Jakarta|EGINDO.co Harga beras berpotensi kembali mengalami tekanan hingga akhir 2026 seiring ancaman fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang dapat memengaruhi pola curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena perubahan cuaca berpotensi mengganggu produksi padi dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan bahwa curah hujan yang lebih rendah perlu diantisipasi karena pengalaman sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara kondisi iklim kering dan kenaikan harga beras.
Dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri, Selasa (18/8/2026), Ateng dari BPS mencontohkan kondisi pada 2023. Saat itu, fenomena El Nino yang menyebabkan penurunan curah hujan turut memberikan tekanan terhadap produksi pangan dan harga beras.
“Karena kalau kita cermati, kita pernah mengalami inflasi yang cukup tinggi pada saat adanya El Nino,” ujar Ateng dalam rapat tersebut.
Ia mengingatkan bahwa pada September 2023, inflasi beras pernah mencapai 5,61 persen. Angka tersebut menjadi salah satu contoh risiko yang perlu diperhatikan apabila kondisi iklim kering kembali memberikan tekanan terhadap produksi dan pasokan beras.
Harga beras mulai menunjukkan tekanan
Memasuki 2026, pergerakan harga beras juga mulai menjadi perhatian. BPS mencatat harga beras di tingkat penggilingan mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Juni 2026, rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan mencapai Rp14.815 per kilogram, naik 1,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, beras kualitas medium berada di kisaran Rp13.525 per kilogram, meningkat 0,92 persen secara bulanan.
Pergerakan tersebut melanjutkan tren kenaikan yang sudah terlihat sebelumnya. Pada Mei 2026, harga beras premium di penggilingan tercatat Rp14.667 per kilogram atau naik 0,56 persen secara bulanan. Beras medium pada periode yang sama mencapai Rp13.402 per kilogram, meningkat 0,79 persen.
Di sisi produksi, BPS juga mencatat adanya penurunan produksi padi pada Mei 2026. Produksi gabah kering giling (GKG) tercatat 4,92 juta ton, turun 3,43 persen dibandingkan Mei 2025. Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga turun 3,43 persen menjadi sekitar 2,84 juta ton.
Kondisi tersebut membuat perkembangan cuaca menjadi faktor penting yang perlu dipantau, terutama jika periode kering berlangsung lebih panjang dan memengaruhi jadwal tanam maupun produktivitas sawah.
Risiko terhadap inflasi pangan
Kenaikan harga beras menjadi perhatian karena komoditas tersebut memiliki bobot penting dalam konsumsi rumah tangga. Apabila harga beras meningkat secara signifikan, dampaknya dapat merembet pada inflasi umum melalui kenaikan biaya konsumsi masyarakat.
BPS sebelumnya mencatat inflasi nasional Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,34 persen.
Karena itu, potensi gangguan pasokan beras akibat faktor cuaca perlu diantisipasi sejak dini. Pemerintah tidak hanya perlu menjaga produksi, tetapi juga memastikan distribusi dan ketersediaan cadangan pangan tetap mencukupi di wilayah yang mengalami tekanan harga.
Hal senada terlihat dari langkah Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang terus memantau perkembangan harga gabah dan beras. Bapanas menyatakan kenaikan harga gabah hingga level tertinggi dalam delapan tahun terakhir masih dapat dikelola melalui penguatan cadangan pemerintah sehingga stabilitas harga beras tetap terjaga.
Pemerintah perlu memperkuat antisipasi
Ancaman El Nino dan IOD membuat pengendalian harga beras tidak cukup hanya dilakukan ketika harga sudah melonjak. Pemerintah daerah perlu memperkuat pemantauan stok, kelancaran distribusi, kondisi lahan pertanian, serta perkembangan harga di tingkat petani hingga konsumen.
Pengalaman 2023 menjadi pelajaran penting. Ketika curah hujan rendah berlangsung bersamaan dengan gangguan produksi, tekanan harga dapat meningkat dalam waktu relatif cepat.
Dengan kondisi iklim yang masih menjadi perhatian hingga penghujung 2026, pemerintah perlu memastikan produksi padi tetap berjalan, memperkuat cadangan beras pemerintah, dan menjaga distribusi antardaerah. Langkah tersebut dinilai penting agar potensi kenaikan harga tidak berkembang menjadi tekanan inflasi pangan yang lebih luas. (Sn)