mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Di saat yang sama, kata Darmin pelemahan Rupiah menjadi sorotan utama setelah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah yang bahkan sempat menyentuh level Rp17.900/USD, meskipun secara persentase depresiasi tercatat -7% YtD, jauh dari kondisi yang dapat disamakan dengan krisis 1998.
Merespons perkembangan tersebut, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 50bps menjadi 5,25% per Mei 2026 lalu dengan pelemahan Rupiah sebagai alasan utamanya serta antisipasi risiko inflasi ke depan sebagai upaya sekundernya. Dari sisi fiskal, perhatian pasar tertuju pada realisasi APBN hingga akhir Kuartal Kedua 2026 nanti sembari mencermati penilaian S&P Global mendatang.
Sementara itu, pemerintah juga meluncurkan sejumlah kebijakan baru, termasuk revisi aturan DHE SDA guna memperkuat pasokan valas domestik untuk menopang Rupiah dalam jangka pendek serta pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia untuk meningkatkan repatriasi devisa dan memperbaiki tata kelola ekspor sekaligus menopang Rupiah juga dalam jangka panjang.
IHSG tercatat melemah tajam pada Mei 2026 sebesar -11,9% dari bulan sebelumnya (MoM) disebabkan oleh pertama ketidakpastian ekonomi global seiring tensi AS-Iran yang masih tinggi, kedua kenaikan suku bunga acuan BI rate mengindikasikan kebijakan moneter yang ketat, ketiga masih melemahnya nilai tukar Rupiah, keempat kebijakan sentralisasi ekspor yang dikhawatirkan dapat menggerus laba emiten komoditas, serta kelima rebalancing MSCI yang berlangsung hingga 29 Mei 2026.
Patut dicermati, saham konglomerasi terkoreksi tajam, seiring dihapusnya saham BREN dan DSSA karena masuk dalam kategori high concentration list dan beberapa saham seperti AMMN, TPIA, CUAN dan AMRT juga dihapus dari MSCI global standard index dan 13 saham dari saham kapitalisme kecil atau saham perusahaan kecil (small cap) yakni ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, TAPG. Selain itu, FTSE juga menghapus beberapa saham seperti DSSA di kategori saham kapitalisasi besar/perusahaan besar (large-cap) dan di small-cap yakni DAAZ, HILL, MLIA.
Sektor yang terkoreksi lebih terbatas adalah Sektor Finansial (IDXFIN) sebesar -5,3% MoM didorong oleh kenaikan saham SMMA sebesar +15,7% serta relatif kuatnya performa saham big bank, karena valuasi yang sudah relatif murah dan katalis negatif terkait dengan suku bunga serta potensi intervensi pemerintah melalui MBG dan KDMP sudah tercermin pada koreksi harga saham.
Sementara itu Sektor Dasar Material (IDXBASIC) terkoreksi tajam -22,6% MoM disebabkan oleh sentimen negatif kebijakan sentralisasi ekspor melalui Dananta Sumber Daya Indonesia yang direspon negatif oleh pasar karena dapat menekan profitabilitas dari emiten komoditas serta sebelumnya terkait dengan rencana dinaikkannya biaya royalti.
Untuk Juni 2026, kami merekomendasikan pertama sektor perbankan karena katalis negatif terkait dengan penyesuaian MSCI sudah terefleksi pada koreksi harga saham, kebijakan DHE yang mewajibkan eksportir menempatkan dana akan menjadi katalis positif untuk bank Himbara, kedua sektor komoditas karena katalis negatif terkait dengan sentralisasi ekspor dan kenaikan royalti sudah tercermin, harga komoditas global masih terus meningkat sebagai hedging inflasi.
Sektor yang diperkirakan masih akan tertekan adalah pertama sektor properti karena lemahnya rilis data marketing sales serta meningkatnya NPL, kedua sektor otomotif karena pelemahan nilai tukar berdampak ke komponen otomotif serta daya beli yang masih lemah, ketiga sektor consumer goods karena kembali naiknya harga soft commodity, tingkat utang USD yang tinggi, melemahnya Rupiah akan membebani impor bahan baku.
Fokus investor saat ini adalah ke perkembangan ekonomi dan politik domestik, dimana sejumlah kebijakan direspon negatif oleh investor terkait sentralisasi ekspor, pengetatan pajak UMKM serta defisit fiskal yang melebar. Hal ini juga akan diperparah oleh pergerakan nilai tukar Rupiah serta antisipasi review dari lembaga pemeringkat rating seperti S&P, Moodys dan Fitch yang dapat menurunkan rating obligasi Indonesia.@
Rin/timEGINDO.com