Fukui, Jepang | EGINDO.co – Bank of Japan (BOJ) mungkin terpaksa menaikkan suku bunga secara cepat jika inflasi meningkat tajam, mengingat kondisi keuangan negara yang masih longgar. Hal ini disampaikan oleh anggota dewan BOJ, Kazuyuki Masu, yang memperingatkan adanya risiko harga yang memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September.
Dalam pidato yang disimak dengan cermat menjelang pertemuan kebijakan pekan depan, Masu memperingatkan tentang tekanan harga yang meluas, yang telah mendorong inflasi inti hingga “sangat dekat” dengan target 2 persen.
Pada hari Kamis, ia juga menyatakan bahwa BOJ harus segera membawa suku bunga riil keluar dari wilayah negatif, sebuah sinyal kekhawatiran mengenai dampak negatif dari biaya pinjaman yang terlalu rendah.
Namun, Masu menyebutkan bahwa data terkini tidak menunjukkan tanda-tanda lonjakan inflasi yang besar dan cepat. Hal ini mengisyaratkan bahwa BOJ memandang kecil kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin—yang lebih besar dari perkiraan—pada pekan depan.
Ia tidak memberikan petunjuk eksplisit mengenai waktu maupun laju kenaikan suku bunga di masa mendatang, namun menekankan perlunya penilaian cermat pada setiap pertemuan mengenai seberapa dekat suku bunga kebijakan BOJ dengan tingkat yang dianggap netral bagi perekonomian.
“Inflasi inti hampir mencapai 2 persen, namun kami tidak melihat adanya lonjakan tajam yang melampaui tingkat tersebut,” ujar Masu dalam konferensi pers. “Yang terpenting adalah memastikan inflasi inti stabil di sekitar target kami.”
“Sebagaimana yang telah kami lakukan selama ini, kami harus melangkah dengan hati-hati dalam mengukur jarak (dari tingkat suku bunga netral),” kata Masu saat ditanya mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin.
Suku Bunga Yang Rendah Secara Tidak Alami
Pernyataan Masu menambah deretan komentar bernada *hawkish* dari BOJ serta tekanan dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang semakin memperkuat pandangan bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga bulan ini.
BOJ menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, yakni 1 persen, pada bulan Juni, dengan pandangan bahwa Jepang berada di ambang pencapaian target inflasi 2 persen secara berkelanjutan. Bank sentral tersebut mempertahankan suku bunga tetap pada bulan Juli, namun mengisyaratkan kemungkinan besar kenaikan dalam waktu dekat akibat meningkatnya tekanan harga yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan pelemahan nilai tukar yen. Para analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25 persen pekan depan dan kemudian menjadi 1,75 persen pada kuartal kedua tahun 2027—lebih cepat dari perkiraan sebelumnya—di tengah kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai tekanan harga yang meluas dan pelemahan yen.
Dalam pidato yang disampaikan sebelum sesi pengarahan pers, Masu mengatakan bahwa lonjakan harga produsen baru-baru ini perlu mendapat perhatian karena dapat mendorong inflasi konsumen lebih tinggi dibandingkan masa lalu, mengingat perusahaan secara aktif membebankan kenaikan biaya akibat konflik di Timur Tengah dan pelemahan yen kepada konsumen.
Kenaikan harga bahan bakar dan bahan kimia akibat perang yang melibatkan Iran dapat mendorong kenaikan biaya transportasi yang, ditambah dengan kenaikan harga pangan, dapat berdampak jangka panjang terhadap tingkat harga secara keseluruhan, ujarnya.
“Kondisi keuangan di Jepang masih akomodatif. Jika inflasi di sini meningkat pesat, ada risiko kita mungkin terpaksa harus menaikkan suku bunga secara cepat,” kata Masu dalam pidatonya.
“Saya yakin BOJ perlu menaikkan suku bunga kebijakannya lebih lanjut karena posisinya berada dalam kisaran estimasi suku bunga netral, sehingga menjamin fleksibilitas yang diperlukan untuk menyesuaikan suku bunga secara cepat ke arah mana pun, tergantung pada kondisi ekonomi,” ujarnya terkait normalisasi kebijakan tersebut.
Staf BOJ telah menyusun estimasi yang menunjukkan bahwa suku bunga netral nominal Jepang—yaitu tingkat suku bunga yang tidak mendinginkan maupun memanaskan pertumbuhan ekonomi—berada dalam kisaran 1,1 persen hingga 2,5 persen.
“Suku bunga kebijakan BOJ masih berada di bawah kisaran netral yang diestimasi dan kondisi ini telah berlangsung dalam waktu yang sangat lama,” kata Masu.
“Sulit untuk memastikan apakah kondisi keuangan akan tetap akomodatif, bahkan setelah kenaikan suku bunga menjadi 1,25 persen. Namun, tidak wajar jika suku bunga kebijakan BOJ terus berada di bawah kisaran suku bunga netral.”
Di mata pasar, Masu dianggap sebagai salah satu anggota dewan yang beranggotakan sembilan orang tersebut yang memiliki pandangan netral hingga cenderung *hawkish* (mendukung pengetatan kebijakan) terkait kebijakan moneter.
Terkait keputusan suku bunga pekan depan, Masu mengatakan ia berharap dapat membahas secara mendalam dengan anggota dewan lainnya mengenai bagaimana berbagai faktor—seperti dampak penguatan yen baru-baru ini terhadap biaya impor, kenaikan kembali harga minyak mentah, dan kenaikan harga pangan global yang stabil—dapat memengaruhi prospek inflasi Jepang. Inflasi grosir tahunan tetap tinggi di level tertingginya dalam tiga tahun pada bulan Juli, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa tekanan harga akan merembet ke barang-barang konsumsi seiring langkah perusahaan membebankan kenaikan biaya tersebut. Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan merilis data inflasi grosir bulan Agustus pada hari Jumat.
Sejumlah sumber mengungkapkan kepada Reuters bahwa BOJ bersiap menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September dan sedang mempertimbangkan kenaikan yang lebih agresif setelahnya.
Sumber : CNA/SL