Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) memproyeksikan perekonomian Indonesia akan tetap berada pada jalur pertumbuhan yang solid dalam dua tahun ke depan. Pada 2026, ekonomi nasional diperkirakan tumbuh di kisaran 4,9–5,7 persen, dengan prospek peningkatan yang lebih kuat pada 2027 seiring berlanjutnya reformasi struktural dan penguatan permintaan domestik.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama dalam menjaga momentum pertumbuhan tersebut. Dari sisi harga, inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen ±1 persen, didukung oleh kebijakan moneter yang konsisten serta koordinasi erat antara bank sentral dan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Selain menjaga stabilitas, BI juga menaruh perhatian besar pada fungsi intermediasi perbankan. Pertumbuhan kredit diarahkan untuk terus meningkat, khususnya ke sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja. Langkah ini diharapkan dapat menopang pemulihan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Di bidang sistem pembayaran, Bank Indonesia menegaskan komitmennya dalam mempercepat digitalisasi transaksi keuangan. Perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi salah satu fokus utama, baik untuk mendorong inklusi keuangan maupun meningkatkan efisiensi ekonomi digital. Transformasi ini dinilai penting untuk memperkuat daya saing nasional di tengah perkembangan teknologi global.
Perry Warjiyo menyampaikan proyeksi dan arah kebijakan tersebut dalam acara Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 yang digelar pada Rabu, 28 Januari 2026. Menurutnya, sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran akan terus diperkuat agar stabilitas tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi dapat berlanjut.
Sejalan dengan pandangan BI, sejumlah lembaga dan media internasional juga menilai fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat di tengah ketidakpastian global. Reuters sebelumnya menyoroti ketahanan konsumsi domestik Indonesia sebagai penopang utama pertumbuhan, sementara Kompas mencatat bahwa pengendalian inflasi dan percepatan digitalisasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha dan investor.
Dengan kombinasi stabilitas harga, pertumbuhan kredit yang sehat, serta akselerasi ekonomi digital, Bank Indonesia optimistis perekonomian nasional memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh lebih tinggi dan berkelanjutan dalam beberapa tahun mendatang. (Sn)