BI Tahan Suku Bunga, SBN Beda Arah

Ilustrasi pergerakan pasar SBN di tengah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Ilustrasi pergerakan pasar SBN di tengah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Jakarta|EGINDO.co Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% sambil menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5% diperkirakan memberikan dampak berbeda terhadap pasar Surat Berharga Negara (SBN). Obligasi tenor panjang berpotensi memperoleh sentimen netral hingga positif, sedangkan tenor pendek dapat menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, menilai kenaikan suku bunga Deposit Facility memperkuat batas bawah suku bunga pasar uang tanpa mengubah suku bunga acuan. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan imbal hasil atau yield obligasi berdasarkan tenornya.

Sementara itu, RHB Sekuritas memperkirakan ekspektasi kenaikan suku bunga dapat mendorong yield obligasi meningkat sehingga menekan harga. Namun, obligasi tenor pendek hingga menengah dinilai relatif lebih defensif di tengah ketidakpastian pasar.

Stabilitas rupiah menjadi faktor penting bagi pergerakan SBN selanjutnya. Apabila kebijakan BI mampu meredam tekanan terhadap nilai tukar dan mengurangi arus modal keluar, pasar obligasi berpeluang kembali stabil.

Dari sisi makroekonomi, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% berada di luar ekspektasi pasar yang sebelumnya mengantisipasi kenaikan menjadi 6%.

Data riset Kiwoom Sekuritas per 21 Oktober 2026 menunjukkan pertumbuhan kredit Indonesia pada September 2026 mencapai 13,26% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut masih melampaui proyeksi BI sebesar 8%–12% untuk sepanjang 2026, meskipun melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

BI kini menghadapi tantangan menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dan inflasi dengan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi. Pelonggaran likuiditas diharapkan mendukung penyaluran kredit, tetapi tekanan rupiah dan ketidakpastian global berpotensi membatasi ruang pelonggaran moneter lebih lanjut.

Dengan demikian, arah pasar SBN ke depan akan sangat dipengaruhi efektivitas kebijakan BI dalam menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. (Sn)

Scroll to Top