Bantuan Terus Mengalir Ke Indonesia Yang Dilanda Topan

Bencana Banjir dan Longsor di Flores dan Timor Leste
Bencana Banjir dan Longsor di Flores dan Timor Leste

Lembata | EGINDO.co – Dua kapal angkatan laut Indonesia yang dikemas dengan bantuan tiba pada Kamis (8 April) di bagian kepulauan yang dilanda topan, ketika jumlah korban tewas meningkat menjadi hampir 180 orang, termasuk puluhan tewas di negara tetangga Timor-Leste.

Kapal-kapal yang berlabuh di pulau Lembata dan Adonara yang terkena dampak paling parah dengan kapal rumah sakit juga dalam perjalanan ke gugusan pulau yang porak poranda di Indonesia timur di mana ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan puluhan lainnya masih hilang.

Hujan deras dari Topan Tropis Seroja, salah satu badai paling merusak yang melanda wilayah itu selama bertahun-tahun, mengubah komunitas kecil menjadi tanah terlantar dari lumpur dan pohon-pohon tumbang, menyebabkan ribuan orang melarikan diri ke tempat perlindungan di tengah pemadaman listrik yang meluas.

Badai pada hari Minggu menyapu bangunan di beberapa desa di lereng gunung dan ke pantai laut di Lembata, tempat salah satu kapal bantuan tiba pada hari Kamis.

Kapal angkatan laut dikemas dengan makanan, termasuk nasi dan mie, serta selimut dan bahan lainnya untuk lebih dari 20.000 pengungsi di kawasan itu.

“Kedua kapal angkatan laut itu tiba hari ini,” kata Kompiang Aribawa, seorang kepala pangkalan angkatan laut regional.

“Kapal lain akan tiba hari ini membawa personel militer yang akan dikerahkan untuk membantu orang-orang setelah bencana,” tambahnya.

Sebuah pesawat kargo meninggalkan Jakarta menuju wilayah yang dilanda bencana dengan sekitar 100.000 masker wajah, alat uji virus, serta menyiapkan makanan dan selimut untuk para korban, kata kepala badan bencana Indonesia sebelumnya.

Setidaknya 140 orang telah terdaftar sebagai tewas di Indonesia.

Banjir mematikan di Indonesia dan Timor Leste
Factfile tentang banjir di Indonesia dan Timor Leste yang menewaskan puluhan orang sejak akhir pekan lalu. AFP

37 lainnya tewas di Timor-Leste, negara setengah pulau kecil berpenduduk 1,3 juta yang terjepit di antara Indonesia dan Australia.

Lebih dari 70 orang masih terdaftar sebagai hilang, dengan pejabat badan bencana mengerahkan anjing pelacak untuk mencari tumpukan puing-puing – dan siapa pun yang selamat.

Tim penyelamat telah menghabiskan beberapa hari terakhir menggunakan penggali dan sekop untuk mengeluarkan mayat yang tertutup lumpur dari puing-puing.

Rumah sakit, jembatan, dan ribuan rumah rusak atau hancur akibat badai.

Pihak berwenang di kedua negara juga berjuang untuk menghindari wabah COVID-19 di tempat penampungan yang penuh sesak.

Tanah longsor yang fatal dan banjir bandang biasa terjadi di seluruh kepulauan Indonesia selama musim hujan, dengan penggundulan hutan sering menjadi penyebabnya, kata para pencinta lingkungan.

Badan penanggulangan bencana memperkirakan bahwa 125 juta orang Indonesia – hampir setengah dari populasi negara – tinggal di daerah yang berisiko longsor.
Sumber : CNA/SL