Analis Indikasikan Rupiah Masih Akan Tertekan

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Para analis keuangan memproyeksikan pergerakan nilai tukar masih akan melanjutkan pelemahannya, Selasa (14/11/2023). Setelah dalam penutupan perdagangan kemarin, Rupiah lesu di posisi Rp15.701 dollar AS, turun 6 poin atau 0,04 persen.

Indikasi Rupiah masih akan melemah terlihat dari pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan DPR RI Senin kemarin. Perry menyampaikan data inflasi global yang masih tinggi dan tingkat imbal hasil surat utang (obligasi AS) yang tinggi sebagai penyebabnya.

“Inflasi global di tahun 2023 masih tinggi perkiraannya 5,1 persen. Begitu pula tahun 2024, inflasi akan menurun tapi levelnya masih tinggi di atas 3 persen,” ujar Perry.

Karena inflasi yang masih tinggi, suku bunga global juga diproyeksikan masih akan tinggi dalam waktu lama. Selain itu, tingkat imbal hasil obligasi AS juga tinggi, karena AS harus mencari dana untuk pembiayaan utangnya yang bengkak.

Baca Juga :  Pengamat Budiyanto: Peningkatan Aspek Keselamatan

Karena imbal hasil obligasi AS yang tinggi, terjadi aliran keluar modal asing dari negara-negara emerging, termasuk Indonesia. Para investor lebih memilih menempatkan modalnya kembali ke AS.

“Aliran modal yang besar ke AS membuat indeks dollar terus menguat. Dampaknya, nilai tukar rupiah melemah,” ucap Gubernur BI.

Analis pasar keuangan Ariston Tjendra dalam analisanya pagi ini juga memproyeksikan Rupiah masih berpotensi melemah terhadap dollar. Perhatian pasar masih sama, soal kebijakan suku bunga tinggi AS, konflik di jalur Gaza, dan pelambatan ekonomi.

“Malam ini, pasar akan menantikan data inflasi konsumen AS bulan Oktober. Data ini ditunggu pasar karena berhubungan erat dengan ekspektasi kebijakan suku bunga AS ke depan, sehingga rupiah versus dollar AS masih berkonsolidasi,” ujar Ariston.

Baca Juga :  Rabu Pagi Rupiah Melemah 22 Poin

Ia memproyeksikan, potensi pelemahan rupiah hari ini ke arah Rp15.750 per dollar AS. Sedangkan potensi support di sekitar Rp15.680 per dollar AS.

Sementara itu, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan cenderung naik. Pada penutupan Senin kemarin IHSG berada di zona hijau 6.838 naik 0,43 persen.

“Meski IHSG naik, tapi disertai dengan aksi jual atau net sell asing  sebesar 114 miliar rupiah. Saham yang paling banyak dijual asing adalah GOTO, BBRI, ASII, TLKM, dan MTEL,” kata  Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman.

Hari ini IHSG akan mencoba break resist kuat di 6.860. Level support IHSG berada di 6.750-6.800 dan level resist IHSG berada di 6.860-6.900.

Baca Juga :  Jumat Pagi Rupiah Melemah 15 Poin

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :