Anak Kebon Lintas Tiga Zaman, Tidak Sekadar Autobiografi

Buku H. Adlin Umar Lubis, Anak Kebon Lintas Tiga Zaman, ketika pameran buku di kampus UMSU Medan
Buku H. Adlin Umar Lubis, Anak Kebon Lintas Tiga Zaman, ketika pameran buku di kampus UMSU Medan

Medan | EGINDO.co – Anak Kebon Lintas Tiga Zaman, Tidak Sekadar Autobiografi. Judul buku, H. Adlin Umar Lubis, Anak Kebon Lintas Tiga Zaman. Kesan pertama tentang riwayat hidup (autobiografi) seorang Adlin Umar Lubis. Namun, ketika membaca tuntas buku itu bukan sekadar autobiografi. Buku yang disunting Ir. Fadmin Prihatin Malau, seorang jurnalis dan dosen itu berisi tentang perjuangan Bangsa Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tentang pendidikan tinggi ketika Indonesia baru merdeka, tentang perkebunan di Sumatera Utara semasa penjajahan Belanda, semasa pendudukan Jepang dan semasa ketika Indonesia merdeka.

Disamping itu buku dengan kontributor Dr. Ir. H.M. Edwin Syahputra Lubis, M.AgrSc berisi tentang kondisi Kota Pematangsiantar, Kota Medan, tentang kehidupan di perkebunan, tentang tenaga kerja di kebon, tentang organisasi kemasyarakatan, kemahasiswaan dan tentang perkuliahan pada masa Indonesia baru merdeka di kampus Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Ternyata sangat universal isi buku Anak Kebon Lintas Tiga Zaman, bukan hanya cerita tentang perjalanan hidup H. Adlin Umar Lubis. Buku itu menjadi universal berkat kepiawaian Fadmin Prihatin Malau sebagai penyunting ketika menuliskan perjalanan hidup seorang Adlin Umar Lubis yang ternyata orangtuanya yakni Umar Lubis juga semasa hidupnya di kebon zaman penjajahan Belanda.

Baca Juga :  Mengenal Suku Gayo Dengan Tari Saman Di Aceh Tengah

Perlawanan untuk merebut kemerdekaan terlihat dalam buku itu pada bagian ketiga, bersama orangtua di kebon (Ayah Dicari Belanda, Kakek Ditembak Belanda) pada halaman 75 tersirat bahwa sesungguhnya Bangsa Indonesia ingin mandiri, ingin berkuasa di tanah airnya sendiri, bebas dari intervensi bangsa lain.

Narasi dalam buku memberikan gambaran tentang Medan masa lalu, Pematangsiantar, Bahjambi dan perkebunan masa lalu. Banyak hal yang dipaparkan dalam buku tersebut, akan tetapi tidak terkesan gado-gado atau nano-nano sebab terangkai dalam kesatuan yang utuh dari bab ke bab sebanyak tujuh bab.

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto tempo dulu di kebun dan foto-foto keluarga Adlin Umar Lubis. Menjadi menarik karena tidak semata-mata menjelaskan tentang Adlin Umar Lubis tetapi juga tentang apa yang dilakukannya dan apa yang terjadi ketika itu sehingga menjadi catatan sejarah bagi Bangsa Indonesia. Kekuatan buku Adlin Umar Lubis, Anak Kebon Lintas Tiga Zaman karena apa yang dilakukan Adlin Umar Lubis dipaparkan tentang kondisi yang terjadi ketika itu seperti bagaimana sistem perkuliahan di Fakultas Pertanian USU Medan pada masa itu, bagaimana aktivitas dan organisasi mahasiswa ketika itu.

Baca Juga :  Gunung Marapi Meletus, Bandara BIM Sempat Ditutup Sementara

Begitu juga dengan kondisi perkebunan pasca Belanda meninggalkan Indonesia dan masuk Jepang ke Indonesia serta kondisi peralihan kekuasaan di perkebunan dari Jepang kepada putra-putri Indonesia.

Buku ini tidak bosan membacanya sebab bukan semata-mata menceritakan tentang Adlin Umar Lubis tetapi memiliki analisis peristiwa yang terjadi pada waktu itu dengan merujuk kepada apa yang dialami Adlin Umar Lubis dalam perjalanan hidupnya. Hal itu pula membuat menjadi memarik untuk dibaca sebab bisa membawa pembaca menyelusuri jejak-jejak masa lalu.

Adapun diskripsi buku tersebut sebagai berikut:

Judul               : H. Adlin Umar Lubis, Anak Kebon Lintas Tiga Zaman

Penyunting      : Ir. Fadmin Prihatin Malau

Kontributor     : Dr. Ir. H.M. Edwin Syahputra Lubis, M.AgrSc

Baca Juga :  Lapangan Merdeka Medan Bakal Jadi RTH, Walikota Banding

Penerbit           : Perdana Publishing, Medan

Cetakan           : Pertama, September 2018

Tebal               : 184 Halaman

ISBN               : 978-602-5674-72-3

Bahasa yang digunakan penyunting dalam menulis buku bergaya narasi sehingga menarik untuk dibaca dan memberikan gambaran suasana apa yang terjadi kala itu. Bukan itu saja karena ternyata Adlin Umar Lubis juga seorang penyair sebab syair-syair atau puisi yang ditulisnya ada dalam buku sehingga memperkuat nuansa yang terjadi kala itu. Puisi-puisi dari Adlin Umar Lubis yang lugas bercerita tentang kondisi yang dialaminya.

Sejatinya buku ini menjadi referensi untuk mengetahui kondisi perkebunan di Sumatera Utara pada zaman Belanda, Jepang dan ketika Indonesia baru merdeka. Disamping itu juga bagi siapa saja yang ingin mengetahui lintasan sejarah Bangsa Indonesia khususnya di Sumatera Utara.@

Rel/TimEGINDO.co

 

Bagikan :
Scroll to Top