APP Group Dukung Hari Bebas Kantong Plastik Internasional, Tawarkan Produk Foopak Anchor Bio dan Enza White Kraft

Hari Bebas Kantong Plastik Internasional. (Foto: repro tunas hijau)
Hari Bebas Kantong Plastik Internasional. (Foto: repro tunas hijau)

Jakarta | EGINDO.com – Sejalan Hari Bebas Kantong Plastik Internasional diperingati pada bulan Juli, Asia Pulp and Paper (APP) Group memikirkan kembali plastik dengan seruan global untuk bertindak tentang bebas kantong plastik secara internasional. Sejalan dengan inisiatif pemerintah Indonesia, sektor swasta maka APP Group memainkan peran penting dalam memajukan praktik berkelanjutan dan mengurangi sampah plastik.

Dalam laman resmi APP Group yang dikutip EGINDO.com pada Rabu (17/6/2026) menyebutkan APP Group dengan produk unggulan seperti Foopak Anchor Bio dan Enza White Kraft bebas PFAS. Dijelaskan bahwa Foopak Anchor Bio, dengan papan kemasan kertas keras dan sifat thermoformingnya, ideal untuk wadah makanan siap saji dan makanan beku, menyeimbangkan kenyamanan dengan keberlanjutan.

Kemudian Enza White Kraft bebas PFAS menawarkan kertas ringan dan tahan minyak yang cocok untuk berbagai aplikasi kemasan makanan, memastikan kepatuhan terhadap standar FDA dan menggarisbawahi komitmen mereka terhadap keamanan dan keberlanjutan.

Sementara itu Hari Bebas Kantong Plastik Internasional, yang diperingati setiap 3 Juli merupakan hari penting yang mendorong manusia untuk mempertanyakan ketergantungan pada plastik dan mencari cara untuk mengurangi dampak buruknya terhadap planet bumi. Adanya seruan global untuk bertindak, mendorong individu, bisnis, dan pemerintah untuk memikirkan kembali penggunaan kantong plastik dan mengadopsi alternatif berkelanjutan yang melindungi lingkungan kita dan generasi mendatang.

Disebutkan kurang dari 10% plastik didaur ulang menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mengurangi penggunaan kantong plastik meluas yang telah berkontribusi pada degradasi lingkungan yang parah, mulai dari lautan yang tercemar hingga mikroplastik berbahaya dalam rantai makanan. Sejak tahun 1950, manusia telah menghasilkan lebih dari 9,2 miliar ton plastik dengan produksi melonjak dari 2,3 juta ton pada tahun 1950 menjadi 448 juta ton pada tahun 2015, dan diproyeksikan akan berlipat ganda pada tahun 2050.

Sebagai perbandingan, jumlah plastik jika dibentangkan, dapat membentang sepanjang jarak dari Bumi ke Matahari, yaitu sekitar 149,6 juta kilometer. Pengurangan polusi plastik yang efektif membutuhkan upaya bersama dari semua sektor masyarakat. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mempromosikan praktik berkelanjutan dan meminta pertanggungjawaban industri atas dampak lingkungan mereka. Namun, diperlukan kebijakan dan insentif yang berkelanjutan dan kuat untuk memajukan upaya memastikan keberlanjutan jangka panjang. Sektor swasta sama pentingnya, mendorong inovasi dan mengembangkan alternatif ramah lingkungan untuk plastik sekali pakai. Bersamaan dengan itu, tindakan individu sangat penting karena kebiasaan konsumsi yang bertanggung jawab dan dukungan terhadap bisnis yang berkomitmen pada keberlanjutan dapat secara kolektif mendorong perubahan positif.

Secara global, negara-negara sedang mengambil langkah signifikan untuk memerangi polusi plastik. Uni Eropah misalnya, telah memberlakukan peraturan ketat yang bertujuan untuk menghapuskan plastik sekali pakai, yang menjadi preseden kuat untuk mempromosikan alternatif berkelanjutan. Demikian pula, negara-negara seperti Kanada, Australia, dan berbagai negara Afrika telah menerapkan larangan dan pungutan pada kantong plastik, mendorong peralihan ke solusi yang dapat digunakan kembali dan menumbuhkan budaya tanggung jawab lingkungan.

Sedangkan di Indonesia, berbagai upaya signifikan sedang dilakukan untuk memerangi konsumsi plastik dan menerapkan praktik berkelanjutan, didorong oleh kebijakan pemerintah maupun upaya kolaboratif dengan sektor swasta. Inti dari strategi Indonesia adalah tujuan ambisiusnya untuk mengurangi sampah plastik. Inisiatif komprehensif ini bertujuan untuk mengurangi polusi plastik di lingkungan laut melalui sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, program daur ulang yang meluas, dan kebijakan ketat yang menargetkan plastik sekali pakai.

Peraturan melarang kantong plastik sekali pakai, sedotan dan Styrofoam menandai langkah maju yang signifikan dalam meningkatkan kebersihan lingkungan di Indonesia dan bertekad untuk memberlakukan larangan plastik sekali pakai secara nasional pada tahun 2029 mendatang.

Undang-undang yang akan datang dilengkapi dengan arahan bagi produsen untuk mengurangi kemasan plastik sebesar 30 persen, yang memperkuat komitmen Indonesia untuk mengatasi polusi plastik dari akarnya. APP Group mendukung mengurangi kemasan plastik dan memajukan praktik berkelanjutan dan mengurangi sampah plastik dengan produk unggulannya.

Melalui kemitraan strategis, APP memperkenalkan solusi ramah lingkungan dalam penerbangan menggunakan produk Enza dan Foopak. Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan pengalaman penumpang tetapi juga mendukung target ambisius Indonesia untuk mengurangi sampah plastik hingga 70% pada tahun 2025. Dengan memelopori solusi kemasan ramah lingkungan untuk peralatan makan, makanan, dan minuman pada penerbangan di seluruh Sumatera dan destinasi utama lainnya, Garuda Indonesia dan APP menetapkan tolok ukur untuk praktik berkelanjutan dalam industri penerbangan.

Penyediaan alternatif berkelanjutan dan ramah lingkungan oleh sektor swasta memberdayakan individu untuk membuat pilihan yang lebih ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan menawarkan produk yang mengurangi ketergantungan pada plastik, perusahaan seperti APP berkontribusi pada budaya tanggung jawab lingkungan yang lebih luas. Hal ini memberdayakan konsumen untuk secara aktif memilih produk yang selaras dengan nilai-nilai keberlanjutan mereka, mendorong upaya kolektif untuk mengurangi polusi plastik secara global.@

App/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top