Jakarta | EGINDO.com – Arara Abadi, salah satu unit pengelolaan kehutanan Asia Pulp and Paper (APP) Sinarmas berkolaborasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan masyarakat untuk menyelamatkan penghuni hutan liar Riau, Indonesia.
Berangkat dari kekhawatiran terus-menerus muncul di hutan yang dihuni satwa liar, yang menyebabkan ancaman terhadap penghuni satwa liar dengan bahan seperti nilon, tali, kawat, dan kabel digunakan untuk membuat perangkap, khususnya jerat. Perangkap yang sederhana dan sangat efisien, menimbulkan ancaman bagi berbagai macam hewan, termasuk gajah, harimau, dan monyet dan lainnya.
Untuk itu operasi pembersihan perangkap dilakukan bersama oleh Arara Abadi, salah satu unit pengelolaan kehutanan APP, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), dan masyarakat setempat yang dimulai dari wilayah konsesi Distrik Arara Abadi Nilo, dimana alam berbenturan dengan perambahan jerat.
Pihak Arara Abadi menyampaikan kepada media tentang urgensi inisiatif operasi sisir jerat hutan Indonesia. “Saat ini marak perburuan liar, jual beli satwa liar yang diambil dari alam yang dipasarkan secara terbuka baik daring maupun tradisional. Kemudian maraknya kematian satwa di alam, terutama gajah, harimau, beruang, tapir, dan rusa akibat jerat. Selain itu juga banyak kasus atau insiden satwa liar yang mengalami cacat fisik bahkan cacat permanen akibat jerat,” ujar Sunarko dari Arara Abadi.
Saat tim menjelajah lebih dalam ke hutan, pihaknya menemukan sisa-sisa jerat yang bengkok, yang telah merenggut nyawa tak hanya hama, tetapi juga gajah, harimau, dan makhluk lainnya. Masyarakat sekitar yang berjuang melindungi tanaman mereka dari hewan liar, secara tidak sengaja berkontribusi.
Keseimbangan yang rapuh antara kebutuhan manusia dan pelestarian satwa liar menggantung di udara, dan tim Operasi Sisir Jerat mendapati diri mereka menavigasi jarring. Ketiadaan jerat di area HTI membawa secercah harapan, tetapi pertempuran masih jauh dari selesai.
Syarif Hidayat, Kepala Bidang Keberlanjutan Hutan Arara Abadi, mengatakan perburuan liar merupakan ancaman nyata yang berdampak langsung pada penurunan populasi satwa liar. Alat yang digunakan oleh pemburu liar ilegal antara lain jerat (tali atau kabel), perangkap (lubang atau sangkar), racun, dan senjata api, termasuk senapan rakitan lokal. Banyak pemburu liar ilegal memasang jerat untuk mendapatkan spesies satwa liar.
Dalam menghadapi krisis kepunahan yang dipicu oleh jerat, Operasi Sisir Jerat diluncurkan sebagai sebuah front persatuan dari badan pemerintah, perusahaan, dan masyarakat lokal yang teguh, bertekad untuk mengubah nasib hutan Indonesia.
Kemudian Sunarko menyatakan perlunya upaya yang berkelanjutan dan diperluas. “Harapan kami adalah kegiatan semacam ini akan lebih ditingkatkan, dengan cakupan yang lebih luas untuk wilayah-wilayah di mana satwa liar yang dilindungi tumbuh subur. Kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk keamanan dan keselamatan satwa liar kita,” katanya menegaskan.@
App/fd/timEGINDO.com