Jakarta|EGINDO.co Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% menjadi sinyal kehati-hatian otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global. Meski sepanjang 2025 bank sentral telah memangkas suku bunga sebanyak lima kali, ruang pelonggaran dinilai masih terbuka apabila kondisi makroekonomi mendukung.
Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas, Francisca Gerungan, menilai arah kebijakan moneter saat ini masih bersifat “wait and see”. Namun demikian, ia mengingatkan agar investor tidak membiarkan dana mengendap tanpa imbal hasil.
“Dalam kondisi seperti ini, disiplin diversifikasi menjadi kunci. Investor bisa mempertimbangkan reksa dana pasar uang maupun reksa dana pendapatan tetap untuk menjaga stabilitas portofolio,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Dengan BI Rate bertahan di 4,75%, instrumen berbasis pendapatan tetap dinilai tetap menarik, terutama bagi investor dengan profil risiko moderat hingga konservatif. Reksa dana pasar uang menawarkan likuiditas tinggi dan risiko relatif rendah, sementara reksa dana pendapatan tetap berpotensi memberikan imbal hasil lebih kompetitif jika suku bunga kembali turun.
Sejumlah analis juga menilai stabilitas suku bunga memberi kepastian bagi pelaku pasar keuangan dalam jangka pendek. Media bisnis seperti Bisnis.com menyoroti bahwa konsistensi kebijakan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga arus modal dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, Kontan mencatat investor institusi mulai meningkatkan porsi obligasi pemerintah sebagai langkah antisipatif terhadap potensi pelonggaran lanjutan.
Francisca menambahkan, peluang pemangkasan suku bunga tetap ada, bergantung pada inflasi domestik, stabilitas nilai tukar, serta arah kebijakan bank sentral global. Jika tekanan eksternal mereda dan inflasi tetap terkendali, pelonggaran moneter lanjutan dapat menjadi katalis positif bagi pasar obligasi maupun saham.
Dalam situasi suku bunga yang cenderung stabil, investor disarankan tetap aktif mengelola portofolio. Prinsipnya, dana tidak hanya aman, tetapi juga produktif. Diversifikasi lintas instrumen menjadi pendekatan rasional untuk mengoptimalkan potensi imbal hasil sekaligus memitigasi risiko.
Dengan kombinasi kebijakan moneter yang terukur dan strategi investasi yang selektif, pelaku pasar diharapkan mampu menjaga kinerja portofolio di tengah fase transisi kebijakan suku bunga. (Sn)