Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., M.Si
Pada mulanya, visi besar Toba Caldera sebagai UNESCO Global Geopark disambut penuh semangat. Banyak pihak menyebutnya sebagai “Great Commission” sebuah amanat agung untuk memuliakan bumi dan mensejahterakan masyarakat lokal melalui konservasi, edukasi, dan pemberdayaan berlandaskan budaya.
Paradigma ini seharusnya menjadi pijakan moral dan operasional untuk menjadikan Danau Toba sebagai kawasan warisan dunia yang hidup dan berkelanjutan. Namun, yang terjadi saat ini justru paradoks. Visi besar itu telah bergeser menjadi apa yang saya sebut sebagai “Great Omission” pengabaian sistematis terhadap amanat tersebut. Komitmen konservasi dan pelibatan masyarakat lokal banyak diabaikan, dijalankan setengah hati, bahkan direduksi menjadi sekadar slogan dan spanduk kosong di seminar-seminar. Padahal Danau Toba bukan tempat pencitraan, melainkan medan pengabdian.
Kartu Hijau, Tapi Lupa Warna Asli
Tahun 2025 ini, Toba Caldera kembali meraih Green Card dari UNESCO setelah sempat mendapatkan “kartu kuning”. Bahkan, turut menerima Silver Award dari Asian Development Bank dalam ajang Geopark Smart Tourism di Korea. Ini capaian penting, sekaligus pengingat keras.
Sayangnya, setelah sorotan kamera meredup dan tim asesor pulang, kawasan kembali sepi dari perhatian. Geosite-geosite strategis seperti Bukit Holbung dan Sigulatti yang sarat nilai geologi dan budaya dibiarkan jalan sendiri (bahkan stagnan) tanpa pengembangan bermakna. Tak ada pendampingan sistematis, tak ada literasi geopark yang menjangkau akar rumput.
Geopark seolah hanya penting ketika ada kunjungan internasional. Semua mendadak sibuk, semua merasa “ikut berjuang”. Tapi setelah itu, kebisingan sirna meninggalkan kesunyian dan luka ekologis yang semakin dalam.
Geopark Bukan Proyek, Tapi Komitmen Lintas Generasi
Geopark bukan proyek sesaat. Bukan pula panggung untuk mengejar statistik turis atau kompetisi branding antar daerah. Geopark adalah komitmen jangka panjang yang hidup dalam keseharian masyarakat dengan semangat melindungi bumi sambil menghidupi budaya.
Namun hari ini, banyak yang terjebak pada kemasan, lupa pada esensi. Konservasi diganti promosi, aksi diganti presentasi, dan pendampingan masyarakat diganti proyek fisik tanpa ruh. Bahkan, masih ada yang menganggap batu tua, formasi kaldera, dan narasi geologi sebagai benda mati yang tak punya nilai tambah ekonomi.
Padahal, dari warisan itulah jiwa kawasan ini berasal
Danau Toba bukan hanya soal keindahan panorama atau danau biru yang menawan. Ia adalah situs sejarah alam dunia, jejak letusan supervolcano 74.000 tahun lalu yang membentuk lanskap dan kehidupan. Ia juga ruang spiritual dan budaya orang Batak yang hidup berdampingan dengan alam secara turun-temurun. Jika ini kita abaikan, bukan hanya “Great Commission” yang kita tinggalkan tetapi juga akar identitas dan arah masa depan bangsa ini.
Panggilan untuk Pertobatan Ekologis
Kini saatnya kita bertanya dengan jujur: Apakah kita sungguh membangun geopark Danau Toba, atau hanya membangun narasi tentangnya? Apakah kita menyentuh akar persoalan, atau sekadar menyiram daunnya?
“Great Omission” terjadi ketika visi mulia dibiarkan dikerdilkan oleh birokrasi, ego sektoral, dan ketidakmampuan untuk bekerja lintas batas. Untuk itu, dibutuhkan sebuah gerakan balik sebuah pertobatan ekologis (ecological repentance). Pertobatan ini harus mencakup semua elemen: pemerintah pusat dan daerah, pelaku wisata, tokoh adat, akademisi, pemuda, dan investor. Kita harus kembali ke akar, menghidupkan semangat geopark sebagai ruang hidup, bukan sekadar ruang pamer.
Dari Wacana ke Tapak Aksi
Sudah terlalu banyak seminar, terlalu banyak rekomendasi, tetapi minim eksekusi. Geosite-geosite belum benar-benar bernyawa. Maka saya mendorong Badan Pengelola TCUGGp bersama para pemangku kepentingan untuk:
Menjadikan Bukit Holbung dan Perkampungan Sigulatti sebagai prototipe geopark hidup, lengkap dengan pusat informasi, pelatihan ekowisata, dan porlak (kebun adat) etnobotani Batak.
Mewajibkan kurikulum geopark di sekolah-sekolah di sekitar Danau Toba, agar generasi muda mengenal nilai geologi dan budaya tanah kelahirannya. Membangun sinergi fungsional lintas sektor dan lintas tingkatan, dengan prinsip kolaboratif, bukan top-down yang mengabaikan realitas lokal.
Mengembalikan Amanat Agung
“Great Commission” bukan slogan spiritual, melainkan amanat moral dan ekologis untuk merawat anugerah semesta. Danau Toba tidak butuh lebih banyak tepuk tangan, tetapi lebih banyak tapak kaki yang turun ke lapangan menanam, menjaga, mengajar, dan mendengar.
Jangan sampai kita dikenang sebagai generasi yang menukar danau purba dengan panggung seminar, atau mengganti kaldera geologi dengan kalender proyek.
Toba bukan untuk dipajang. Toba harus dirawat
Jika kita tak segera berubah, maka Green Card hari ini bisa jadi peringatan terakhir. Dan kelak, sejarah tidak akan menunggu pahlawan kesiangan. Saatnya meninggalkan Great Omission. Mari hidupkan kembali Great Commission untuk Danau Toba, untuk bumi, dan untuk anak cucu kita.@
***
Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI), Penggiat Lingkungan dan Budaya