Beda dengan Kini, Mal Pertama di Indonesia Melarang Menjual Barang Mahal

 Mal Sarinah, mal pertama di Indonesia ketika sedang direnovasi total. (Foto: Fadmin Malau)
Mal Sarinah, mal pertama di Indonesia ketika sedang direnovasi total. (Foto: Fadmin Malau)

Jakarta | EGINDO.com – Berbeda dengan kini. Mal itu identik dengan barang mahal. Namun, untuk Mal pertama di Indonesia justru melarang menjual barang mahal. Untuk itu kini kekhawatiran masyarakat bila ke Mal tidak mampu untuk membeli barang yang dijual di Mal. Akhirnya banyak yang datang ke Mal hanya melihat-lihat saja tanpa membeli.

Faktanya memang produk atau barang yang dijual di mal-mal saat ini mematok harga lebih tinggi ketimbang di pasar tradisional atau platform online. Muncul fenomena Mal menjadi tempat nongkrong kelas menengah.

Dahulu Mal pertama di Indonesia produk atau barang yang dijual harga barang-barangnya terjangkau oleh banyak masyarakat. Mal pertama di Indonesia itu sampai kini masih ada meskipun sudah beberapa kali berganti bentuk atau bangunannya sudah berubah total akan tetapi letaknya masih tetap pada lokasi yang sama.

Mal itu adalah Sarinah yang dibangun berdasarkan keinginan Presiden pertama Indonesia, Dr. Ir. Soekarno pada tahun 1960-an, sebanyak marwah Indonesia di mata dunia dan kala itu Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 1962.

Jika melihat kondisi ekonomi saat itu masih sulit sebab inflasi masih tinggi akan tetapi Presiden pertama itu membangun proyek konsumtif. Bukan saja Sarinah sebagai Mal pertama di Indonesia akan tetapi Soekarno juga membangun hotel yakni Hotel Indonesia (HI) dan stadiom Gelora Bung Karno.

Namun, hebatnya Mal pertama itu bisa menjual prodak atau barang dengan harga murah. Dalam buku seorang wartawan Rosihan Anwar berjudul “Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik” (2006) menceritakan, dalih Soekarno membuat mal pertama adalah sebagai solusi mengatasi kesulitan rakyat di bidang sandang dan pangan.

Disebutkan Soekarno membangun Mal tidak kapitalis, tetapi harus berorientasi ekonomi sosialis. Mal tersebut akan menjadi tempat promosi bagi barang produksi dalam negeri, khususnya hasil pertanian dan perindustrian. Seluruh barang harus dijual murah atau tidak terlalu tinggi, sehingga mall pertama Sarinah dapat menjadi stabilisator harga.

Pembangunan Mal pertama selesai pada 17 Agustus 1962 itu dan selesai pada 17 Agustus 1966, Sarinah resmi dibuka. Peresmian Sarinah mencatat rekor serbaneka pertama. Sarinah dimana sosok Sarinah seorang wanita pengasuh Soekarno semasa kecil. Filosofinya agar Mal itu menjadi tonggak sejarah perkembangan Indonesia dimana Sarinah yang mengasuhnya dari kecil hingga dewasa. Sarinah menjadi mall pertama di Asia Tenggara yang berisikan ruangan berpendingin udara pertama dan eskalator pertama.

Luar biasa dan yang luar biasanya lagi Mal Sarinah adalah Mal yang melarang menjual barang mahal. Masih adakah kini seperti itu?@

Fd/timEGINDO.com

Scroll to Top