Cerdas Teknologi, Lupa Jati Diri: Salah Anak atau Kita?

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., Dipl_Plan., M.Si

Anak-anak kita tumbuh di dunia yang belum pernah kita alami. Dunia serba cepat, serba terkoneksi, dan serba instan. Di ujung jari mereka terbentang akses tanpa batas—informasi, hiburan, bahkan identitas.

Kita kagum melihatnya: jari-jemari kecil itu menari di layar, cepat menangkap hal baru, berani menjelajah ruang digital, dan sering melampaui kemampuan kita sebagai orang tua.

Namun, di balik kekaguman itu, muncul pertanyaan yang jarang diucapkan: apakah mereka semakin maju, atau justru semakin jauh dari dirinya sendiri?

Mereka mengenal dunia luar dengan luas, tapi sering gagap saat ditanya asal-usulnya. Fasih mengikuti tren global, tetapi asing terhadap nilai yang membentuk dirinya. Mereka tahu banyak hal, tapi tidak selalu tahu siapa diri mereka.

Di titik ini, pertanyaannya sederhana sekaligus menggugat: ini salah anak, atau kita?

Anak tidak pernah benar-benar memilih arah hidupnya sejak awal. Mereka berjalan di jalan yang kita buka, menyerap apa yang kita hadirkan. Jika layar lebih sering hadir daripada percakapan, jika dunia digital lebih dominan daripada pengalaman nyata, maka di situlah mereka belajar memahami hidup. Persoalannya bukan pada kecanggihan teknologi, tetapi pada keseimbangan nilai yang kita tanamkan.

Budaya kita sebenarnya memberi fondasi yang kuat. Dalam kehidupan orang Batak, nilai tidak sekadar diajarkan—ia dihidupi. Leluhur merumuskan falsafah sederhana namun sarat makna:

Parhatian sora monggal, Parninggala sibola tali, Mangangkat rap tu ginjang, Manimbung rap tu toru, Sisada lulu anak, Sisada lulu boru.

Falsafah ini bukan sekadar ungkapan adat, tetapi kompas kehidupan:

  • Parhatian sora monggal mengajarkan perhatian yang adil, tanpa pilih kasih. Di tengah dunia penuh perbandingan, nilai ini membangun rasa aman anak—bahwa mereka dihargai bukan karena pencapaian, tetapi karena keberadaannya.
  • Parninggala sibola tali menegaskan pentingnya menjaga hubungan. Di era di mana relasi mudah putus karena kesalahpahaman kecil, nilai ini menjadi fondasi keterikatan.
  • Mangangkat rap tu ginjang mengajarkan semangat maju bersama. Bukan saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan, bekerja bahu membahu. Ini penyeimbang bagi budaya kompetisi yang semakin keras.
  • Manimbung rap tu toru mengajarkan kita menopang yang jatuh. Solidaritas ini mulai langka di zaman sekarang, tapi justru sangat dibutuhkan.
  • Sada lulu anak, sada lulu boru menegaskan kesetaraan dalam gender maupun kekerabatan. Setiap individu memiliki tempat yang sama dalam komunitas, tanpa hierarki yang merendahkan.

Jika nilai-nilai ini benar-benar dihidupkan, anak tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga berakar kuat dan berkarakter. Mereka mampu bersaing, bertahan, bahkan berinovasi secara kreatif.

Namun, tantangan terbesar adalah: nilai tidak bisa diwariskan hanya dengan kata-kata. Nilai tidak bisa diunduh seperti aplikasi, tidak bisa dikirim melalui pesan singkat. Ia harus dialami dan dihidupi.

Ketika anak diajak pulang ke kampung halaman, mereka tidak sekadar berkunjung—mereka belajar keterikatan. Ketika duduk makan bersama keluarga besar, mereka memahami kebersamaan. Ketika mendengar kisah leluhur, mereka menemukan siapa diri mereka yang sesungguhnya.

Sebaliknya, jika pengalaman itu absen, anak berisiko tumbuh dalam ruang yang hampa nilai. Mereka mungkin unggul dalam keterampilan, tetapi rapuh secara identitas dan karakter.

Zaman kini cenderung menyederhanakan kesuksesan pada hal-hal yang kasatmata: jabatan, kekayaan, gelar, dan popularitas. Ukuran itu tidak salah, tapi menjadi problematis jika dijadikan satu-satunya tolok ukur.

Sejarah telah berulang kali menunjukkan: apa yang dibangun di atas materi semata mudah runtuh ketika fondasinya goyah. Sebaliknya, yang dibangun di atas nilai akan bertahan, meski zaman berubah.

Di sinilah kita harus jujur pada diri sendiri. Mungkin bukan anak yang kehilangan arah, tetapi kita yang terlalu sibuk menyiapkan masa depan mereka, hingga lupa memperkenalkan asalnya. Anak yang mengenal asalnya memiliki pijakan kuat. Ia tidak mudah terombang-ambing arus. Ia boleh modern, tapi tidak tercerabut. Ia boleh tinggi, tapi tetap berakar.

Pertanyaan “salah anak atau kita” bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan. Perubahan tidak dimulai dari anak, tetapi dari kita sebagai orang tua—generasi yang lebih dahulu memahami nilai.

Kitalah yang harus memulai—dari hal sederhana: menyediakan waktu, menghadirkan percakapan, memberi teladan. Yang kita wariskan bukan hanya pendidikan dan harta, tetapi jati diri. Dan jati diri adalah warisan yang tidak pernah kehilangan nilainya, dalam keadaan apa pun dan di zaman apa pun.

Horas.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi saudara-saudara yang menjalankannya. Semoga kita tidak hanya membesarkan anak yang cerdas, tetapi juga anak yang mengenal dirinya dan teguh memegang nilai.

Mauliate.

Horas.

Scroll to Top