Analis: Rupiah Berpotensi Menguat Selasa, 28 November 2023

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Ekspektasi pasar terkait suku bunga acuan AS masih mendominasi pergerakan rupiah hari ini. Dalam penutupan perdagangan Senin (27/11/2023) kemarin, rupiah menguat 71 poin atau 0,46 persen di level Rp15.494 per dollar AS.

“Rupiah masih berpotensi menguat hari ini terhadap dollar AS. Karena ekspektasi suku bunga acuan AS tidak akan dinaikan lagi,” kata Analis Pasar Uang Ariston Tjendra dalam analisisnya, Selasa (28/11/2023).

Menurutnya, ekspektasi pasar The Fed tidak akan menaikkan suku bunga makin kuat. Ekspektasi yang kuat itu dipengaruhi oleh rilis data terbaru kondisi perekonomian di Negeri Paman Sam itu.

Diantaranya, data penjualan rumah baru di AS bulan Oktober yang mengalami penurunan (-5,6 persen) dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan penjualan rumah baru di AS disebabkan karena suku bunga KPR yang meninggi.

Baca Juga :  Blinken Mungkin Bertemu Xi Pada Hari Terakhir Di Beijing

“Indeks dollar AS juga terlihat semakin menurun. Indeks bergerak di kisaran 103,15, sebelumnya di kisaran 103,40,” ujar Ariston.

Pelemahan indeks dollar memicu penguatan mata uang lainnya di Asia, termasuk rupiah. Di dalam negeri, perekonomian Indonesia yang stabil juga membantu memberikan sentimen positif ke rupiah.

Ariston memproyeksikan potensi penguatan rupiah ke arah support di sekitar Rp15.439. Sedangkan  potensi resisten di kisaran Rp15.520 per dollar AS.

Berbeda dengan rupiah, para analis pasar modal memproyeksikan indeks saham hari ini akan mengalami bearish atau terkoreksi terbatas. Setelah dalam penutupan perdagangan Senin kemarin IHSG menguat 3,78 poin atau 0,05 persen di level 7.013.

Tim analis dari Phillip Sekuritas Indonesia Research memprediksi IHSG akan bergerak di level support 6.925 dan level resistance 7.090. Analisisnya menyebutkan, pergerakan indeks saham di pasar modal Indonesia masih akan dipengaruhi berbagai data ekonomi AS.

Baca Juga :  Jurnalis Perempuan Suarakan Isu Air Minum Dan Sanitasi

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun turun 8 bps menjadi 4.39 persen. Para investor mencoba menilai kondisi ekonomi AS dan menunggu rilis data ekonomi.

“Seperti Indeks Kepercayaan Konsumen dan Indeks Harga Belanja Personal. Ini dapat mempengaruhi kebijakan moneter,” kata Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia Research dalam analisisnya.

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :