Danantara: Laba Emiten Tumbuh 15%, Investor Diminta Tak Panik soal MSCI

Ilustrasi pertumbuhan pasar saham Indonesia di tengah evaluasi klasifikasi MSCI.
Ilustrasi pertumbuhan pasar saham Indonesia di tengah evaluasi klasifikasi MSCI.

Jakarta|EGINDO.co Danantara meminta investor tetap tenang menghadapi rencana evaluasi klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI Inc. dan tidak mencampuradukkan persoalan tata kelola pasar dengan kondisi fundamental perusahaan tercatat yang masih menunjukkan kinerja positif.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menegaskan, pemerintah dan regulator tetap serius menanggapi usulan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Konsultasi yang berlangsung hingga pertengahan 2027 tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi arus keluar dana asing dari pasar modal domestik.

Meski demikian, Pandu menilai fundamental emiten Indonesia masih cukup solid. Dari 146 perusahaan dengan pendapatan di atas Rp5 triliun, sebanyak 134 emiten berhasil mencatatkan laba bersih. Secara agregat, laba bersih kelompok perusahaan tersebut tumbuh 15% pada semester I/2026, seiring kenaikan pendapatan sebesar 7% secara tahunan (year on year/YoY).

Kondisi keuangan emiten non-keuangan juga dinilai kuat. Sebanyak 121 perusahaan tercatat memiliki kas sebesar Rp583 triliun pada kuartal II/2026, meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Cadangan kas tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk mendukung ekspansi dan pengembangan usaha.

Pandu juga menyoroti perbedaan sikap penyedia indeks global terhadap pasar saham Indonesia. Di tengah konsultasi yang dibuka MSCI, FTSE Russell tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market.

Menurutnya, pembenahan tata kelola pasar modal perlu terus dilakukan tanpa mengabaikan kinerja bisnis perusahaan. Investor pun diimbau tetap disiplin menilai fundamental emiten, melakukan diversifikasi portofolio, serta menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.

Pandu meyakini pasar modal Indonesia masih memiliki peluang untuk terus membaik melalui penguatan tata kelola dan transparansi, meskipun proses pembenahan masih berlangsung.

Disclaimer: Artikel ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. (Sn)

Scroll to Top