Kuala Lumpur | EGINDO.co – Di kawasan elite Solaris Mont Kiara yang terletak di pinggiran barat laut Kuala Lumpur, berbagai bisnis milik warga Korea—mulai dari restoran dan toko bahan makanan premium hingga klinik kecantikan dan salon rambut—berjejer di sepanjang jalan.
Kawasan yang menjadi tempat tinggal bagi komunitas ekspatriat Korea yang cukup besar ini sering dijuluki sebagai “Little Korea”.
Sebelum pandemi COVID-19, terdapat lebih dari 25.000 warga Korea yang tinggal di Malaysia; banyak di antaranya berasal dari kalangan pebisnis beserta keluarga mereka.
Selain itu, ada pula pelajar yang datang ke Malaysia untuk belajar bahasa Inggris atau menempuh pendidikan lebih lanjut.
Jumlah tersebut sempat turun menjadi sekitar 15.000 jiwa setelah pandemi, meskipun populasi warga Korea kini berangsur pulih kembali.
Familiaritas masyarakat Malaysia terhadap budaya Korea menjadi salah satu faktor yang menarik minat bisnis Korea untuk masuk ke negara ini, ujar Han Yong Jae, atase perdagangan di Kedutaan Besar Republik Korea di Malaysia.
“Masyarakat Malaysia menyukai drama Korea (K-drama) dan musik Korea (K-pop), sehingga kedekatan budaya ini dapat menarik minat warga Korea untuk datang ke Malaysia,” ujarnya.
Perusahaan-perusahaan Korea juga berupaya memperkenalkan berbagai produk, seperti makanan halal dan kosmetik, ke pasar Malaysia, tambahnya.
“Perusahaan Korea meyakini bahwa jika mereka berhasil sukses di Malaysia, maka mereka juga dapat meraih kesuksesan di negara-negara ASEAN lainnya.”
Permintaan Asing Mengubah Pasar Sewa
Selama bertahun-tahun, kedatangan penduduk asing dengan daya beli tinggi di Solaris Mont Kiara serta kawasan sekitarnya—seperti Mont Kiara dan Sri Hartamas—telah mendorong permintaan akan ruang usaha, sekaligus mengubah wajah pasar properti dan penyewaan lokal.
Ken Wong, seorang pemilik bisnis asal Malaysia, telah menjalankan salon rambutnya, No21 Salon, di Solaris Mont Kiara selama 15 tahun terakhir.
Ia mengatakan bahwa persaingan untuk mendapatkan lokasi strategis semakin ketat seiring masuknya gelombang baru bisnis milik warga asing yang berkecukupan, termasuk dari Tiongkok.
Menurut Wong, beberapa pendatang baru bersedia membayar harga jauh di atas tarif sewa yang berlaku demi mendapatkan unit toko yang strategis.
“Pemilik properti sering kali melipatgandakan harga sewa untuk mengusir penyewa lama dan membebankan biaya lebih tinggi kepada pendatang baru,” ujarnya.
“Pelaku usaha lokal tidak mampu bersaing ketika pendatang baru bersedia menawarkan harga RM15.000 (US$3.712) untuk unit yang harga sewanya biasanya hanya RM10.000.”
Penawaran harga yang lebih tinggi ini memang menggiurkan bagi pemilik properti, namun pelaku usaha lokal merasa dirugikan oleh praktik tersebut. BISNIS LOKAL MERASAKAN TEKANAN
Persaingan dari bisnis yang bersedia membayar sewa lebih tinggi telah meningkatkan ekspektasi pemilik properti mengenai nilai sewa yang bisa mereka peroleh, ujar William Ng, presiden Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Malaysia.
“Bagi pemilik properti, mengapa tidak? Jika Anda bersedia membayar lebih, saya tentu lebih memilih Anda dibandingkan pelaku usaha lokal,” katanya.
“Hal ini memicu ekspektasi yang tidak realistis di kalangan pemilik properti mengenai besaran sewa yang mampu dibayar oleh UKM lokal, sehingga mendorong kenaikan harga properti secara tidak wajar.”
Dampaknya terasa paling berat pada unit toko di lantai dasar, yang sering kali menjadi incaran pelaku usaha karena visibilitasnya yang tinggi dan banyaknya lalu-lalang pejalan kaki.
Seiring naiknya harga sewa ruang-ruang tersebut, sebagian penyewa lokal terpaksa mencari lokasi yang lebih murah di lantai atas, sementara yang lain harus meninggalkan tempat usaha mereka sepenuhnya.
Perubahan komposisi penyewa ini menyoroti dilema yang lebih luas bagi Kuala Lumpur dalam upayanya menarik bisnis dan investasi asing.
Di sisi lain, persaingan yang kian ketat dapat mendorong pelaku usaha untuk berekspansi ke luar ibu kota, yang berpotensi memeratakan investasi dan menciptakan peluang pertumbuhan di negara bagian lain, ujar Han dari Kedutaan Besar Korea.
Bagi pelaku usaha lokal yang telah lama beroperasi di kawasan paling diminati di Kuala Lumpur, tantangannya adalah mempertahankan kelangsungan bisnis mereka di tengah situasi ini.
Sumber : CNA/SL