Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dip_Ec., M.Si
LELUHUR Batak tidak mewariskan kebijaksanaan hidup melalui teori-teori yang rumit, melainkan melalui pengalaman, alam, dan umpasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari situlah lahir berbagai nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Salah satunya tergambar dalam umpasa berikut:
Ansimun sada holbung, Tu pege sangkarimbang, Manimbung rap tu toru,
Mangangkat rap tu ginjang.
Umpasa ini berbicara tentang jipang dan jahe yang tumbuh berdampingan dalam satu holbung, yaitu tanah yang rendah dan subur. Keduanya memperoleh kehidupan dari tanah yang sama. Jipang merambat dan menjulang ke atas, sementara jahe menguat di dalam tanah. Meskipun berbeda bentuk dan cara tumbuh, keduanya tidak saling menghalangi. Sebaliknya, masing-masing berkembang sesuai kodratnya sambil tetap berbagi ruang kehidupan yang sama.
Bagi masyarakat Batak, gambaran ini bukan sekadar cerita tentang tanaman. Di dalamnya tersimpan pandangan hidup yang mendalam tentang persaudaraan. Saudara-saudara diibaratkan seperti tanaman yang tumbuh dari tanah yang sama. Mereka lahir dari akar kehidupan yang sama, dibesarkan dalam lingkungan yang sama, serta mewarisi sejarah dan identitas yang sama. Karena itu, hubungan persaudaraan tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga mengandung tanggung jawab moral.
Dari pemahaman inilah lahir prinsip manat mardongan tubu. Kata manat tidak hanya berarti berhati-hati. Dalam makna yang lebih dalam, manat adalah kebijaksanaan untuk menjaga hubungan agar tetap utuh, menjaga perkataan agar tidak melukai, serta menjaga hati agar tidak dikuasai iri dan kesombongan. Manat adalah kesadaran bahwa persaudaraan merupakan warisan yang harus dipelihara, bukan dipertaruhkan demi kepentingan sesaat.
Secara filosofis, prinsip ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Keberadaan seseorang selalu terkait dengan keberadaan orang lain. Dalam tradisi Batak, persaudaraan menjadi ruang pertama tempat seseorang belajar tentang hormat, kesabaran, tanggung jawab, dan pengorbanan. Di dalam keluarga dan dongan tubu, seseorang belajar memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang kebersamaan.
Karena itu, Dalihan Na Tolu sesungguhnya dimulai dari saudara. Sebelum seseorang belajar somba marhula-hula, ia terlebih dahulu belajar menghormati saudaranya. Sebelum ia mampu elek marboru, ia terlebih dahulu belajar mengasihi dan menjaga dongan tubunya. Persaudaraan menjadi fondasi yang menopang seluruh bangunan relasi dalam adat Batak. Sebab keseimbangan yang menjadi roh Dalihan Na Tolu tidak lahir dari aturan semata, melainkan dari kemampuan setiap orang menjaga harmoni dalam hubungan yang paling dekat dengannya.
Ungkapan manimbung rap tu toru, mangangkat rap tu ginjang semakin menegaskan makna tersebut. Turun bersama ke bawah dan naik bersama ke atas menggambarkan solidaritas yang sejati. Ketika seorang saudara mengalami kesulitan, yang lain tidak meninggalkannya. Ketika seorang memperoleh keberhasilan, yang lain tidak merasa terancam atau iri hati. Kebahagiaan menjadi kebahagiaan bersama, dan beban menjadi beban yang dipikul bersama.
Nilai ini tetap relevan hingga sekarang. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, persaudaraan sering kali diuji oleh persoalan harta, kedudukan, dan kepentingan pribadi. Tidak jarang hubungan yang seharusnya menjadi sumber kekuatan justru berubah menjadi sumber perpecahan. Dalam situasi seperti itulah makna manat mardongan tubu menjadi semakin penting untuk dihidupi. Persaudaraan yang terpelihara akan melahirkan kepercayaan, sedangkan persaudaraan yang retak akan melemahkan sendi-sendi kehidupan bersama.
Pada akhirnya, kekuatan Dalihan Na Tolu tidak terletak pada banyaknya aturan adat yang dijalankan, melainkan pada kemampuan setiap orang menjaga relasi yang dipercayakan kepadanya. Sebab adat yang besar selalu bertumpu pada persaudaraan yang kuat. Keberhasilan seseorang dalam adat tidak pertama-tama diukur dari kemegahan pestanya atau tingginya kedudukannya, melainkan dari kemampuannya memelihara hubungan dengan saudara-saudaranya.
Leluhur Batak telah mengajarkan hal itu melalui umpasa tentang jipang dan jahe yang tumbuh berdampingan di tanah yang subur. Keduanya bertumbuh bersama, saling menopang, dan memperoleh kehidupan dari sumber yang sama. Demikian pula dongan tubu dipanggil untuk hidup dalam manat: saling menjaga, saling menguatkan, dan saling menopang. Ketika satu jatuh, yang lain mengangkat. Ketika satu berhasil, yang lain bersukacita.
Dengan demikian, persaudaraan tidak hanya menjadi ikatan darah, tetapi juga jalan untuk merawat martabat, menjaga adat, dan menghadirkan berkat dalam kehidupan bersama. Sebagaimana pesan leluhur dalam umpasa itu, manimbung rap tu toru, mangangkat rap tu ginjang—turun bersama, naik bersama. Di situlah Dalihan Na Tolu menemukan akar terdalamnya, dan dari situlah pula kehidupan yang rukun, bermartabat, dan diberkati bertumbuh.@
***
Penulis adalah Ketua Pergerakan Penyelamaatan Kawasan danau Toba (PP_DT)/Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)