Jakarta | EGINDO.com – Harga kelapa bulat di pasar internasional melemah sejak akhir 2025 hingga awal 2026. International Coconut Community (ICC) menilai penurunan ini bukan fenomena mendadak, melainkan bagian dari siklus normal pasar global yang dipengaruhi kombinasi faktor pasokan, kondisi keuangan global, hingga dinamika geopolitik.
Mengutip siaran pers Executive Director ICC, Jelfina C. Alouw, menjelaskan bahwa pelemahan harga terjadi setelah periode harga tinggi yang berlangsung cukup panjang sejak 2023 hingga 2025. Koreksi ini disebut sebagai fase konsolidasi yang wajar dalam mekanisme pasar komoditas. “Ini adalah penyesuaian alami setelah lonjakan harga yang berlangsung lama, bukan penurunan struktural jangka panjang,” tulis Jelfina dalam siaran persnya yang dilansir EGINDO.com pada Sabtu (31/1/2026).
Disebutkan salah satu penyebab utama tekanan harga adalah meningkatnya pasokan jangka pendek dari sejumlah negara produsen utama. Kondisi agronomis yang membaik pasca-El Nino mendorong produksi kelapa naik, sementara permintaan global tidak tumbuh secepat kenaikan pasokan. Kemudian tingginya suku bunga global membuat pelaku usaha dan pembeli internasional lebih berhati-hati. Importir menekan volume pembelian dan mengatur ulang strategi pengadaan untuk menjaga efisiensi modal kerja dan stok.
Kemudian tekanan juga datang dari pasar minyak nabati global. Minyak kelapa termasuk kelompok lauric oils bersama minyak inti sawit (Palm Kernel Oil/PKO). Ketika harga minyak nabati alternatif lebih kompetitif, permintaan terhadap minyak kelapa cenderung melambat. Pembeli global sangat responsif terhadap perbandingan harga antar minyak nabati.
Jelfina menjelaskan faktor lain yang turut menekan harga adalah ketidakpastian geopolitik global. Konflik regional, perubahan kebijakan dagang, dan meningkatnya tensi geopolitik membuat importir bersikap wait and see, bahkan menunda kontrak pembelian komoditas, termasuk kelapa dan produk turunannya. Dalam perdagangan internasional, ICC mencatat harga minyak kelapa (Coconut Oil/CNO) mengacu pada harga referensi global Rotterdam.
Pergerakan harga tersebut menjadi acuan utama transaksi dunia dan secara bertahap memengaruhi harga di negara produsen, meski dampaknya di tingkat domestik berbeda-beda tergantung rantai pasok dan biaya logistik. ICC juga menilai penguatan dolar AS tidak secara otomatis menekan harga kelapa. Dampaknya sangat bergantung pada skema kontrak, kondisi pasar minyak nabati, serta keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Sementara itu harga kelapa bulat di pasar internasional melemah sejak akhir 2025 hingga awal 2026 belum mempengaruhi harga kelapa bulat di nasional dan lokal. Sejumlah pedagang pemasok kelapa bulat di Medan Sumatera Utara yang ditanya EGINDO.com justru mengakui kurang mengetahui harga kelapa bulat di pasar internasional melemah sejak akhir 2025 hingga awal 2026.@
Bs/timEGINDO.com