Asian Games Dibuka di Nagoya dengan Perayaan Solidaritas dan Budaya Jepang

Pembukaan Asian Games di Nagoya - Jepang
Pembukaan Asian Games di Nagoya - Jepang

Nagoya | EGINDO.co – Sebuah upacara yang merayakan solidaritas Asia dan sejarah lokal menandai dimulainya Asian Games ke-20 di Nagoya, ibu kota Prefektur Aichi, pada hari Sabtu (19 September).

Di Stadion Paloma Mizuho yang berkapasitas 30.000 penonton, sebuah upacara sederhana menandai kembalinya ajang olahraga terbesar di kawasan ini ke Jepang untuk pertama kalinya dalam 32 tahun.

Pesta olahraga ini akan berlangsung dari 19 September hingga 4 Oktober, dengan beberapa cabang olahraga seperti bola voli, bola basket, dan sepak bola yang sudah mulai dipertandingkan.

Sebuah kontingen yang terdiri dari 304 atlet dari 27 cabang olahraga akan mewakili Singapura.

Sebagian besar pertandingan dalam ajang ini akan berlangsung di Prefektur Aichi, dengan sejumlah kompetisi diadakan di tempat lain, termasuk di ibu kota Jepang, Tokyo.

Masa persiapan menjelang ajang ini sempat diwarnai oleh keluhan dari berbagai tim mengenai kualitas dan ketersediaan akomodasi.

Tanda-tanda kurangnya antusiasme publik terlihat jelas pada hari Sabtu, di mana beberapa bagian tribun penonton tampak kosong selama upacara pembukaan yang berlangsung dalam suasana yang agak sepi.

Beberapa tim juga sempat tertahan selama berjam-jam di bandara saat kedatangan, sementara curah hujan dengan rekor tertinggi menyebabkan banjir di Nagoya pekan lalu.

Pada hari Jumat, lagu kebangsaan Korea Utara sempat diputar secara keliru menjelang pertandingan hoki putra antara Bangladesh dan Korea Selatan.

Lebih dari 17.000 atlet dan ofisial diperkirakan akan hadir dalam ajang ini—jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan Olimpiade.

“Denyut Nadi Tradisi”

Beberapa jam sebelum upacara pembukaan, warga setempat disuguhi pertunjukan spektakuler yang menandai dimulainya ajang olahraga ini.

Blue Impulse—tim demonstrasi aerobatik Angkatan Udara Bela Diri Jepang—membelah langit dan membentuk pola hati berukuran besar di atas pusat kota Nagoya.

Di hadapan para tokoh penting seperti Kaisar Jepang Naruhito, Permaisuri Masako, dan Presiden Komite Olimpiade Internasional Kirsty Coventry, upacara dimulai dengan penampilan solo biola oleh musisi Jepang Taro Hakase di atas panggung utama yang berbentuk hati.

Di bawahnya, 240 penari dari kalangan warga menari mengikuti irama musik yang ceria, hingga akhirnya membentuk kata “Welcome” (Selamat Datang).

Acara dilanjutkan dengan penampilan lagu kebangsaan Jepang oleh penyanyi Keiko Toda serta pengibaran bendera nasional. Setelah ajang ini secara resmi dibuka oleh Kaisar Naruhito, tampil dua segmen yang menyoroti wilayah setempat—yang pertama menampilkan “denyut nadi tradisi” Aichi-Nagoya.

Segmen ini menampilkan balon raksasa berbentuk Kastil Nagoya, pertunjukan barongsai yang dilakukan oleh aktor Kabuki di udara, serta penyanyi virtual yang diciptakan menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Pertunjukan lainnya memberikan penghormatan bagi peran Aichi-Nagoya sebagai pusat manufaktur, dengan melibatkan berbagai penampil—termasuk penari yang mengenakan setelan bisnis—serta kendaraan mobilitas futuristik Toyota yang bergerak di atas panggung.

Dalam momen istimewa, peraih lima medali emas ajang ini, Murofushi Shigenobu, bersama putranya Koji Murofushi (juara Olimpiade 2004), kemudian menyalakan kaldron ajang tersebut secara bersama-sama.

“Olahraga memiliki kekuatan luar biasa untuk menyatukan orang-orang melintasi perbedaan bahasa, budaya, dan batas negara,” ujar presiden penyelenggara ajang ini, Hideaki Ohmura.

“Slogan ajang ini mencerminkan harapan bahwa meskipun masih ada wilayah di dunia yang dilanda konflik dan perpecahan, melalui ajang ini, orang-orang akan saling memahami dan menghormati, menjalin persahabatan, bersatu padu, serta melangkah maju bersama menuju masa depan.”

Dalam parade kontingen negara, para atlet dan ofisial Singapura dipimpin oleh atlet kayak Brandon Ooi dan atlet anggar Kiria Tikanah.

“Berjalan memasuki stadion sambil membawa bendera Singapura sungguh mengharukan. Saya merasa sangat bangga, namun juga sedikit gugup karena hal itu membuat segalanya terasa begitu nyata dan menyadarkan kami bahwa kami akhirnya benar-benar berada di sini,” ungkap Kiria, atlet yang telah dua kali berlaga di Olimpiade.

“Saya merasa sangat terhormat dan bangga bisa membawa bendera serta memimpin kontingen. Tim kano tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk berparade pada upacara pembukaan, karena kami sering kali baru tiba di lokasi ajang setelah upacara tersebut usai,” tambah Ooi.

Hampir dua pertiga dari atlet Singapura yang berpartisipasi kali ini baru pertama kali tampil di Asian Games.

Pada ajang sebelumnya di Hangzhou, Singapura meraih 16 medali, termasuk tiga medali emas yang dipersembahkan oleh Shanti Pereira dari cabang atletik, Maximilian Maeder dari cabang *kitefoiling*, dan…

Pada ajang sebelumnya di Hangzhou, Singapura meraih 16 medali, termasuk tiga medali emas dari Shanti Pereira di cabang atletik, Maximilian Maeder di cabang kitefoiling, dan Ryan Lo di cabang layar.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top