Jakarta | EGINDO.com – Asia Pulp and Paper (APP) Group memanfaatkan sampah organik, dekomposisi mengungkap manfaat pengomposan. Sampah organik seringkali terabaikan, dibuang sembarangan ke tempat pembuangan akhir (TPA) tempat sampah tersebut terurai secara anaerobik, melepaskan metana gas rumah kaca yang sangat berbahaya. Namun, bagaimana jika dapat membalikkan narasi ini, mengubah sampah menjadi sumber daya yang berharga?
Dalam laman resmi APP Group yang dilansir EGINDO.com pada Rabu (10/12/2025) membahas tentang pengomposan praktik kuno mengubah bahan organik menjadi tanah yang kaya nutrisi. Pengomposan adalah proses sederhana dimana mikroorganisme, jamur, dan invertebrata menguraikan bahan organik seperti sisa makanan dan potongan rumput. Dalam skala yang lebih luas, pengomposan rumah tangga mengalihkan sampah organik dari TPA, yang jika tidak akan melepaskan metana, gas rumah kaca yang sangat berbahaya.
Manfaat kompos sangat beragam. Pada tingkat individu, yang dibutuhkan untuk mengubah sampah organik menjadi tanah yang kaya nutrisi hanyalah tempat sampah kecil atau tumbler untuk menjaga keseimbangan yang tepat antara “bahan coklat” yang kaya karbon (misalnya daun kering, kertas robek) dan “bahan hijau” yang kaya nitrogen (misalnya sisa buah/sayur, potongan rumput). Jika dilakukan dengan benar, kompos yang dihasilkan menjadi sumber daya terbarukan dan gratis untuk menyuburkan kebun dan halaman rumah.
Inisiatif pengomposan juga mulai mengakar di tingkat masyarakat. Program seperti yang dilakukan Kelompok Tani Mekar Jaya di Indonesia telah memanfaatkan pengomposan untuk meningkatkan kesehatan tanah dan produktivitas pertanian setempat. Studi menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 persen bahan organik tanah membantu tanah menahan 20.000 galon air lebih banyak per acre. Dengan mengumpulkan sampah organik, menjaga kondisi optimal, dan mendistribusikan kompos yang sudah jadi, program-program ini tidak hanya mengalihkan bahan dari tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga membangun ketahanan tanah dan mengurangi ketergantungan pada praktik pertanian berbasis bahan kimia yang boros air, serta memperkaya kebun, taman, dan lahan pertanian masyarakat.
Perusahaan juga memiliki peran penting dalam mempromosikan dan memanfaatkan pengomposan untuk mengurangi dampak lingkungan mereka. Banyak perusahaan kini menerapkan program pengomposan untuk mengalihkan limbah makanan dari operasional mereka, sekaligus menyediakan kompos untuk menyuburkan tanah setempat. Misalnya, beberapa restoran bermitra dengan inisiatif pengomposan komunitas untuk mengumpulkan dan mengolah sisa makanan mereka.
Para peritel juga memperkenalkan pilihan kemasan kompos, seperti lini Foopak Bio Natura, yang sepenuhnya bebas plastik, dapat terurai secara hayati, dan dapat dijadikan kompos, menunjukkan bagaimana inovasi material dapat melengkapi upaya pengomposan. Namun, manfaat pengomposan tidak hanya terbatas pada kebun dan pertanian. Saat sampah organik terurai di tempat pembuangan akhir (TPA), ia melepaskan metana, gas rumah kaca yang kuat. Menurut perkiraan terbaru, kehilangan dan pemborosan makanan menyumbang porsi yang signifikan dari emisi gas rumah kaca global, menyumbang sekitar 8-10% dari total emisi. Di saat yang sama, meningkatnya permintaan akan sumber daya lahan dan air untuk mendukung makanan yang terbuang ini memberikan tekanan yang semakin besar pada keanekaragaman hayati dunia.
Dengan mengalihkan sampah ini dari TPA dan mengubahnya menjadi kompos, kita dapat mengurangi jejak karbon secara signifikan dan berkontribusi pada sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Jadi, bagaimana Anda bisa memulai pengomposan? Langkah pertama adalah memilih metode pengomposan yang tepat. Menentukan pendekatan pengomposan terbaik bagi Anda bergantung pada ketersediaan ruang, volume dan jenis sampah organik yang dapat dikomposkan, serta tingkat komitmen Anda.
Ketersediaan Ruang: Apakah Anda memiliki halaman, teras kecil, atau hanya ruang dalam ruangan untuk digunakan? Hal ini akan memengaruhi jenis dan ukuran perangkat pengomposan yang dapat Anda tampung.
Volume dan Jenis Sampah: Pertimbangkan berapa banyak sampah organik (sisa dapur, sisa potongan halaman, dll.) yang Anda hasilkan dan bahan apa yang akan Anda komposkan. Komitmen Waktu: Pengomposan pasif dingin membutuhkan perawatan minimal, sementara pengomposan aktif panas membutuhkan lebih banyak perawatan langsung. Pendekatan pertama memungkinkan alam mengurai bahan selama 1-2 tahun dengan sedikit pengelolaan, sementara yang kedua membutuhkan waktu 4 minggu hingga 1 tahun untuk mencapai kompos yang dapat digunakan.
Apa pun pendekatannya, penting untuk mempelajari cara mengidentifikasi bahan mana yang cocok untuk pengomposan. Sampah organik yang sesuai meliputi sisa makanan (buah, sayur, kulit telur, ampas kopi, kantong teh), sisa tanaman (daun, potongan rumput, ranting, kertas robek), alas tidur hewan peliharaan (kertas robek, serbuk gergaji, jerami), serta kain katun dan wol.
Bahan-bahan yang harus dihindari saat pengomposan adalah daging, ikan, minyak, dan produk susu yang dapat menarik hama dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Bahan-bahan lain dalam daftar “yang harus dihindari” adalah tanaman yang sakit, gulma berbiji, dan produk yang tidak dapat dikomposkan seperti kayu olahan, plastik, logam, dan kaca. Pengomposan merupakan bagian penting dari proses transisi menuju ekonomi sirkular yang sesungguhnya.@
Bs/fd/timEGINDO.com