APKI Ungkap Data Peluang Bisnis Pulp and Kertas Tahun 2024

Produksi pulp APP Sinarmas
Produksi pulp dan kertas APP Sinarmas

Jakarta | EGINDO.co – Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), konsumsi kertas per kapita Indonesia tergolong rendah di angka 32 kilogram (kg) pada tahun 2022. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Kanada, dan Jepang, mereka memiliki tingkat konsumsi kertas mencapai 200 kg per kapita. Hal ini menunjukkan adanya potensi untuk peningkatan konsumsi per kapita di pasar domestik.

Sejalan dengan itu Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menungkapkan peluang dan tantangan bisnis pulp dan kertas pada 2024. Pelaku industri pulp dan kertas akan memanfaatkan peluang dan mewaspadai sejumlah tantangan yang akan dihadapi industri Pulp and Kertas tahun 2024.

Kemudian permintaan akan kertas kemasan (packaging) dan tisu terus mengalami peningkatan di dunia. Era e-commerce dibutuhkan kemasan box atau sejenisnya kerap digunakan untuk mengemas paket barang yang dibeli oleh masyarakat. Tren gaya hidup sehat juga mendorong penggunaan tisu dan kertas untuk kemasan pangan yang dianggap lebih aman dan sustainable untuk lingkungan dibandingkan plastik.

Baca Juga :  Minyak Di Jalur Hentikan Turun, Pengurangan Produksi OPEC+

Sementara itu, emiten produsen kertas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) membukukan penurunan laba bersih hingga kuartal III-2023. Per 30 September 2023, laba bersih INKP anjlok hingga 50% menjadi US$ 320,88 juta. Jika dibandingkan periode yang sama sebelumnya, laba bersih INKP sebesar US$ 647,18 juta. Anjloknya laba bersih INKP disebabkan oleh pendapatan yang juga turun sebesar US$ 2,68 miliar hingga kuartal III-2023, angka tersebut turun sebanyak 10%. Pada kuartal III-2022, pendapatan INKP sebesar US$ 2,99 miliar.

Sementara TKIM juga membukukan penurunan laba bersih 61,15% menjadi US$ 134,08 juta hingga kuartal III-2023. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih TKIM sebesar US$ 345,18 juta. Pendapatan bersih TKIM juga menyusut sebanyak 8,21%, per 30 September 2023, pendapatan bersih TKIM sebesar US$ 812,63 juta. Pada kuartal III-2022, TKIM membukukan pendapatan bersih sebesar US$ 885,38 juta.

Baca Juga :  Indah Kiat Sebar Dividen Rp50 Per Saham, Nah Ini Jadwalnya

Ketua Umum APKI Liana Bratasida mengatakan, ada tantangan internasional dan domestik yang harus dihadapi oleh industri pulp dan kertas. Dijelaskannya dari sisi tantangan Internasional, dampak dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Sejak RCEP diberlakukannya pada 2 Januari 2023, industri kertas di Indonesia menghadapi tantangan serius dalam bentuk persaingan yang tidak seimbang.

Menurutnya, menimbulkan urgensi untuk diskusi bilateral antara Indonesia dan Tiongkok untuk menciptakan kondisi perdagangan yang lebih adil serta harus ada aksi mitigasi untuk melindungi industri di dalam negeri. Selain itu, Uni Eropa telah mengimplementasikan beberapa regulasi yang mempengaruhi industri ini, termasuk regulasi anti-deforestasi yang akan mendiskriminasi produk kertas Indonesia ke EU dan akan ada tambahan due dilligence yang harus dilakukan industri untuk patuh pada aturan EU serta regulasi Waste Shipment Regulation yang ke depannya akan membatasi pengiriman bahan baku kertas daur ulang dari EU ke industri di Indonesia.

Baca Juga :  APP Sinarmas; Kesadaran Etika, Mendorong Perubahan Positif

Sejalan dengan itu didukung dengan data ekspor kertas kemasan pangan Indonesia sebesar 18.000 ton di tahun 2022 di mana mengalami peningkatan sebesar 49,7% dari 12.000 ton pada tahun 2021. Investasi pada sektor ini juga tergolong tinggi dibandingkan industri agro lainnya. Berdasarkan datar dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2023, investasi industri kertas dan barang dari kertas di periode Januari – September 2023 mencapai Rp 39,11 triliun, baik Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menempatkan sektor ini di urutan kedua investasi terbesar di industri agro setelah industri makanan, Industri pulp dan kertas masih memiliki peluang yang begitu besar.@

Bs/timEGINDO.co

Bagikan :