BI Tahan Suku Bunga di Level 4,75%, Fokus Perisai Rupiah dari Dampak Perang Timur Tengah

Logo Bank Indonesia (BI)
Logo Bank Indonesia (BI)

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) kembali mengambil langkah konservatif demi membentengi ekonomi domestik dari badai geopolitik. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21-22 April 2026, bank sentral resmi mempertahankan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di angka 4,75%.

Keputusan ini sekaligus menandai bulan ketujuh BI memarkir tingkat suku bunga di level yang sama. Tidak hanya suku bunga acuan, deposit facility dan lending facility juga dipatok stabil, masing-masing pada level 3,75% dan 5,5%.

Membaca Gejolak Global: Minyak dan Suku Bunga AS

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa kebijakan ini merupakan langkah antisipatif terhadap tensi perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Konflik ini tidak hanya mengganggu stabilitas keamanan, tetapi juga memicu kenaikan harga minyak dunia akibat disrupsi di Selat Hormuz.

“Kami mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3%, turun sedikit dari estimasi awal 3,1%. Inflasi global pun diprediksi merangkak ke angka 4,2%,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual pada Rabu (22/4).

Perry menambahkan bahwa kondisi ini mempersempit celah bagi bank sentral AS, Federal Reserve, untuk menurunkan suku bunga mereka (Fed Fund Rate). BI memproyeksikan bunga di AS kemungkinan besar akan bertahan tinggi hingga penghujung 2026.

Strategi Intervensi ‘Habis-habisan’

Meski nilai tukar Rupiah terpantau stabil di kisaran Rp17.140 per dolar AS, BI mencatat adanya depresiasi sebesar 0,87% sejak akhir Maret. Guna menahan pelemahan lebih lanjut, BI menegaskan komitmennya untuk melakukan intervensi di berbagai lini, mulai dari pasar spot hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain intervensi langsung, BI mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Strategi ini terbukti ampuh menarik minat investor global. Data menunjukkan:

Total Outstanding SRBI: Mencapai Rp885,41 triliun per 21 April 2026.

Kepemilikan Asing: Investor non-residen kini menguasai 18,75% atau sekitar Rp165,98 triliun dari total instrumen tersebut.

Arus Modal Masuk: Aliran modal asing (net inflow) kembali mengalir sebesar US$1,9 miliar hingga pertengahan April.

Likuiditas untuk Sektor Riil Tetap Mengalir

Walaupun kebijakan moneter cenderung ketat, BI memastikan perbankan tetap memiliki “napas” untuk menyalurkan kredit. Lewat kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), dana sebesar Rp427,9 triliun telah digelontorkan ke perbankan.

Prioritas pembiayaan diarahkan pada sektor strategis seperti ketahanan pangan, energi, dan hilirisasi. Dengan dukungan ini, penyaluran kredit tahun ini diprediksi tetap tumbuh positif di angka 8% hingga 12%.

Sinergi Pemerintah: Harga BBM Dipastikan Aman

Di sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN masih cukup tangguh untuk meredam lonjakan harga minyak dunia. Pemerintah memberikan jaminan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026, meski harga minyak mentah menembus US$100 per barel.

“Tugas kami adalah memastikan sektor riil tetap tumbuh dengan menjaga likuiditas sistem perekonomian,” kata Purbaya.

Pandangan Analis

Ekonom PT Bank Permata Tbk., Josua Pardede, menilai manuver BI sudah sangat logis. Menurutnya, BI saat ini sedang bermain aman karena risiko inflasi energi dan tekanan Rupiah lebih besar daripada peluang untuk melonggarkan kebijakan.

Senada dengan itu, Myrdal Gunarto dari Maybank menekankan pentingnya sinergi antara otoritas moneter dan pemerintah agar suplai valas tetap terjaga di tengah tingginya kebutuhan impor energi nasional. (Sn)

Scroll to Top