Batam|EGINDO.co Badan Pengusahaan (BP) Batam memperkuat strategi untuk menjaga laju investasi di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian. Percepatan layanan perizinan dan penguatan kepastian regulasi menjadi bagian penting dari upaya menciptakan iklim usaha yang semakin kompetitif di Batam.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan, pemerintah perlu memastikan investor memperoleh kemudahan serta kepastian dalam menjalankan kegiatan usahanya. Hal tersebut disampaikannya dalam Batam Investment Forum 2026 yang berlangsung di Harris Hotel Batam, Kamis (13/8/2026).
Langkah tersebut sejalan dengan perkembangan positif investasi di Batam. Pada semester I 2026, realisasi investasi tercatat mencapai Rp29,89 triliun, melonjak 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,37 triliun. Jumlah proyek juga meningkat menjadi 15.826 proyek, atau tumbuh 32,82 persen secara tahunan.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa Batam masih menjadi salah satu kawasan yang menarik bagi pelaku usaha, sekaligus memperlihatkan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi kawasan.
BP Batam melihat peningkatan investasi tidak cukup hanya ditopang oleh kemudahan perizinan. Kesiapan infrastruktur, utilitas, kawasan industri, hingga kepastian tata kelola menjadi faktor yang harus berjalan beriringan agar investasi dapat memberikan dampak ekonomi dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut sebelumnya juga ditegaskan Fary melalui gagasan mengenai paradigma baru BP Batam, yakni memastikan kesiapan utilitas sebelum investasi masuk. Menurutnya, kesiapan berbagai kebutuhan dasar menjadi salah satu fondasi penting untuk menciptakan ekosistem investasi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Investasi Mulai Bergeser ke Industri Bernilai Tambah
Pertumbuhan investasi di Batam juga dibarengi perubahan struktur investasi. Berdasarkan data semester I 2026, sektor jasa lainnya menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan nilai sekitar Rp6,09 triliun, disusul industri mesin, elektronika, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar Rp6,07 triliun.
Sektor kimia dan farmasi menyumbang sekitar Rp3,97 triliun, sedangkan perumahan, kawasan industri, dan perkantoran mencapai Rp3,52 triliun. Sementara itu, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi berkontribusi sekitar Rp2,55 triliun.
Perubahan komposisi tersebut mengindikasikan bahwa Batam tidak lagi hanya mengandalkan industri manufaktur konvensional. Minat terhadap sektor berteknologi tinggi, pusat data, industri kimia dan farmasi, serta sektor yang menghasilkan nilai tambah lebih besar mulai meningkat.
ANTARA juga melaporkan bahwa struktur investasi Batam tengah bergerak dari manufaktur perakitan menuju industri berteknologi tinggi. Perubahan tersebut antara lain didorong meningkatnya minat investor terhadap pusat data dan industri dengan tingkat nilai tambah yang lebih tinggi.
Percepatan Layanan Jadi Kunci
Di tengah persaingan antarwilayah dalam menarik modal, kecepatan pemerintah memberikan layanan menjadi salah satu faktor yang menentukan keputusan investor. Proses perizinan yang sederhana, transparan, dan memiliki kepastian waktu dapat mengurangi biaya serta risiko yang harus ditanggung pelaku usaha.
Karena itu, BP Batam terus mendorong penguatan ekosistem investasi agar kebutuhan investor dapat ditangani secara lebih cepat dan terintegrasi. Kepastian regulasi juga menjadi perhatian karena perubahan kebijakan yang tidak terukur dapat memengaruhi perencanaan investasi jangka panjang.
Selain meningkatkan nilai investasi, dampak ekonomi dari masuknya modal ke Batam juga mulai terlihat dari sisi ketenagakerjaan. Data yang dikutip ANTARA menunjukkan realisasi investasi semester I 2026 telah menyerap 40.943 tenaga kerja, terdiri atas 40.423 tenaga kerja Indonesia dan 520 tenaga kerja asing. Total penyerapan tersebut meningkat 32,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, pertumbuhan investasi di Batam tidak hanya tercermin dari peningkatan nilai modal yang masuk, tetapi juga mulai memberikan efek terhadap penciptaan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi daerah.
Menjaga Daya Saing di Tengah Gejolak Global
Tantangan berikutnya adalah mempertahankan momentum tersebut ketika kondisi ekonomi internasional masih menghadapi berbagai tekanan. Perubahan rantai pasok global, dinamika perdagangan internasional, serta persaingan memperebutkan investasi membuat Batam perlu terus memperkuat keunggulan sebagai kawasan industri dan perdagangan strategis.
Dari sisi perdagangan, Batam juga masih memiliki basis ekspor yang kuat. BP Batam mencatat sejumlah komoditas manufaktur tetap menunjukkan pertumbuhan pada awal 2026, termasuk mesin dan peralatan listrik, produk kimia, serta perangkat optik.
Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Batam untuk mengembangkan investasi yang terintegrasi dengan aktivitas produksi dan ekspor.
Ke depan, percepatan perizinan, kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur serta utilitas, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan kemampuan Batam mempertahankan daya saingnya.
Dengan investasi semester I 2026 yang sudah mencapai Rp29,89 triliun, BP Batam memiliki momentum kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan sekaligus memastikan investasi yang masuk menghasilkan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat posisi Batam sebagai salah satu pusat investasi strategis Indonesia. (Sn)