Dari Desa Rumbai Jaya; Lebih Dulu Menjangkau Orang Tuanya Sebelum Mendidik Anaknya

Menyelami bagaimana rasanya berdemokrasi dengan menjalani politik elektoral, jadi bagian pembekalan hidup para siswa. (Foto: Ferry Hendrawan)
Menyelami bagaimana rasanya berdemokrasi dengan menjalani politik elektoral, jadi bagian pembekalan hidup para siswa. (Foto: Ferry Hendrawan)

Oleh: Waliadi

Memasuki bulan Mei dapat menjadi masa yang sibuk berpadu dengan menegangkan, baik bagi para orang tua yang tengah mencari sekolah menengah terbaik bagi anak-anak mereka. Maupun bagi para siswa yang akan menjalani masa belajar di sekolah idamannya. Sudah menjadi kelaziman di kota besar dalam kurun waktu ini, sekolah favorit yang menyandang reputasi akademik mentereng akan menjadi incaran dan dambaan orang tua dan anak mereka yang berniat dapat bergabung di sana.

Kisah agak laen terjadi di Desa Rumbai Jaya, Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Di sana para guru asal Sekolah Menengah Pertama Swasta (SMPS) Eka Tjipta Bumi Palma Lestari Persada (BPLP), yang berdiri di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit justru harus bergerilya mendatangi warga sekitar yang memiliki anak usia sekolah agar berkenan mengirimkan mereka bersekolah. Kepala Sekolah, Hadi Suroso menceritakan upaya yang ia dan rekan-rekannya lakukan sejak satu dasawarsa silam yakni meyakinkan masyarakat. “Kami sering berkunjung ke rumah warga, bicara dari hati ke hati dengan orang tua siswa. Kami tunjukkan pentingnya pendidikan untuk mengangkat kualitas kehidupan mereka, perekonomian keluarga dengan mengajukan perbandingan kalau pendapatan anak lulusan perguruan tinggi akan jauh lebih stabil dan besar dari pada upah buruh harian,” ungkap Hadi.

Hal ini terjadi karena sekolah yang dipimpinnya memang didirikan oleh Sinar Mas Agribusiness & Food tahun 2010 silam agar anak-anak karyawan PT. Bumi Palma Lestari Persada (BPLP) serta warga masyarakat sekitar yang sebagian besar bekerja sebagai pemanen dan pembrondol tandan buah segar, tetap terpenuhi hak-hak dasarnya mendapatkan pendidikan. Tidak sederhana karena para karyawan atau buruh lepas menghadapi tantangan keterbatasan waktu dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak mereka. Gustia Suprika, salah seorang guru memaparkan tantangan itu. “Akibat kemiskinan dan masih rendahnya kepedulian terhadap pendidikan, banyak orang tua siswa dulunya tidak mempedulikan perkembangan pendidikan anaknya. Hal ini terlihat saat kami melakukan konsultasi rutin tentang perkembangan pendidikan anaknya, orang tua kurang menanggapi, bahkan terkesan abai,” kenangnya.

Hadi Suroso (mengenakan teluk belanga kuning) harus terlebih dulu meyakinkan orang tua murid untuk mau menyekolahkan anak-anaknya (Foto: Ferry Hendrawan)

Akibatnya sebelum proses belajar mengajar untuk menghasilkan individu berbudi luhur, berkarakter, berprestasi dan peduli lingkungan berlangsung sebagaimana visi SMPS Eka Tjipta, para guru mesti terlebih dulu ‘mendidik’ para orang tua murid. Melakukan peran transformasi dengan berjuang mengubah pola pikir serta cara pandang orang tua akan pentingnya pendidikan bila menginginkan kesejahteraan mereka membaik.

Begitu aktivitas berpindah ke kelas, para guru juga harus membangun disiplin dasar siswanya. “Dulu, kami menghadapi masalah besar. Banyak siswa yang enggan masuk kelas selepas jam istirahat. Mereka lebih suka bermain di luar kelas, bahkan sampai ke luar lingkungan sekolah,” demikian ia berkisah.

Untuk mengatasinya, pihak sekolah menerapkan sistem guru piket yang bertugas secara mengawasi aktivitas siswa di luar jam pelajaran. “Disiplin ini penting, karena kemampuan menaati jadwal dan aturan adalah dasar bagi mereka untuk sukses dalam pekerjaan apa pun di masa depan,” tegas Salmawati.

Meski tidak mudah, hasil dari upaya dan ketekunan para guru terlihat hasilnya. Semakin banyak orang tua murid yang dapat menyaksikan bagaimana anak-anak mereka yang lazim disebut anak kebun, mampu menuntaskan pendidikan. Fitriani (52 tahun) orang tua M. Ikhsan Fahrozi alumni SMP Eka Tjipta BPLP, menceritakan bagaimana perjalanan pendidikan anaknya telah membawa perubahan besar dalam kehidupan sang anak maupun keluarganya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Ikhsan bekerja sebagai konsultan kehutanan di sebuah perusahaan swasta di Pekanbaru. Sebuah pencapaian yang menurut beliau tidak terlepas dari pendidikan yang telah ditempuh anaknya di sekolah, yang bukan hanya memberikan bekal pengetahuan, tetapi juga membangun kemandirian hingga mampu memiliki pekerjaan yang layak.

Sementara Imul (56 tahun) seorang anggota TNI, orang tua Suliwa, alumni lainnya, menceritakan jika dirinya memiliki keinginan kuat agar anaknya memperoleh pendidikan yang baik guna menjadikannya pribadi yang terpandang di masyarakat. Hasilnya, Suliwa kini mengikuti jejak sang ayah dengan menjadi anggota TNI, yang sembari menjalankan tugasnya juga turut membantu kehidupan keluarga, termasuk dengan membiayai sekolah adik-adiknya. Sesuatu yang menurut Imul sangat membanggakan. Masih dari sekolah yang sama, ada Zainuddin (59 tahun), yang menceritakan jika anaknya Harusi yang lulus dari sana tahun 2013 untuk melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Pertanian Universitas Riau, sedari kanak-kanak telah menunjukkan minat yang kuat pada dunia pertanian. Berkat tekad dan kesungguhannya selepas lulus dari pendidikan tinggi, Harusi kini menjadi seorang pengusaha kelapa sawit yang cukup berhasil.

Kisah haru juga ada, sebagaimana disampaikan Akmal (58 tahun), orang tua dari Eka Aprilani, seorang alumni tahun 2013 yang kini meniti karier sebagai dokter gigi dengan membuka praktik sendiri di bilangan Kilometer 8 Rumbai Jaya. Menurut Akmal kondisi perekonomian keluarga tidak selalu mudah, namun ia dan istrinya selalu memegang keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah nasib mereka terutama sang anak. Dengan segala keterbatasan berpadu dengan kekuatan tekad, kini melihat Eka membuka praktik dan melayani masyarakat sebagai seorang dokter gigi, ia merasa seluruh perjuangan keluarga telah terbayar lunas. “Tidak ada hadiah paling indah bagi orang tua selain melihat anaknya sukses, mandiri, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang,” kata Akmal. Di Sekolah Menengah Pertama Swasta Eka Tjipta Bumi Palma Lestari Persada, pendidikan bermula dari rumah, menyentuh hati dan pandangan orang tua murid, sebelum berlanjut bersama para murid di dalam hingga ke luar ruang kelas.@

***

Penulis adalah penulis di Smili Magz Sinarmas dengan editor Jaka Anindita

Scroll to Top