Jakarta | EGINDO.com – PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) memajukan inisiatif kota utama di BSD City. Ini ditandai dengan peluncuran klaster hunian IZZI yang berpusat di wilayah perkotaan BSD Barat. Harga unit mulai dari Rp 1,4 miliar, dimana menargetkan pembeli kelas menengah ke atas yang berorientasi gaya hidup dan memiliki fasilitas terpadu seperti pengisian daya electric vehicle (EV) dan ruang komunal yang mendukung segmentasi pasar yang lebih spesifik.
Disebutkan tingkat penyerapan IZZI sekitar 95% dari 100 unit awal yang menunjukkan tingkat penyerapan sekitar 45 unit – 50 unit per bulan. Capaian itu melampaui klaster hunian landed di BSD City pada segmen Rp 1 miliar – Rp 2 miliar yang secara historis mencatat sekitar 20 unit –30 unit per bulan.
Analis menilai prospek kinerja BSDE pada awal tahun 2026 secara fundamental tetap didukung oleh posisi sebagai salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia dengan cadangan lahan dan portofolio proyek yang luas, termasuk township BSD City yang menjadi flagship perusahaan. Perolehan marketing sales dan prapenjualan telah menunjukkan tren yang solid meskipun di tengah tekanan makroekonomi, serta BSDE memiliki neraca keuangan yang relatif kuat dengan net gearing yang terjaga, memberikan fleksibilitas pendanaan untuk menjalankan proyek-proyek strategis.
Namun, para analis juga melihat bahwa BSDE menghadapi sejumlah tantangan pada awal tahun 2026. Tekanan daya beli konsumen dan kondisi makroekonomi yang belum sepenuhnya pulih masih berdampak pada penjualan unit properti dan pendapatan proyek. Seperti terlihat dalam penurunan pendapatan dan laba bersih di beberapa periode pelaporan keuangan terakhir.
Disamping itu volatilitas pasar properti domestik dan persaingan dari pengembang lain juga tetap menjadi tantangan, terutama untuk segmen menengah-premium di mana permintaan sangat sensitif terhadap suku bunga dan kondisi ekonomi. Datanya mencatat penurunan kinerja sepanjang Januari – September 2025. Peluncuran kluster baru diproyeksi jadi katalis pendorong kinerja BSDE ke depannya.
BSDE mengantongi pendapatan Rp 8,76 triliun per kuartal III 2025. Jumlah tersebut turun 12,95% dari Rp 10,06 triliun per kuartal III tahun 2024. Senada, laba bersih BSDE juga terkoreksi 49,53% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1,36 per September 2025. Jadi profil pendapatan BSDE tetap bergantung pada penjualan properti siklikal.
Kemudian tantangan utama BSDE pada awal 2026 berasal dari ketidakpastian suku bunga yang masih relatif tinggi, yang dapat menahan keputusan pembelian properti berbasis KPR. Tekanan biaya konstruksi dan persaingan antar pengembang di Jabodetabek juga berpotensi menekan margin dan faktor makro seperti daya beli dan sentimen konsumen.@
Bs/fd/timEGINDO.com