Shanghai | EGINDO.co – Tiongkok pada Sabtu (19 Juli) berjanji untuk meningkatkan tindakan keras dan memperketat penegakan hukum terhadap penyelundupan mineral strategis yang dianggap vital bagi keamanan nasional dan krusial bagi pembangunan.
Pernyataan Kementerian Perdagangan tersebut muncul sehari setelah Kementerian Keamanan Negara menuduh badan mata-mata asing telah mencoba “mencuri” logam tanah jarang dan berjanji untuk menindak infiltrasi dan spionase yang menargetkan sektor penting tersebut.
Sebagai pemasok puluhan mineral strategis terbesar di dunia, Tiongkok mulai memberlakukan pembatasan ekspor pada tahun 2023 terhadap pasokan vital bagi berbagai sektor, mulai dari pembuatan cip dan transisi energi hingga pertahanan.
Pernyataan Kementerian Perdagangan, yang menggambarkan penyelundupan dan ekspor mineral strategis sebagai masalah serius yang harus diperangi, disampaikan dalam sebuah pertemuan dengan para pejabat yang bertanggung jawab atas koordinasi pengendalian ekspor dan badan-badan pemerintah lainnya.
“Kasus penyelundupan oleh segelintir penjahat untuk kepentingan pribadi mereka dan kolusi antara pihak domestik dan asing masih terjadi,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan.
Metode-metode penghindaran seperti deklarasi palsu dan transshipment ke negara ketiga semakin terselubung, tambahnya, seraya mendesak badan-badan pemerintah untuk mencegah arus keluar ilegal mineral strategis dan teknologi terkait.
Tiongkok telah mengadopsi pendekatan “tanpa toleransi” terhadap penyelundupan dan ekspor mineral strategis, yang akan dilawan dengan keras, melalui upaya khusus untuk memperketat penegakan hukum, kata kementerian tersebut.
Pada bulan Mei, Tiongkok mengatakan akan memperkuat kontrol terhadap seluruh rantai pasokan ekspor mineral strategis sekaligus memperketat cengkeramannya terhadap material yang dianggap krusial bagi kepentingan nasional.
Sebelumnya, Beijing meluncurkan kampanye khusus untuk memberantas penyelundupan mineral strategis seperti galium, germanium, antimon, tungsten, dan beberapa logam tanah jarang.
Sumber : CNA/SL