Jakarta|EGINDO.co Ketegangan geopolitik global mulai memberi tekanan pada perdagangan minyak sawit Indonesia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) melaporkan lonjakan biaya logistik dan premi asuransi pengiriman ekspor hingga sekitar 50% di tengah memanasnya dinamika konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menjelaskan bahwa aktivitas ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia sejauh ini masih berlangsung. Namun, tekanan biaya pengiriman yang meningkat tajam mulai memengaruhi kontrak perdagangan baru dengan pembeli luar negeri.
Menurut Eddy, sebagian besar pengapalan yang saat ini berjalan merupakan realisasi kontrak lama yang telah disepakati sebelumnya. Sementara itu, transaksi ekspor baru mulai menunjukkan perlambatan karena pelaku usaha mempertimbangkan kenaikan ongkos pengiriman yang cukup signifikan.
Salah satu faktor utama yang memicu lonjakan biaya logistik adalah risiko pengiriman melalui jalur strategis di Selat Hormuz, yang merupakan rute penting bagi perdagangan energi dan komoditas global. Ketidakpastian keamanan di kawasan tersebut membuat premi asuransi kapal meningkat tajam dan berdampak langsung pada ongkos ekspor.
Dampaknya, pengiriman sawit Indonesia ke beberapa negara di kawasan Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab dan Iran untuk sementara waktu terhenti. Meski demikian, Eddy menilai kontribusi ekspor ke kedua negara tersebut relatif kecil terhadap total ekspor sawit nasional.
Di sisi lain, pasar utama minyak sawit Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Permintaan dari negara-negara konsumen besar seperti India, China, serta Arab Saudi tetap berjalan normal. Aktivitas pengapalan bahkan masih berlangsung setiap hari dari sejumlah pelabuhan utama Indonesia, termasuk di Pelabuhan Tanjung Priok.
Meski demikian, Gapki belum melihat adanya lonjakan permintaan tambahan dari pasar utama tersebut. Hal ini disebabkan oleh keberadaan alternatif minyak nabati lain di pasar global, seperti minyak bunga matahari dan minyak kedelai, yang dapat menggantikan sebagian kebutuhan minyak sawit.
Dari sisi harga, pasar CPO global juga belum menunjukkan lonjakan signifikan meskipun ketegangan geopolitik meningkat. Harga minyak sawit mentah internasional masih bertahan di kisaran US$1.100 per ton.
Sejumlah laporan media internasional seperti Reuters dan Bloomberg juga menyoroti bahwa meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat memicu kenaikan biaya pelayaran dan asuransi maritim global, yang pada akhirnya berdampak pada perdagangan komoditas dunia, termasuk minyak sawit.
Gapki berharap eskalasi konflik di kawasan tersebut tidak berlangsung lama. Jika situasi keamanan kembali stabil, biaya logistik diperkirakan dapat kembali normal sehingga permintaan ekspor minyak sawit Indonesia berpotensi pulih. (Sn)