Cuaca Ekstrem Musim Barat Tekan Aktivitas Nelayan, Pasokan Ikan Berpotensi Terganggu

lustrasi kapal nelayan sedang berlayar di tengah laut.
lustrasi kapal nelayan sedang berlayar di tengah laut.

Jakarta|EGINDO.co Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi dampak ekonomi akibat cuaca ekstrem yang kerap terjadi pada puncak musim barat. Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, menyebut pola angin baratan yang bertiup dari barat laut menuju tenggara hingga timur berpeluang memicu gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia. Kondisi ini dinilai tidak hanya mengancam keselamatan nelayan, tetapi juga berpotensi menekan aktivitas penangkapan ikan dan distribusi hasil laut.

Dalam keterangannya Jumat, 20 Februari 2026, BMKG menegaskan bahwa periode angin kencang cenderung lebih dominan pada fase ini. Gelombang tinggi yang terbentuk dapat mengganggu operasional kapal-kapal nelayan skala kecil hingga menengah. Jika intensitasnya meningkat, produktivitas sektor perikanan tangkap berisiko menurun, terutama di wilayah perairan utara Jawa dan sebagian kawasan Indonesia timur.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media nasional seperti Kompas.com dan Bisnis.com, faktor cuaca ekstrem kerap menjadi variabel utama yang memengaruhi pasokan ikan di pasar tradisional maupun industri pengolahan. Ketika nelayan mengurangi aktivitas melaut demi keselamatan, rantai pasok hasil tangkapan otomatis terdampak, yang pada akhirnya bisa memicu fluktuasi harga komoditas perikanan di tingkat konsumen.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, BMKG terus memperbarui prakiraan cuaca maritim serta memperkuat sistem peringatan dini, khususnya di perairan yang dinilai rawan. Koordinasi juga dilakukan bersama pelabuhan perikanan agar informasi cuaca dapat diteruskan secara cepat kepada nelayan. Selain itu, melalui program Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, lebih dari 16 ribu alumni telah dibekali pemahaman membaca informasi meteorologi guna mendukung pengambilan keputusan sebelum melaut.

BMKG mengimbau pelaku usaha perikanan dan nelayan tradisional agar tidak memaksakan aktivitas saat peringatan cuaca buruk dikeluarkan. Aspek keselamatan, menurut lembaga tersebut, harus menjadi prioritas utama di tengah tekanan cuaca ekstrem yang masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, risiko nyata dari kondisi cuaca buruk kembali terjadi di perairan utara Juwana, Jawa Tengah. Seorang nelayan asal Pati, Oki Dimas Pebriyanto (25), ditemukan meninggal dunia setelah diduga terjatuh ke laut akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dinamika cuaca musim barat tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga menyangkut keselamatan jiwa para pekerja di sektor kelautan. (Sn)

Scroll to Top