Jakarta | EGINDO.com – Realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan pemerintahan saat ini terus menuai sorotan dari berbagai pihak dan berbagai aspek dari pelaksanaan MBG tersebut.
Pengamat sosial, ekonomi kemasyarakatan Dr. Rusli Tan, SH, MM kepada EGINDO.com pada Sabtu (10/1/2026) di Jakarta menanggapi tentang anggaran MBG yang tembus puluhan triliun selama tahun 2025 mengatakan pemerintah sebaiknya melakukan evaluasi yang mendalam dan membuka diri terhadap alternatif program lain yang lebih efisien. Anggaran yang menembus angka puluhan triliun rupiah, pemerintah harus sangat jeli dalam menghitung manfaat dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.
“Program ini harus dievaluasi dan pemerintah harus membuka diri untuk menilai apakah tujuan yang dikatakan awalnya untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat itu terwujud atau tidak. Apa benar roda perekonomian rakyat bergerak dengan program MBG tersebut,” katanya mempertanyakan.
Menurutnya, bahwa masalah utamanya bukan pada apakah program MBG itu dibutuhkan atau tidak oleh masyarakat. Namun, persoalannya terletak pada ketepatan anggaran untuk meningkatan perekonomian masyarakat sebagaimana yang dicanangkan pada awalnya dan dana dari uang rakyat atau APBN harus meningkatkan perekonomian rakyat atau untuk memastikan setiap rupiah uang rakyat memberikan hasil yang optimal.
“Saya kira sebaiknya uang Rp 15.000 kali 5 hari sekolah kali 4 minggu ditransfer langsung kepada rekening para murid sekolah. Bagaimanapun para orang tua murid lebih paham selera anaknya,” kata Rusli Tan.
Ditegaskannya oleh karena itu, disarankan pemerintah untuk tidak kaku dalam menjalankan program MBG. Evaluasi secara berkala diperlukan agar skema distribusi dan penyaluran gizi tersebut tidak menjadi beban fiskal yang sia-sia, melainkan benar-benar menjadi investasi sumber daya manusia yang terukur dan meningkatkan perekonomian masyarakat secara merata pada setiap daerah.
“Jika pembelajaan dan yang memasak makanan untuk anak-anak sekolah ditunjuk kepada orang tua murid maka akan terjadi peningkatan jual beli di pasar lokal domisili dimana para murid berada sehingga meningkatkan kegairahan transaksi para penjual dan para petani sayur-sayuran, beras, minyak goreng, telur, daging, ikan, bumbu kearifan lokal dan lainya maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Rusli Tan menjelaskan.
Ditambahkannya Pertanian dan Peternakan daerah akan termotivasi juga untuk berkembang secara meluas, walaupun berskala kecil tapi meluas dan berkembang. “Setahun program MBG, hal itu belum terlihat sedangkan anggaran MBG puluhan triliun selama tahun 2025 dari uang rakyat akan tetapi perekonomian rakyat tidak bergerak,” katanya menandaskan.@
Fd/timEGINDO.com