APP Group: Restorasi Lanskap, Pembiayaan Karbon-Kolaborasi Global Diperkuat

suhendra
Suhendra Wiriadinata

Jakarta | EGINDO.com – Peran sektor swasta Indonesia dalam memperkuat aksi iklim global kembali mendapat perhatian. APP Group turut menegaskan komitmennya memperkuat solusi iklim berbasis alam, integritas pasar karbon, dan restorasi hutan tropis melalui pendekatan lanskap terpadu dan kemitraan multi pihak.

APP Group sebagai perusahaan berbasis sumber daya alam, APP Group menekankan bahwa kesehatan ekosistem merupakan fondasi utama keberlanjutan industri. Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata, menyatakan bahwa keberlanjutan kini menjadi bagian integral dari strategi bisnis perusahaan.

“Industri pulp dan kertas hanya dapat bertumbuh di atas lanskap yang sehat. Karena itu, investasi pada restorasi, teknologi pemantauan, dan kolaborasi multi pihak merupakan strategi bisnis untuk memperkuat ketahanan rantai pasok, menurunkan risiko operasional, serta membangun kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dilansir EGINDO.com pada Senin (23/3/2026).

Melalui platform keberlanjutan Regenesis, APP Group melanjutkan transformasi pengelolaan lanskap dari Forest Conservation Policy (2013) menjadi Forest Positive Policy. Kerangka ini mendorong investasi US$30 juta per tahun selama satu dekade untuk pemulihan ekosistem, pengelolaan gambut, konservasi keanekaragaman hayati, pengembangan karbon biru, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Seluruh komitmen tersebut mendukung target nasional FOLU Net Sink 2030, implementasi Article 6 Paris Agreement, dan penguatan tata kelola pasar karbon Indonesia melalui IDXCarbon. Dalam forum COP30, para pemangku kepentingan menekankan bahwa efektivitas restorasi hutan tropis memerlukan perpaduan antara pendekatan ilmiah, legitimasi sosial, dan pendanaan jangka panjang.

Sementara itu, Aditya Bayunanda, Direktur WWF Indonesia, menegaskan bahwa sektor swasta perlu memilih area intervensi yang strategis secara ekologis dan sosial. “Pilihlah area dengan habitat penting, keanekaragaman hayati tinggi, atau wilayah dengan jasa lingkungan yang beragam-bukan hanya karbon, tetapi juga air dan budaya yang perlu dilindungi. Area-area seperti itu memberikan nilai tambah dan membedakan posisi perusahaan di tingkat global,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Beria Leimona, Theme Leader CIFOR-ICRAF, yang menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi bergantung pada relevansi sosial dan keterlibatan masyarakat.

“Selain solusi berbasis sains, kita perlu memperhatikan aspek legitimasi. Mendengarkan pengetahuan ekologi lokal dan melibatkan masyarakat dalam proses negosiasi adalah kunci keberlanjutan. Pada akhirnya, kolaborasi sejati bertumpu pada pemberdayaan,” jelasnya.@

Bs/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top