BMKG Wanti-Wanti El Nino Ekstrem: Agustus Jadi Puncak Kemarau Terkering di Indonesia

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang fase terpanas tahun ini. Melalui konferensi pers yang digelar pada Rabu, 10 Juni 2026, di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, otoritas cuaca tersebut memaparkan analisis terbaru mengenai ancaman kekeringan ekstrem yang akan melanda tanah air.

Berdasarkan prediksi tersebut, mayoritas wilayah Indonesia diperkirakan bakal menghadapi puncak periode kering pada Agustus mendatang, dengan cakupan wilayah mencapai hampir separuh daratan. Kondisi ini dipicu oleh fenomena iklim global yang membuat cuaca tahun ini menjadi jauh lebih menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pergeseran Musim dan Peta Sebaran Wilayah

Menurut pemantauan BMKG hingga penghujung Mei lalu, sekitar 11,83% area di Indonesia sebenarnya sudah mulai mengalami kekeringan. Sisanya diprediksi menyusul secara bertahap dengan jadwal puncak kemarau yang bervariasi di setiap daerah.

Berikut adalah rincian zonasi wilayah dan prediksi waktu puncak kekeringan:

  • Juli (Meliputi 12,26% Luas Daratan): Menjadi awal fase terberat bagi sebagian Sumatra, sebagian kecil Jawa dan Kalimantan, area selatan Nusa Tenggara Timur, wilayah utara Sulawesi Barat, bagian barat Sulawesi Tengah, segelintir kawasan di Maluku, serta beberapa zona di Papua (Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur).

  • Agustus (Meliputi 48,84% Luas Daratan): Merupakan fase kritis nasional yang mencakup wilayah terluas, mulai dari Sumatra bagian tengah, hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, mayoritas Kalimantan, sebagian Sulawesi dan Maluku, hingga hampir seluruh tanah Papua.

  • September (Meliputi 25,41% Luas Daratan): Pergeseran puncak kering terakhir akan melanda Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, sebagian besar Sumatra Selatan, sebagian kecil Jawa, area luas di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, mayoritas Sulawesi dan Maluku Utara, serta wilayah tengah Papua Pegunungan.

Ancaman El Nino Moderat hingga Kuat

Penyebab utama dari cuaca ekstrem kali ini adalah aktivitas El Nino yang diproyeksikan terus bertahan hingga pergantian tahun menuju 2027. BMKG mengonfirmasi bahwa probabilitas kemunculan El Nino dengan kekuatan moderat berada di angka 98%, sementara potensi untuk berkembang menjadi kategori kuat mencapai 62%.

Dampaknya, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan terkikis drastis dari pertengahan tahun hingga awal tahun depan. Meskipun demikian, BMKG memberikan catatan bahwa masa transisi menuju musim penghujan diperkirakan sudah mulai terjadi di beberapa tempat pada akhir Oktober.

Langkah Strategis dan Antisipasi Sektoral

Menyikapi ancaman kekeringan yang panjang dan ekstrem ini, otoritas terkait merilis sejumlah panduan bagi berbagai sektor strategis:

Sektor Pertanian & Ketahanan Pangan Para petani disarankan segera mengubah pola tanam. Pilihan varietas musti dialihkan pada benih yang tidak boros air, memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca panas, serta memiliki masa panen yang lebih cepat (genjah).

Sektor Pengelolaan Air & Energi Pengelola infrastruktur diharapkan segera melakukan pembenahan tata air, mulai dari normalisasi fungsi waduk hingga perbaikan pipa-pipa penyaluran. Hal ini penting demi menjamin pasokan air bersih warga serta menjaga kestabilan volume air bendungan yang menggerakkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Sektor Kesehatan & Pemerintah Daerah Pemerintah di tingkat regional diminta bersiaga penuh menyusun skenario darurat. Mengingat kemarau panjang kerap memicu penurunan kualitas udara akibat debu maupun kebakaran lahan, antisipasi dini terhadap lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) harus menjadi prioritas utama. (Sn)

Scroll to Top