Makassar|EGINDO.co Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pembenahan sektor riil dari sisi hulu menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional, memperkuat investasi, dan mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan berbagai persoalan yang membebani dunia usaha harus diselesaikan secara menyeluruh, mulai dari biaya produksi, ketersediaan bahan baku, mahalnya logistik dan energi, hingga efektivitas birokrasi serta regulasi. Menurutnya, hambatan tersebut dapat mengurangi daya saing sekaligus menghambat ekspansi usaha.
“Jika kita sungguh ingin mencegah PHK, kita tidak boleh hanya sibuk berdebat di hilir. Kita harus berani memperbaiki permasalahan hulunya,” tegas Shinta dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Apindo XXXV 2026 di Makassar, Jumat, (14/8/2026).
Shinta menilai PHK pada dasarnya merupakan dampak dari persoalan yang lebih panjang di sektor usaha. Ketika hambatan investasi dan produksi tidak segera diatasi, efek berantai terhadap penciptaan lapangan kerja juga ikut melemah. Pandangan serupa diberitakan ANTARA, yang menyoroti pentingnya pembenahan akar persoalan sektor riil untuk menjaga investasi dan lapangan kerja.
Sebagai langkah konkret, Apindo membentuk Task Force Debottlenecking Hambatan Berusaha yang bertugas mengidentifikasi dan mengawal penyelesaian berbagai persoalan dunia usaha. Saat ini, lebih dari 14 isu prioritas menjadi perhatian, antara lain pasokan bahan baku, harga gas, logistik, tata ruang, kewajiban pelaporan keuangan, RKAB mineral dan batu bara, sertifikasi halal, pengelolaan sampah, ekspor komoditas, sektor pariwisata, hingga penyempurnaan regulasi ketenagakerjaan.
Apindo berharap penyelesaian berbagai hambatan tersebut mampu menciptakan kepastian usaha yang lebih baik. Kondisi itu dinilai dapat mempercepat investasi, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja yang formal, produktif, dan berkelanjutan.
Media Tempo juga menyoroti persoalan biaya produksi, bahan baku, logistik, dan energi sebagai bagian dari tantangan struktural yang masih dihadapi dunia usaha.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Apindo menilai kebijakan jangka pendek saja tidak cukup. Perbaikan iklim usaha dari hulu, disertai penguatan investasi di berbagai daerah, diperlukan agar sektor riil dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan. (Sn)