Catatan dari Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan Sumut, Menyemai Benih Sastra Itu

S. Ratman Suras, Sastrawan Sumatera Utara hadir dalam Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan Sumut
S. Ratman Suras, Sastrawan Sumatera Utara hadir dalam Dialog Sastra bersama Guru dan Sastrawan Sumut

Oleh: S. Ratman Suras

SABTU, yang panas. Simpang Dr Mansyur jumpa Jalan Setia Budi, Tanjung Rejo. Awak turun dari kreta (baca: sepeda motor) penyair Wirja Taufan, hendak melanjutkan pulang ke rumah awak Tanjung Anom, dan Wirja Taufan di Sunggal. Kami sama-sama akan pulang, usai menghadiri acara di Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Depan istana Maimun.

Acaranya keren. Menyemai kembali pembelajaran sastra di sekolah di Sumut, bersama Forum Sastrawan Deli Serdang (Fosad). Ada pembicara yang cukup mumpuni, Dr. Sawfan Hadi Umry, Saripuddin Lubis MPd, Dra. Sri Kartini Handayani, diskusinya dimoderatori, Khairuddin Ibrahim Harahap.

Hadir pada acara itu para dedengkot sastrawan Sumut, Sulaiman Sambas, Choking Susilo Sakeh, T. Zainuddin, M. Yunus Rangkuti, Sugeng Setya Dharma, Fadmin P Malau, Nasib TS, Mansyur Nasution, Siamir Marulafau, para guru bahasa Indonesia, dan ini yang tak kalah keren para mahasiswa-mahasiswi bahasa dan sastra dari berbagai perguruan tinggi favorit di Sumut.

Yang lebih menarik lagi, program tersebut juga ingin mengenang kembali kontribusi almarhum tiga tokoh penting dalam perjalanan bahasa dan sastra di Sumut, yaitu Drs Sabaruddin Ahmad, Drs H. Ahmad Samin Siregar, dan H. Ahmad Zaini Nasution.

Terungkap dari diskusi yang berjalan cair dan menarik. Kontribusi ketiga tokoh tak perlu diragukan lagi. Dr. Safwan malah menyebut Drs. Sabaruddin Ahmad, sebagai “preman” bahasa di Medan, Sumut. Beliau orang yang sering “mrepet” jika mendapati pemakaian bahasa Indonesia yang tidak pas. Terutama dalam pemakaian bahasa surat resmi dari sebuah instansi pemerintah.

Drs Ahmad Samin Siregar, pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra USU dan Ahmad Zaini Nasution sastrawan terkemuka pada zamannya. Tentunya mereka bertiga masing-masing telah menorehkan tinta emas susastra di sini.

Ironi

Punggawa Fosad Sugeng Setya Dharma, dalam mukadimah acara menyampaikan kabar yang cukup ironi. Kenapa? Sehari sebelum acara beliau bersama Sulaiman Sambas, mengunjungi ruang literasi di Perpustakaan dan Arsip provinsi Sumut, cukup terkejut.

Menurut pengamatan beliau dan sudah dicek di ruang data, ternyata nama-nama sastrawan Medan Sumut dan hasil karyanya tak ada dinampak di sini. Cuma segelintir nama saja yang terbaca yaitu sastrawan Damiri Mahmud, Zaenal Aka, dan Safwan Hadi Umry. Lainnya? Gelap dan kelam.

Pada hal Sumatra Utara, gudangnya sastrawan. Tak usahlah menulis nama-nama beken yang sudah tak asing lagi. Atau semuanya karena telah wafat? Hingga karyanya pun turut terkubur? Sebut saja, Buyung Yusuf Tandjung (BY Tand), NA Hadian, Herman KS, Rusli A Malem, AA Bunga, R. Efendi KS, A Rahim Qahar, Adi Mujabir, Lazuardi Anwar, YS Rat, Aldian Aripin, Datuk Atmansyah, Abdul Jalil Sidin, Mihar Harahap, Malubi, dan sebagainya yang masa hidupnya telah menyalakan obor sastra di Provinsi Sumatera Utara yang kini digubernuri Boby Nasution.

Kini keadaanya sudah kerontang seperti ini. Lalu kenapa rupanya? Apakah dosa, ketika para pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum tak kenal sastrawan dan karyanya? Untuk apa sih sastra buat kehidupan? Bagi orang Medan, Sumut? Apa jika orang Sumut baca sastra orang Sumut, lalu tak ada lagi korupsi di sini? Ah, terlalu manis pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Walau terasa pahit dan tercekat ditenggotokan.

Fenomena ini rupanya jadi kerisauan buat Saripuddin Lubis, sastrawan yang juga guru serta dosen ini. Kata beliau dalam satu kesempatan, menanyakan kepada anak didiknya, apakah kalian tahu, siapa itu T. Amir Hamzah? Ternyata anak Binjai pun masih juga ada yang tak mengenal penyair Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu itu.

Terlalu! kata bang Rhoma Irama. Tapi kita tak boleh menyerah, niat ingsun, nawaitunya bersastra itu, untuk apa? Terkenal, kaya, viral, atau? Apa? Balek ke diri kita masing-masing. Mereka yang separoh hidupnya dihabiskan untuk bersastra ajah, tak lagi dikenal orang. Apa pedulinya literasi. Udah gitu Generasi Z, yang kehidupannya semakin mudah untuk mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan, selain sastra. Tinggal klik di hpnya. Semua sudah tersedia, dan ada.

Sementara menurut Sri Kartini Handayani, yang membeberkan pengalamannya selama jadi guru bahasa dan sastra Indonesia di SMA 4 Medan, nyaris 3 dekade kerjanya disibukan dengan bahasa dan sastra. Dari kunjungan para sastrawan terkenal hingga kini terus berusaha sekuat tenaga agar sastra hidup dan bermanfaat buat para muridnya. Dengan penuh semangat ibu guru yang satu ini cukup bangga menunjukan buku-buku sastra karya para muridnya.

Cakep dan keren. Langkah selanjutnya.

Di atas kreta, kami berdua masih cakap-cakap seputaran acara tadi. Menurut Wirja Taufan, acara sekeren itu harus ada kelanjutannya. Jika mau Fosad harus mengundang seluruh guru-guru bahasa sastra di Sumut ini secara berkala untuk hadir dan bertatap muka, berbagi pengalaman dengan para sastrawan Sumut. Jangan hanya sekali, sudah itu tak ada kelanjutannya.

Awak cuma bisa menimpali, ya harus! Dan itu tentu sudah ada dalam benak mas Sugeng dan Fosad. Kita tunggu saja!

Tak terasa simpang tiga Dr Mansyur-Setia Budi telah nampak. Awak pun minta turun. Udara di Medan cukup menyengat. Di sini di bawah bayangan gedung awak menunggu angkot Nasional 38 jurusan Tanjung Anom-Olimpia lewat. Awak mau pulang. Melupakan keadaan yang sebenarnya, untuk menatap hari-hari yang telah terlanjur jadi tumpukan sunyi.@

***

Scroll to Top