Darmin: Analisis PANS Januari Sektor Banking, Metal Mining dan Small-cap Berpeluang Cuan

Darmin, SE., MBA
Darmin, SE., MBA

Medan | EGINDO.com – Portofolio bulanan rekomendasi 7 saham PT. Panin Sekuritas (PANS) mampu mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Desember 2025 berikan Cuan per bulan +5,1% dari bulan sebelumnya (MoM) dimana IHSG bulan Desember 2025 hanya naik +1,6%.

“Secara geometric di 2025, performa rekomendasi 7 saham Panin Sekuritas (PANS) juga mampu mengalahkan IHSG. PANS berikan Cuan 57,0% tahun 2025 lebih besar dari IHSG naik sebesar 22,9%. Untuk periode Januari 2026, kami merekomendasikan saham yang peluang Cuan adalah BBRI, EMAS, BUMI, MDKA, SMDR, WIFI, INCO,” ungkap Business Development PANS Cabang Medan, Darmin, S.E., MBA, pada hari ini Jumat 9 Januari 2026.

Diungkapkan peraih Rekor MURI sebagai orang pertama di Indonesia yang meraih empat izin profesi lengkap di pasar modal yakni Broker-Dealer, Fund Manager, Underwriter, dan Investment Advisor, sejalan dengan ekspektasi pasar, The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 25bps menjadi kisaran 3,50% sampai 3,75% pada Desember 2025 lalu. Tingkat pengangguran yang lebih tinggi dari perkiraan pasar 4.4% pada November 2025 dengan relaisasi 4,6%; dan data private payroll yang cenderung tertekan mendukung keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menurunkan suku bunga.

Median dot-plot FOMC juga masih memperkirakan hanya satu kali pemotongan suku bunga sebesar 25bps sepanjang tahun 2026, tetapi dot-plot menunjukkan bahwa terdapat pandangan yang sangat berbeda antar-anggota komite. Sinyal hawkish (bunga tinggi untuk megatasi inflasi) tersebut sejalan dengan tingkat inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) yang masih cenderung tinggi dan persisten di atas target The Fed di September 2025 sebesar +2,8% dari tahun sebelumnya (YoY) lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar +2,7% data tahunan (YoY) anka realisasi masih sesuai dengan Kesepakatan pasar sebesar +2,8% YoY.

Disisi lain, sentimen pasar yang dovish (pandangan bunga rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi) terhadap The Fed dapat terus berlanjut seiring dengan kemungkinan Kevin Hassett menjadi Gubernur The Fed berikutnya serta kemungkinan tingkat inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan melambat imbas efek tarif impor yang diperkirakan mulai memudar.

Sementara lanjut Darmin di dalam negeri Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunganya pada level 4,75% pada Desember 2025, meneguhkan prioritasnya terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah dan tingkat inflasi. Hal ini seiring dengan tingkat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menyentuh level +2,72% YoY per November 2025 cons: +2,70% YoY berada di atas median rentang target BI sebesar 2,5% ± 1% YoY dan nilai tukar Rupiah yang terus mengalami pelemahan.

Bahkan kata Darmin lagi, Rupiah terus melanjutkan pelemahannya sebesar +0,65% selama bulan Desember pada level Rp16.771/USD pada penutupan 30 Desember 2025 lalu. Walaupun demikian, arus modal asing pada bulan Desember 2025 tercatat net inflow pada seluruh pasar keuangan, dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi tujuan inflow terbesar.

“Kedepannya, kami memperkirakan bahwa kelanjutan pemangkasan BI Rate masih terbuka namun terbatas, sejalan dengan sikap pro-growth dan kondisi inflasi IHK yang akan bertahan pada kisaran target BI mengingat perekonomian domestik masih berada dalam kondisi negatif output gap, serta diiringi oleh risiko eksternal pada Rupiah dan penyempitan surplus dagang,” ungkap Darmin.

Pada Desember 2025 IHSG menguat sebesar +1,6% data bulanan didorong oleh pertama arah kebijakan moneter yang masih akan longgar, kedua tensi dagang yang membaik, serta ketiga dukungan fiskal dan moneter domestik.

Sektor yang positif di Desember 2025 adalah IDXCYC naik +18,2% MoM didorong oleh saham FILM naik +82,9% dan VKTR naik +70,4%. Selain itu, IDXINDUS juga naik sebesar +17,1% data bulanan didorong oleh IMPC +24,8% dan BNBR sebesar +122,8%. IDXINFRA juga naik signifikan (+16,0% MoM) didorong oleh MORA (+98,3%) dan EXCL (+37,1%).

“Untuk Januari 2026, kami merekomendasikan sektor pertama banking karena ketidakpastian yang tinggi di awal tahun, lebih defensif, valuasi discount. Kedua metal mining karena adanya perbaikan ekonomi China, ekspektasi melemahnya DXY ketidakpastian yang tinggi akan mendorong permintaan ke emas, serta ketiga small-cap disebabkan sektor rotasi ke aset berisiko, seiring pertumbuhan ekonomi yang membaik,” jelasnya.

Sektor yang masih akan tertekan adalah pertama Coal karena masih lemahnya impor batubara dari China dan India, serta kebijakan yang kurang positif dari domestik serta kedua oil & gas disebabkan tensi yang membaik antara Russia – Ukraina serta potensi peningkatan produksi Venezuela akan mengakibatkan turunnya harga minyak.

Ditambahkan Darmin tensi politik meningkat setelah AS melakukan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dengan tuduhan narko terorisme. Pada press conference, Presiden AS, Donald Trump, akan terlibat langsung di pemerintahan Venezuela khususnya terkait dengan pengelolaan minyak.

“Sebagai informasi, Venezuela adalah founding member dari OPEC dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sebanyak 303 miliar barrel, atau setara 17% dari total global. Hal ini juga memicu kecaman dunia internasional, yaitu Russia, China dan Korea Utara,” kata Darmin menegaskan.@

Rin/timEGINDO.com

Scroll to Top