BI Siaga Jaga Rupiah, Gejolak Timur Tengah Picu Tekanan Pasar

Logo Bank Indonesia (BI)
Logo Bank Indonesia (BI)

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus berada di pasar guna meredam gejolak nilai tukar rupiah menyusul meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan tersebut memicu ketidakpastian global dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan otoritas moneter akan memonitor dinamika pasar secara intensif serta mengambil langkah responsif agar pergerakan rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi domestik.

“BI akan terus melakukan intervensi terukur, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore maupun intervensi spot dan Domestic NDF (DNDF) di pasar domestik,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Di pasar valuta asing, rupiah tercatat melemah 0,48 persen atau 81 poin ke level Rp16.868 per dolar AS pada penutupan perdagangan awal pekan. Tekanan terjadi seiring meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global.

Sejumlah analis yang dikutip oleh Bloomberg menilai eskalasi konflik berpotensi mengerek harga minyak mentah secara signifikan, terutama bila jalur distribusi energi di Selat Hormuz terganggu. Bahkan, harga minyak dunia disebut berpeluang menembus USD100 per barel apabila pasokan global terhambat.

Data pasar menunjukkan harga minyak jenis Brent melonjak 7,6 persen ke posisi USD78 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 7,4 persen ke level USD72 per barel. Laporan Reuters juga mencatat lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan suplai di kawasan Teluk.

BI menegaskan, selain menjaga stabilitas nilai tukar, bauran kebijakan moneter juga akan dioptimalkan guna memastikan transmisi suku bunga berjalan efektif serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang meningkat. (Sn)

Scroll to Top