BI Pertahankan BI-Rate 5,75 Persen, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas Hadapi Gejolak Global

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) menegaskan fokus kebijakan moneternya tetap diarahkan pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Sikap tersebut diambil menyusul tingginya suku bunga acuan di Amerika Serikat serta meningkatnya risiko akibat konflik geopolitik yang berdampak pada perekonomian dunia.

Penjabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan dinamika global tersebut menjadi tantangan yang harus diantisipasi melalui kebijakan yang terukur. Menurutnya, gangguan terhadap jalur logistik internasional dan masih tingginya harga minyak mentah berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi, termasuk di Indonesia.

“Ekonomi global tersebut akan memengaruhi kebijakan ekonomi yang diambil oleh BI maupun Pemerintah. Kita harus tetap menjaga stabilitas karena konflik yang belum selesai mengganggu logistik dan membuat harga minyak tetap tinggi,” ujar Destry dalam Editors Briefing Bank Indonesia, Jumat (31/7/2026).

Untuk menjaga kepercayaan pasar dan mengantisipasi risiko eksternal, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap terkendali, memperkuat stabilitas pasar keuangan, serta menopang nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar global.

Dari sisi pasar keuangan, kondisi domestik menunjukkan perkembangan yang positif. Hingga pekan terakhir Juli 2026, arus modal asing yang masuk ke Indonesia telah mencapai sekitar Rp195 triliun atau lebih dari US$10 miliar. Besarnya aliran dana tersebut dinilai memperkuat cadangan devisa nasional sekaligus meningkatkan likuiditas di pasar keuangan.

Sejumlah pengamat menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga mencerminkan langkah yang hati-hati dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan momentum pertumbuhan. Di tengah ketidakpastian global, kebijakan tersebut juga dipandang penting untuk mempertahankan daya saing aset keuangan Indonesia di mata investor internasional.

Laporan Bisnis Indonesia menyebutkan bahwa derasnya arus modal asing menjadi salah satu indikator positif terhadap kepercayaan investor pada fundamental ekonomi Indonesia. Sementara itu, Kontan menilai stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap menjadi perhatian utama BI hingga terdapat kepastian mengenai arah kebijakan moneter global, terutama dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah diperkirakan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas makroekonomi, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan daya tahan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih membayangi. (Sn)

Scroll to Top