Jakarta|EGINDO.co PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengajukan rencana pembagian dividen perdana kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu (28/10/2026). Rencana penarikan sebagian saldo laba ditahan per 30 Juni 2026 ini menjadi penanda awal dari proses demutualisasi bursa yang diamanatkan dalam UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) serta POJK No. 13 Tahun 2026.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa pembagian keuntungan ini merupakan prioritas utama manajemen. Melalui perubahan struktur kepemilikan ini, perusahaan sekuritas selaku anggota bursa (AB) sekaligus pemegang saham awal akan menjadi pihak pertama yang merasakan manfaat finansial dari era baru kepemilikan BEI.
3 Agenda Utama RUPSLB BEI
Dalam rapat yang digelar hari ini, pemegang saham menyepakati tiga agenda strategis:
-
Perubahan Anggaran Dasar Perseroan: Menyesuaikan payung hukum internal dalam rangka pelaksanaan demutualisasi bursa.
-
Persetujuan Laba Ditahan: Penggunaan saldo laba ditahan berdasarkan Laporan Keuangan Auditan per 30 Juni 2026 untuk dialokasikan sebagai dividen.
-
Persetujuan RKAT 2027: Penetapan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan 2027 yang turut memuat skema pembayaran dividen di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Rencana ini turut mendapat apresiasi positif dari Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Mohamad Hekal. Ia menilai langkah ini merupakan insentif nyata bagi para pemegang saham sekaligus angin segar untuk mendorong keterlibatan sekuritas dalam merelisasikan reformasi pasar modal nasional.
Kinerja Keuangan Cetak Rekor
Keputusan untuk membagikan dividen perdana didukung oleh kinerja finansial BEI yang sangat solid:
-
Laba Bersih 2025: Mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah bursa sebesar Rp1,07 triliun (naik 59,4% YoY).
-
Laba Bersih Semester I/2026: Melonjak 178,83% YoY menjadi Rp779,97 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp279,72 miliar.
-
Pendapatan Konsolidasian: Menyentuh Rp2,17 triliun per 30 Juni 2026, ditopang dominasi pendapatan transaksi bursa yang berkontribusi sebesar Rp1,73 triliun (melesat 71,60% YoY).
Dengan persetujuan pemegang saham dan evaluasi dari OJK atas RKAT 2027, penetapan rincian nominal serta mekanisme pencairan dividen akan menjadi langkah berikutnya dalam transformasi struktur bursa Indonesia. (Sn)