Catatan: Ir. Fadmin Malau
PENYELENGGARAAN 3rd ISGANO 2026, International Symposium Ganoderma di Medan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada Selasa 10 hingga Rabu 12 Februari 2026 di Adimulia Hotel, Medan dan dilanjutkan pada Kamis 13 Februari 2026 dengan field trip ke PT. Socfin Indonesia kebun Tanah Gambus dan perkebunan sawit Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) kebun Laras.
Disamping itu acara 3rd ISGANO 2026 juga dilaksanakan pameran (Exhibition) tentang pendukung keberhasilan kelapa sawit dan penanggulangan ganoderman di perkebunan kelapa sawit. Kemudian 3rd ISGANO 2026 juga dihadiri oleh berbagai narasumber internasional seperti CIRAD Prancis, MPOB Malaysia, Direktorat Jenderal Perkebunan, Konsorsium GAPKI dan para praktisi di kebun.
Kehadiran para narasumber global itu memberikan peluang besar bagi peserta untuk mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai riset terkini, teknologi deteksi dini, hingga pendekatan manajemen terpadu yang telah diuji. Tak hanya materi, pada hari ketiga peserta akan mengunjungi kebun yang terserang Ganoderma dan sudah ada tindakan pengendaliannya.
Melihat urgensi tersebut, Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) menyelenggarakan 3rd ISGANO 2026, International Symposium Ganoderma dimana kelapa sawit Indonesia sedang berada pada titik kritis yang akan menentukan masa depannya. Tercatat selama puluhan tahun menjadi komoditas strategis nasional dan penopang perekonomian dengan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja.

Kini, dalam beberapa tahun terakhir kinerja industri sawit menunjukkan tekanan yang signifikan. Produksi cenderung stagnan bahkan menurun, meski konsumsi domestik terus meningkat. Tercatat pada tahun 2022 produksi sawit 51,248 juta ton, naik menjadi 54,844 juta ton pada 2023, kemudian kembali menurun menjadi 52,752 juta ton pada 2024. Kemudian hingga pertengahan 2025, jumlah produksi mencapai 27,889 juta ton dari prediksi 57 juta ton, angka yang belum menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil.
Disamping itu, konsumsi sawit dalam negeri meningkat tajam dari 21,14 juta ton pada 2022 menjadi 23,859 juta ton pada 2024, terutama ditopang kebutuhan pangan dan program biodiesel. Sementara ekspor justru menurun signifikan dengan nilai yang anjlok dari USD 39,069 miliar pada 2022 menjadi hanya USD 17,277 miliar pada 2025.
Selanjutnya tekanan tersebut, ancaman terbesar terhadap keberlanjutan industri bukan berasal dari pasar global melainkan penyakit mematikan Ganoderma boninense. Penyakit yang menyerang pangkal batang ini menyebabkan penurunan produksi ekstrem hingga kematian tanaman dan deteksi dini sangat sulit dilakukan karena gejalanya mirip gangguan hara atau penyakit lain.
Apa yang dikatakan Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan, Baginda Siagian pada saat membuka penyelenggaraan 3rd ISGANO 2026, International Symposium Ganoderma di Medan memperingatkan bahwa apa bila Indonesia gagal mengendalikan Ganoderma dalam 15 hingga 20 tahun kedepan, maka pada 2060 hingga 2070 kelapa sawit Indonesia dapat terancam punah.
Peringatan tersebut diperkuat dengan data Ditjen Perkebunan yang menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Selama periode 2018 hingga 2024, total luas lahan yang terinfeksi mencapai 2.097.184,33 hektar dan terus bertambah setiap tahun. Ini membuktikan bahwa penyebaran Ganoderma bersifat progresif, agresif, dan telah mengancam jutaan hektar perkebunan sawit.
Kemudian dampak kerugian akibat Ganoderma juga terlihat nyata di perusahaan kelapa sawit dimana evaluasi pada kebun di lahan gambut kelas 3 seluas 3.540 hektare menunjukkan bahwa tanaman hanya mampu menghasilkan 13.682 kg TBS per hektar per tahun, jauh di bawah potensi ideal 84.735 kg per hektar per tahun. Akibatnya, kebun tersebut kehilangan potensi produksi sebesar 36,3 juta kg TBS per tahun atau setara kerugian finansial sebesar Rp 87 miliar. Nilai ini menggambarkan betapa seriusnya ancaman Ganoderma terhadap daya saing industri sawit nasional.
Sejalan dengan itu Sekretaris Jenderal P3PI, Hendra J. Purba, mengatakan bahwa penyelesaian masalah Ganoderma tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri dan membutuhkan gerakan bersama seluruh pihak. Indonesia tidak boleh kalah oleh Ganoderma dan semua pihak bergerak bersama mulai dari peneliti, perusahaan, petani, pemerintah, dan industri teknologi.
Keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia sangat bergantung pada kemampuan menghadapi ancaman ganoderma maka pengendalian Ganoderma harus menjadi prioritas bersama. Dengan latar belakang ancaman Ganoderma yang kian meluas, 3rd ISGANO 2025 menjadi forum yang sangat penting bagi seluruh pemangku kepentingan sawit.
Tentunya melalui diskusi ilmiah, pemaparan riset, pemaparan praktisi mengenai hasil-hasil yang sudah dilakukan di lapangan, dan kolaborasi lintas negara, 3rd ISGANO 2025 hadir untuk memperkuat industri sawit nasional dalam mengendalikan Ganoderma dan menyelamatkan masa depan sawit Indonesia. Semoga!
***