Akun Email Direktur FBI Kash Patel Diretas, Kelompok Hacker ‘Handala’ Klaim Bertanggung Jawab

FBI Email Hacked

Jakarta|EGINDO.co Kelompok siber “Handala Hack Team”, yang oleh sejumlah otoritas Barat dikaitkan dengan Iran. Kelompok tersebut mengklaim telah menyebarkan lebih dari 300 email, dokumen pribadi, serta foto milik Patel ke ruang publik. FBI mengonfirmasi adanya pelanggaran, namun menegaskan bahwa akun yang diretas bersifat pribadi dan tidak memuat informasi rahasia negara. Data yang bocor disebut berasal dari periode lama, sekitar 2010 hingga 2022.

Kash Patel sendiri merupakan pejabat intelijen senior AS yang dikenal dekat dengan lingkaran keamanan nasional dan pernah memegang sejumlah posisi strategis di bidang pertahanan dan kontra-terorisme sebelum memimpin FBI. Perannya yang menonjol dalam isu keamanan membuatnya menjadi target bernilai tinggi dalam operasi siber.

Kelompok Handala bukan aktor baru. Mereka mulai aktif sejak akhir 2023, bertepatan dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah. Mengusung identitas sebagai hacktivist pro-Palestina, Handala kerap dikaitkan oleh analis keamanan dengan struktur atau dukungan negara Iran, meskipun tidak selalu diakui secara resmi.

Dalam rekam jejaknya, kelompok ini pernah mengklaim serangan terhadap sistem radar dan jaringan komunikasi di Israel, serta melakukan kampanye gangguan psikologis melalui pengiriman pesan massal kepada warga sipil. Mereka juga ditengarai menggunakan teknik spear-phishing untuk mencuri akses, serta wiper malware yang mampu menghapus data dan melumpuhkan sistem korban.

Otoritas Barat menilai peretasan terhadap Patel kemungkinan merupakan aksi balasan setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyita sejumlah infrastruktur digital milik kelompok tersebut. Pemerintah AS sendiri saat ini menawarkan hadiah hingga USD 10 juta untuk informasi yang dapat mengungkap identitas para pelaku.

Insiden ini kembali menegaskan bahwa konflik antara AS dan Iran tidak hanya berlangsung di ranah geopolitik konvensional, tetapi juga semakin intens di ruang siber, dengan pejabat tinggi menjadi target langsung dalam strategi serangan.

Sumber: media internasional dan pernyataan resmi.

AW

Scroll to Top